Orek-orekan Dwi Pramono

Home » kini » “Teror” Jalan Raya

“Teror” Jalan Raya

Blog Stats

  • 56,859 hits

Archives


mudik-bermotorSaat menunggu Menteri Agama mengumumkan keputusan Idul Fitri 1430H, saya justru tertarik membaca running text di layar teve yang menyebutkan korban tewas selama arus mudik sudah 184 jiwa sejak H-7 hingga H-1 lebaran. Masya Allah! Jumlah ini lebih besar daripada 80 korban tewas akibat bencana gempa bumi Tasikmalaya September 2009, bahkan berkali lipat lebih banyak daripada korban bom teroris di Hotel JW Mariots dan Ritz Carlton Juli 2009 (9 orang).

Informasi lebih lengkap saya baca di Republika yang menyebutkan 431 orang mengalami luka ringan, 219 orang mengalami luka berat, sementara itu jumlah korban tewas mencapai 184 jiwa. Maka, saya kira tidak berlebihan kalau saya menyebut kondisi jalan raya selama arus mudik sebagai “teror” (terror means menakutkan/ketakutan).

Tahun-tahun belakangan ini memang pemudik melalui jalan raya –khususnya pengguna sepeda motor– nampak meningkat luar biasa. Mereka seakan rela bertaruh nyawa demi mengejar murah. Bagaimana tidak?

“Mudik dengan motor berdua hanya membutuhkan biaya Rp 150.000 untuk pulang pergi, sedangkan bila ongkos bus pulang pergi bisa Rp 900.000 per orang.”

Banyak kalangan sebenarnya menyadari, mudik menggunakan sepeda motor sangat tidak dianjurkan karena risiko fatal akibat kecelakaan paling besar. Namun, melarang begitu saja tanpa memberi solusi tentu bukan sikap yang bijak.  “Jika pemerintah bisa menyediakan angkutan yang terjangkau, saya pasti memilih mudik tidak menggunakan motor.”

Memang dengan kondisi transportasi darat saat ini, tidak bisa dipungkiri tarif kendaraan umum jauh lebih mahal dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi terutama bila mengajak keluarga/rombongan. Belum lagi bila berkendaraan umum akan repot saat tiba di tempat tujuan, karena kemana-mana masih harus mengeluarkan biaya untuk angkot/ojek dll.

Saya sendiri yang terlibat dalam riuh rendah arus mudik ini juga merasakan betapa tinggi risiko terjadinya kecelakaan di jalan raya. Begitu banyak faktor internal dan eksternal yang memungkinkan munculnya risiko tersebut. Yang perlu disorot adalah ketidaktertiban dan ketidakdisiplinan (oknum) pengendara ranmor roda-2 dan plat kuning (bus). Kiranya bukan saya saja yang sering terkejut dengan kenekatan pengendara motor menggunting di depan kita atau menyalip dari kiri bahkan saat kita menikung ke kiri. Sedangkan bis, mentang2 tinggi besar mereka suka terus tancap gas di jalur lawan sampai kita harus mengalah menepi atau berhenti. Beruntung kalau bahu jalan rata dengan jalan atau kecepatan kendaraan kita masih dapat under controlled. Bila tidak? Wallahu’alam.

Faktor internal yang sering menyebabkan kecelakaan adalah mengantuk. Hal ini saya alami sendiri saat menyopir di ringroad selatan Yogya 18 Sept 2009 yang lalu. Saat itu mungkin puncak kelelahan akibat mengemudi dari Bandung ke arah Solo lewat jalur selatan, setelah semalam sebelumnya menyusuri pantura dari Semarang ke Bandung. Hanya sepersekian detik mata terpejam karena mengantuk, kendaraan melenceng naik ke marka jalan, terguncang, dan terlempar kembali ke jalan. Nampaknya jeritan anak-anak membangunkan saya sehingga dapat cepat menguasai kemudi dan …selamat.

Untunglah marka jalan tidak terlalu tinggi, beruntung juga saat itu menjelang dini hari sehingga tidak ada kendaraan di depan atau di belakang mobil kami.  Namun, tak urung butuh waktu untuk menenangkan diri dan menepi sejenak untuk istirahat. Bersyukur Allah hanya menegur saya dengan “kejutan kecil” itu,  dan masih memberikan kesempatan bagi kami untuk melanjutkan hidup.  Memang saya sadari, saat mengemudi saya sering “merasa sombong” .. sok mampu menahan kantuk. Maka, memang benar spanduk di jalan-jalan yang menulis “Kalau ngantuk jangan nyopir, kalau nyopir jangan ngantuk!”

Menutup artikel ini, saya hanya mempu menyampaikan keprihatinan dan turut berduka.. bahwa sekian ratus orang tewas atau luka di jalan raya sehingga tidak dapat merayakan hari raya bersama keluarga. Pelajaran yang mahal untuk kita semua,  bahwa korban “teror” jalan raya lebih banyak jumlahnya daripada korban bencana alam, namun nyatanya tidak kapok-kapok selalu diulang di tahun-tahun berikutnya.

Advertisements

10 Comments

  1. didut says:

    kl baca angkanya memang teror ya pak *untung lebaran gak mudik* 😛

  2. Niff says:

    bener sekali pak dp
    memang banyak yang harus diperbaiki
    jalan, sistem, maupun prilaku pengendara…

  3. eko raharjo says:

    Memprihatinkan mas Dwi. Saya kira perlu dibuat tempat-tempat peristirahatan Rest Area bagi pengemudi sehingga terhindar dari ngantuk dan kelelahan yang sangat.

  4. wedhouz says:

    teror di jalan raya justru mobil dan motor yang berdesak-desakan dari jatingaleh sampai dengan ampel pada lebaran hari kedua…

  5. dp says:

    Makasih untuk teman-teman yang kirim comment. Lha pagi ini tambah prihatin, menurut Kompas jumlah korban tewas sampai H+2 sudah 319 orang. .

  6. latree says:

    kalo lebaran harga tiket kendaraan umum juga lebih mahal dari hari biasa. bahkan bisa sampai 2kali lipat. tidak heran banyak yang milih naik motor. bagi sebagian orang mudik memang hal yang sangat penting sehingga diusahakan sekeras mungkin untuk bisa pulang, walaupun harus menanggung resiko…..

  7. wongsableng says:

    wah benar sekali pak yang diposting disinih, jalan ray emang teror heheh

  8. k1n6k0n9 says:

    wah tapi klo saya keasikan sendiri pak mudik pake motor, he…..

  9. bunsal says:

    Alhamdulillah, mudik Lebaran kemarin, tim mudik kami selamat selama perjalan PP..

  10. Slam says:

    untung slamet slamet, aku gak mudik mas
    keluarga disemarang semua….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: