Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Kolom » Yang penting jalan, boss!

Yang penting jalan, boss!

Blog Stats

  • 56,544 hits

Archives


bis bobrok

Seorang teman –AM Ishak– menulis di timeline facebooknya tentang sebuah bis bobrok yang masih berkeliaran di jalanan kota Semarang. Memang memprihatinkan penampilan fisiknya, tapi masih pe-de berlalulalang di jalanan… mungkin malah kendaraan lain yang takut berdekatan 🙂

Kok bisa lolos uji kir? Ternyata memang materi dalam uji kir kalau saya baca di wikipedia tidak mencakup penampilan fisik kendaraan. Jadi, selama fungsi rem, lampu, sistem kemudi, dan syarat lain lulus, loloslah kendaraan beroperasi di jalan.

Sang ini tadi, sepulang sholat Jumat, tanpa dinyana bis bobrok itu parkir di depan rumah tetangga. Ternyata sopirnya tetangga RW, dia warga Watulawang (RW 8) dan saya di Kalilangse (RW 5). Nopol bis dan nama(sopir)nya nggak usah disebut, ya.. Seingatku bis ini nggak pernah parkir atau lewat kawasan ini. Atau mungkin setelah diposting pak Ishak di facebook, baru saya ada perhatian?

Tertarik dengan bis unik ini, saya ngobrol sekilas dengan sopirnya. Ternyata belum tua banget, bis ini buatan tahun 2002. Duluu.. namanya Hery Jaya” dan trayeknya sampai sekarang adalah Banyumanik-Terboyo. Dengan kondisi bis yang memelas seperti itu, ternyata mas X (sopirnya) masih bisa setor Rp 150 ribu sehari ke pemilik bis dan pulangnya masih mengantongi Rp 50-75 ribu. Berarti masih banyak penumpang yang mau naik bis ini dan tidak memedulikan penampilan fisik bis, yang penting sampai..

Pemilik bis bukannya tidak ada usaha untuk mempercantik kendaraannya. Tapi biaya yang dibutuhkan 50-60 juta terlalu mahal dibandingkan pendapatannya. Mungkin kalau sejak awal pemilik dan pengemudi rajin merawat, tentu kondisinya tidak sedemikian memelas..

Mbok ditutupi iklan aja.. #usul

Senyampang menjelang pemilukada di Jawa Tengah, bagaimana kalau para pasangan cagub-wagub pasang iklan di bis bobrok ini? Paling sederhana, spanduk MMT ditempel rapi menutupi sisi kanan kiri bis, mungkin hanya perlu biaya Rp 1-2 juta untuk produksi (belum termasuk pajak reklame). Memang bukan solusi terbaik, tapi masuk akal, kan? Daripada memaku poster2 MMT di pohon dan tembok? Pemilik dan pengemudi bis senang, (fotonya) cagub bisa jalan-jalan rute Banyumanik-Terboyo PP sepanjang hari, pengguna jalan yang lain juga nggak takut berdekatan. Semua hepi.. 🙂 Ntar di-mention ke twitternya para cagub, ah… siapa tahu dapat perhatian.. 🙂

*mention @ganjarpranowo  @bissamasukdesa @HP_Don_

Kalau mau lebih panjang masa tayangnya, mestinya produsen yang punya budget promosi bisa ditawarin pasang iklan sambil nutupi bopeng-bopengnya bis. Simbiosis mutualisme, kan?

Atau… nah, tadi sore ketemu dengan adik-adik komunitas grafity. Mengapa tidak memanfaatkan “kanvas nganggur” ini untuk bikin corat-coret nyeni? *mention ke @024streets

Sekedar asal usul.. 🙂

Advertisements

3 Comments

  1. usulnya diajukan lewat surat pak biar “terdengar” hihihi

  2. slamsr says:

    wah mungkin luarnya saja itu pak yang kaya gitu
    tapi larinya kenceng

  3. Aku jarang lihat bus seperti yg ada di foto itu di Semarang, mungkin apa gara2 jarang naik bus ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: