Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Jalan-jalan » Ngopi di Kota Seribu Satu Warung Kopi

Ngopi di Kota Seribu Satu Warung Kopi

Blog Stats

  • 57,007 hits

Archives


Rangkaian tulisan “Jalan-jalan di Belitung Timur”

.

kopi

Selama kunjungan 4 hari 3 malam ke Kabupaten Belitung Timur (23-26/09/2013), kami menginap di Manggar, ibukota kabupaten Beltim. Di kota ini, warga punya tradisi ngobrol di warung kopi.

Berbeda dengan warung kucingan di Jawa Tengah yang biasa beroperasi malam hari, warkop di Manggar buka sejak pukul 4 pagi hingga larut malam.  Warung kopi ada dimana-mana di setiap penjuru kota, baik dengan tampilan modern maupun yang sederhana.

Yang unik, ada warung yang buka dari pagi sampai sore, ada pula yang hanya buka pagi saja, atau sore saja.  Warkop yang buka pagi ada di sepanjang sisi kiri jalan, sedangkan yang buka sore/malam berjajar di sisi kanan jalan. Semua warkop ramai karena masing-masing punya pelanggan sendiri. Bahkan ada pelanggan yang sehari 4-5 kali ngopi di warkop, padahal di rumah juga sudah disediakan kopi. Nampaknya bukan karena fanatik dengan jenis kopi tertentu atau cara penyajiannya, tapi karena warkop sekarang bukan lagi sekedar tempat menikmati kopi tapi juga menjadi sarana bertukarnya informasi dan komunikasi antar warga.

Pak Atet, generasi kedua Warkop AtetSalah satu yang terkenal dan tertua adalah Warkop Atet yang sudah membuka usaha sejak 1949. Hanya 10 menit perjalanan dari hotel sudah sampai di Jalan Lipat Kajang dimana Warung Kopi Atet berada. Meskipun bukan penikmat kopi, tentu sayang kalau melewatkan kesempatan ngopi dan melihat interaksi warga di warkop Manggar.

Kopi yang dihidangkan di Warkop Atet, yang pernah menjuarai kontes warung kopi teramai tahun 2011, berasal dari Lampung. Biji kopi robusta Lampung itu digiling lalu dimasukkan dalam saringan panjang dari kain halus, sehingga kopi yang tersaji sudah tidak tidak ada ampasnya.

Meskipun terkenal sebagai Kota Seribu Satu Warung Kopi, Belitung Timur bukanlah penghasil kopi. Selain minuman kopi yang dihidangkan, kopi yang dijual dalam kemasan kebanyakan adalah produksi Lampung. Mungkin akan lebih mengesankan bagi wisatawan bila Beltim memiliki merek kopi tersendiri yang dibranding sebagai “khas Beltim”.

suasana pagi di warkop "Atet"

Tentu bukan hal yang mudah untuk membangun brand image suatu produk semisal “Kopi Robusta Beltim”. Sebagai contoh, beberapa makanan yang diburu wisatawan di Semarang, kadang masih menyebutkan daerah asalnya, seperti Wingko “Babat” (Jatim) atau Bandeng “Juwana” (Pati). Namun kedua jenis makanan itu bahkan sudah “dianggap” khas Semarang

Yang pasti, kalau kita mendengar atau membaca …atau bahkan menuliskan kata kunci di google “Kota Seribu Satu Warung Kopi” yang muncul adalah Kota Manggar di Belitung Timur.  Mudah-mudahan keistimewaan ini bisa dipertahankan dan dipertajam oleh warga dan pegiat wisata di Belitung Timur.

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: