Orek-orekan Dwi Pramono

Home » kini » Piring Terbang dan Usdek

Piring Terbang dan Usdek

Blog Stats

  • 56,708 hits

Archives


Bagi warga Mataraman (Solo-Yogya dan sekitarnya), tentu tidak asing dengan istilah piring terbang atau usdek kala menghadiri resepsi. Tapi ternyata ada keluarga dari jauh dan juga generasi anak (dan cucu) yang heran dengan tradisi unik ini, maka muncul ide untuk memotret dan menuliskannya sekilas (tentang piring terbangnya saja, bukan prosesi adatnya).

terbang

.


Tatacara resepsi pernikahan yang umum berlaku saat ini adalah standing party, dimana kita datang ke tempat resepsi, kemudian antri bersalaman dengan pengantin dan keluarga, dilanjutkan makan lalu pulang sambil mengambil souvenir (bisa juga souvenir diserahkan di awal saat mengisi buku tamu). Maka, ketika hari Minggu kemarin (17/04) kami menghadiri resepsi di Colomadu-Sala, keluarga dari Bekasi terheran-heran dengan penataan kursi di gedung. Apalagi saat kami menyampaikan bahwa dengan penataan ruang seperti itu, nanti penyajian hidangannya ala “piring terbang”.

Entah siapa yang mulai menggunakan istilah “piring terbang” ini, yang sebenarnya menggambarkan sekumpulan pramusaji menyajikan hidangan dalam piring-piring secara estafet ke deretan kursi para tamu. Memang kalau penyajiannya bersamaan nampak seperti piring beterbangan. 🙂 Tata urut penyajiannya pun sudah ada pakemnya, yang biasa disingkat USDEK. Pasugatan (jamuan) dimulai dari Unjukan (minuman, biasanya didampingi snack), Sop (makanan pembuka, tidak harus sop bisa juga varian lain), Dhaharan (makanan utama), Es (bisa es puter, es krim, atau cocktail), lalu Kondur (pulang).

20150519210630

Dalam resepsi ala piring terbang, para tamu tinggal duduk manis (di daerah tertentu ada pemisahan tempat duduk laki-laki dan perempuan), biasanya pihak keluarga disediakan deretan depan dekat panggung pengantin. Di atas meja sudah tersaji gelas unjukan/minuman. Teh (pasti nasgithel –panas, legi, kenthel– khas Sala) dibawa oleh para pramusaji dalam teko dan dituangkan masih dalam keadaan panas saat para tamu mulai duduk di kursi. Untuk tamu yang pantang atau menghindari gula, bisa meminta teh tawar atau air minum kemasan.

20150517102844

Hidangan (snack) pengiring minuman biasanya ada 2 atau 3 macam dengan kombinasi rasa manis dan asin/gurih. Kali ini yang dihidangkan adalah cake strawberry dan pastel panggang berisi daging ayam yang disajikan hangat sesaat sebelum “diterbangkan” para pramusaji (ini motretnya di dapur, jadi pastelnya belum ditata di piring).

sinoman

Barisan pramusaji siap “menerbangkan” hidangan pembuka. Pilihannya kali ini bukan sup tapi Selat Segar Solo yang berisi kentang goreng, wortel, selada, buncis, telur dan daging galantin dengan kuah bestik dan mayonaise Jawa. Segar sebagai hidangan pembuka dan disajikan dalam porsi sedang, tidak terlalu mengenyangkan.

20150517102603

Deretan piring makanan utama yang sudah diracik dan ditata sebagai hidangan utama. Dalam panduan yang disiapkan pihak catering dan dipasang di meja, hidangan utama ini dinamakan “Nasi Gunungsari”, yang terdiri nasi putih dan nasi kuning dibentuk conthong (kerucut) seperti gunungan. Lauknya sambal goreng kreni, terik daging, klengkam (irisan kentang tipis digoreng kering dan pedas), ragi (srundeng), udang goreng tepung, telur awur (dadar tipis diiris memanjang), acar kuning dan krupuk, disajikan di piring yang dilapisi daun pisang digunting melingkar.

nasi gunungsari

Nah ini “Nasi Gunungsari” sesaat sebelum dihidangkan, petugas dapur menambahkan nasi dwiwarna (nasi kuning di atas nasi putih) yang masih panas dan dicetak membentuk gunungan.

es puter

Kalau pasukan yang ini mulai beredar, menandakan acara sudah menjelang usai. Hidangan penutup yang disajikan kali ini adalah “Es Kembul”, yaitu es puter rasa kelapa kopyor dengan puding rasa strawberry di atasnya. Biasanya setelah hampir semua tamu nampak menikmati hidangan penutup, pengantin dan keluarga diiringkan ke arah pintu keluar, dan bersiap menyambut tamu yang berpamitan pulang sambil menyalami pengantin dan keluarga.

20150519210635 (1)

Foto bareng manten dan keluarga besar

Resepsi berdiri (standing party) maupun resepsi ala piring terbang (sitting party, mudah-mudahan benar istilahnya), tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagi orang-orang sibuk apalagi saat bulan baik ketika dalam sehari ada dua atau lebih undangan resepsi tentu standing party sangat membantu menghemat waktu. Sebaliknya pada resepsi duduk, para tamu tentu diharapkan mengikuti rangkaian acara sejak awal hingga akhir meskipun saat ini acaranya sudah disetting sekitar 2 jam atau tidak lebih dari 3 jam.

Satu hal yang menjadi perhatian saya, pada resepsi berdiri cukup banyak tamu yang “lapar mata” mengambil aneka hidangan dalam porsi besar tapi (akhirnya) tidak habis dimakan, sementara pada resepsi duduk relatif jarang piring bersisa karena porsi diatur secukupnya. Bagi tamu yang masih muda-muda yang merasa porsinya kurang, ada juga yang sengaja berpindah tempat supaya mendapat jatah dobel (kalau ini pengalaman pribadi). 🙂

Advertisements

6 Comments

  1. Slamsr says:

    Di gunungpati sekarang sudah mulai meninggalkan piring terbang pak.
    Cari praktisnya… Tinggal bawa piring kotornya

  2. yudi says:

    Kalau di Semarang dan pesisir utara umumnya, saya malah belum menemui tradisi ini, Slams. Di kampung-kampung pun jamuannya ala prasmanan.

  3. br tau nbr denger istlahnya, mirip2 rijsttafel…

  4. wah menarik ya pak, saya belum datang kondangan seperti ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: