Orek-orekan Dwi Pramono

Home » opini » Pohon Besar Makin Langka

Pohon Besar Makin Langka

Blog Stats

  • 57,007 hits

Archives


Rian, ibunya, dan pohon besar di depan Radya Pustaka – Solo

Didut, blogger penggiat cinta lingkungan, menceritakan perihal penanaman pohon trembesi yang (diharapkan) akan jadi peneduh kawasan. Mungkin baru anak cucu kita yang akan menikmati teduhnya pohon-pohon trembesi itu, karena butuh puluhan tahun untuk mencapai diameter batang dan lebar tajuk daun yang “menyejukkan” seperti di foto ilustrasinya. Itupun dengan catatan, pohon tidak keburu ditebang dengan berbagai alasan dan keperluan.

Tapi dari tulisan Didut, saya jadi suka memerhatikan berapa banyak pohon besar sepanjang jalan yang saya lewati. Saya sebut pohon besar, kalau dua orang menggandengkan tangan masih belum bisa memeluk lingkar batang. Dari hasil pengamatan saya, –dan ini tidak mengejutkan– ternyata hanya sedikit pohon besar yang ada di kota Semarang (entah kalau di daerah pinggiran kota). Saya bilang sedikit karena  dalam satu ruas jalan mungkin hanya ada satu dua pohon besar.  Ini kriteria yang dibikin gampang aja, wong bukan survei ilmiah. 😀

Pohon besar dengan tajuk daun yang lebar tentu akan merindangkan dan memberikan kesejukan lingkungan yang dinaunginya. Lebih lanjut akan memengaruhi iklim mikro, seperti yang pernah diteliti Dewi, teman saya yang doktor hidrologi. Untuk Semarang, kota pantai yang panas, lebih banyak pohon dan ruang terbuka hijau sangat dibutuhkan untuk mengendalikan iklim mikro. Penelitian Dewi menemukan, kondisi iklim mikro (Semarang) secara keseluruhan termasuk kategori “sebagian tidak nyaman”, khususnya pada siang hari. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kurangnya vegetasi perindang di sepanjang jalan,

Memang akan menjadi tantangan bagi dinas pertamanan, untuk mempertahankan pohon besar, karena akan dihadapkan dengan keribetan kabel-kabel, macam-macam pekerjaan galian, papan reklame dan baliho. Tidak heran, pilihan pohon peneduh kota lebih mengutamakan yang cepat besar, dan cepet rimbun, meski tidak mampu bertahan belasan/puluhan tahun (periode yang dibutuhkan pohon untuk jadi “pohon besar”).

Sekilas pengamatan, di Jalan Sriwijaya –sekitarTBRS dan Perpuswil– masih ada sederet pohon Asam Jawa yang mungkin sudah puluhan tahun, lainnya sudah diganti Angsana. Di halaman SMA 1 dan SMA 3 (masih) ada pohon dengan diameter  besar,  juga di luar rumdin Pangdam (Taman Diponegoro), dan Reservoir Siranda. Duluuu, ada pohon randu alas di Jalan Diponegoro (Siranda) yang konon usianya lebih dari 100 tahun. Empat orang bergandengan baru bisa memeluk lingkaran pohon, yang waktu itu dihias dengan pahatan ornamen dan dilukis thema Semarangan (fotonya belum ketemu).

Sayang, saat ini saya lebih banyak bekerja di depan monitor komputer, jadi belum bisa kasih contoh lebih banyak. Kalau ada kesempatan jalan-jalan, saya ingin menginventarisir sebaran pohon besar di Semarang dan memotretnya. Mudah-mudahan, pohon besar yang masih eksis tidak sesedikit yang saya temukan. Kalau tidak.. yah memang Semarang akan sesuai dengan toponiminya… Sem-arang : asem (pohon besar) arang-arang… langka pohon besar.

Advertisements

12 Comments

  1. didut says:

    wah, kalau pohon besar saya hanya tahu yang ada di daerah Jomblang pak. Pohon beringinnya mungkin sudah ratusan tahun, menjulang tinggi dan diameternya sangat-sangat besar.

  2. slams says:

    ehem
    pak DP di gunungpati masi ada tuh pohon asem dan beringin yang gede di depan pos polisi gunungpati, tapi gak segede yg difoto. sejak dari kecil pohon itu sudah ada… dan sering dijadikan tempat tongkrongan.

    terus di depan kantor bupati ungaran ditaman dan alun alun juga ada pohon beringin super gede dan rindang hehehe

    • yudi says:

      Yo, Slams. Saya yakin untuk daerah tepi masih banyak pohon besar yang dipertahankan. Mungkin ada sajen juga di bawahnya saat malam yang disakralkan?

  3. wdz says:

    saya pernah sekali re radya pustaka kok gak ketemu pohon ini yaa pak?

    • yudi says:

      Pohonnya tertutup warung di depan Radya Pustaka, Wan. Batangnya ditembuskan atap warung. Ini foto waktu Solo Batik Carnival 2008. Mudah-mudahan saat ini pohonnya masih ada.

  4. maslie says:

    Di kampung saya masih ada tuh pohon beringin yang besar, Bahkan tepat di bawah pohon itu ada mata air yang mengalir deras dan di jadikan tempat pemandian

    • yudi says:

      Di Yogya, Lie? Itulah makanya beringin –terutama di lereng gunung– biasanya dipakai penanda adanya mata air (dan kemudian dikeramatkan)

  5. fathur says:

    baru 2 tahun ini pohon bulu besar, yang dulu 7 orang gandengan tangan gak nyampai. ditebang karo pak lurah..

    • yudi says:

      Dimana tuh, Fathur? Mungkin pertimbangan pak Lurah sama dengan saat randu alas Siranda ditebang: lebih banyak yang khawatir kalau pohonnya roboh dibanding yang pengin mempertahankan sebagai landmark.

  6. ease arent says:

    pak kalau boleh tau apa yang menjadi perbedaan antara pohon besar dangan pohon keci?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: