Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Album Trah

Category Archives: Album Trah

Archives

Anggaran Dasar Trah Sastrorejan

Atas rahmat dan ridho Allah SWT dan untuk menciptakan kerukunan Keturunan Raden Sastroredjo, berdasarkan hasil keputusan Musyawarah pada Acara Reuni I Tahun 1995 yang dilakukan pada tanggal 28 Desember 1995 di Magelang, dibentuklah suatu wadah yang diberi nama  “PAGUYUBAN TRAH SASTROREJAN”  sebagai  pengganti “PERDASA” (Persatuan Darah Sastrorejan) yang tahun 1962 dibentuk oleh sesepuh kita.

Dibentuknya “PAGUYUBAN TRAH SASTROREJAN” ini adalah untuk : (more…)

Advertisements

Berkirim Surat dan Sowan Bentuk bakti kepada orangtua

Bapak tidak bosan-bosannya, mengharap dari semua yang sudah berumahtangga, atau yang masih sekolah tapi di kota lain, agar selalu berkirim surat. Waktu itu tidak ada istilah “tidak ada waktu”, atau “tidak bisa kirim surat”, atau “takut salah”.

Saya ingat, waktu saya masih di MULO, mondok di Surabaya di rumah pak Achmad (adiknya Bapak), saya hampir tiap hari Sabtu pulang ke Bojonegoro. Walaupun di Surabaya hanya beberapa hari, itu pun Bapak mengharapkan agar saya mengirimi surat kepada mereka. Jadi, kirim surat waktu itu bukanlah karena “hobi” atau “lagi iseng”, melainkan karena diharapkan oleh Bapak/Ibu.

Hampir selalu kalau saya hari Sabtu pulang ke Bojonegoro, saya bawa daun sirih satu ikat untuk Ibu. Di Bojonegoro tidak ada sirih seenak itu untuk nginang. Kadang-kadang kalau uang saku saya masih tersisa, saya belikan kecap satu botol; kebetulan di sebelah kiri pondokan saya ada pabrik kecap.

Sesudah saya berumahtangga, bahkan sesudah tinggal di Bandung pun, mereka kadang-kadang kirim surat dan bertanya mengapa sampai satu bulan saya tidak mengirim surat. Tiap kali saya ke luar negeri pun mereka tetap mengharap menerima surat dari saya.

Tahun 1949 saya sebagai Kapten dikirim ke Kalimantan. Sesampai saya di sana, saya merangkap sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Rakyat (pendudukan Belanda dalam masa peralihan) untuk daerah yang sekarang disebut Provinsi Kalimantan Tengah. Ibukota Palangkaraya dulu disebut Pahandut. Gaji saya waktu itu secara resmi dobel, sehingga kadang-kadang gaji yang saya terima dari Belanda langsung saya kirim secara utuh kepada Bapak Ibu di Solo. Maklum, waktu itu saya belum mempunyai rencana menikah dengan tante Zus. Kadang-kadang saya kirimkan dalam bentuk bahan baju, yang saya ingat namanya “bembergzij, atau chiffon, atau brokat”. Waktu itu umur saya 28 tahun dan ada di antara adik-adik saya yang belum “mentas”.

Kami semua juga tidak lupa mengucapkan selamat pada hari ulangtahun mereka, karena mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang penting. Tiap lebaran kami semua “sowan ” ke Solo; tinggal di sana 3-4 hari untuk berkumpul-kumpul dan ”menyenangkan” serta menunjukkan bakti kepada orangtua, sebagai pernyataan terimakasih kepada Tuhan dan mereka atas didikan dan kasih sayang yang telah mereka berikan.

Begitulah didikan Bapak Ibu almarhum dan begitulah cara penghormatan kami kepada mereka.

Teladan Bapak Ibu : “Sayang anak”

Tulisan : Suparto (3.3.0.0)
Diedit oleh : Dwi Pramono (3.8.2.0.)

.

Waktu itu awal 1977. Saya sudah pensiun. Saya sowan ke Solo sendirian. Akan pulang ke Bandung dengan kereta api malam, berangkat pukul 21.00. Koper saya sudah siap, sudah tinggal sungkem dan memanggil becak. Ee, saya lihat Bapak busana (mengenakan pakaian) untuk bepergian. Saya tanya, “Pak, badhe tindak pundi?”

“Arep ngeterke kowe,” Jawabnya,
Saya jawab, “Lah, mboten sisah!”
Bapak, “Lho, ora apa-apa?  Wani dhewe?”

Bayangkan saja. Saya, umur waktu itu sudah 56 (lima puluh enam) tahun, sudah pensiun, punya anak sudah besar-besar; masih akan diantarkan ke stasiun karena dianggap belum berani sendirian.

Inti cerita: betapa pun juga besar badannya, tuanya, kedudukannya, hebatnya (menurut perasaan kita sendiri), orang tua (paling tidak Bapak dan Ibu) selalu menganggap kita masih sebagai anak (kecil), yang kadang-kadang masih mengharapkan dan memerlukan lindungan dan pertolongannya, seperti waktu kita masih anak-anak. Dan Bapak Ibu ternyata senantiasa siap, walaupun Bapak waktu itu sudah 85 (delapan puluh lima) tahun.

Bisakah kita meniru? Apakah anak-anak kita sendiri bisa menghargainya?

Pada kesempatan lain, Bapak Ibu juga menunjukkan rasa sayangnya kepada putra wayah melalui surat (petikan dari Album IV/1980) :

“…. Kedjobo saka iku, ing sarehne mangsa udan, lan lakune montormu iku adoh-adoh tur njetuur dhewe, mulane aku kepingin elik-elik. Luwih-luwih bareng Pomo kaja ngono kuwi (tabrakan), atiku tansah ora kepenak, mongko wis padha pinter-pinter njetuur. Nanging aku rumangsa sing nglahirake, dadi atiku tansah kelingan. Mulane Liek, kowe jen njetuur adja kesusu, adja rikat-rikat, lan sing prajitno, le.
Liek, jen arep budhal aja lali matja donga saka mbah Tjanggah, unine mangkene. Kulhu Allah, Ropoh Allah, Pager Allah, Pinageran dening Allah, Pinayungan dening Allah, Rineksoa dening Allah. La ilaha ilallah Muhammaddar Rasulullah. Adja nganti lali !
lbumu

Di bawah surat itu, Bapak menulis (sudah menggunakan EYD, ejaan yang disempurnakan):

“Welinge ibumu estokna! Donga panuwunan iku saya dikerepi hasile saya gedhe. Gusti Allah Maha Murah Maha Asih! Sapa kerep ndedonga, nelakake yen akeh anggone eling marang Sing Maha Kuwasa. Wasana muga pada raharja! Daag kabeh!”
.