Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Tempo Doeloe » Menyelusur pantai Pekalongan

Menyelusur pantai Pekalongan

Blog Stats

  • 57,438 hits

Archives


Kisah ini ada kaitan dengan rencana reuni teman-teman SMPN 1 “Perintis” Pekalongan lulusan 1977. Karena ada teman kami yang dosen dan penulis, dia ingin agar kisah-kisah “petualangan” masa remaja bisa dihimpun. Saya tidak tahu apakah cerita tempo doeloe ini cukup menarik bagi orang lain, tapi pengalaman ini cukup “wow” bagi diri pribadi.. mengingat saat itu usia kami masih 14-15 tahunan.

pantai1

Kami masih kelas 2 SMP. Bertiga saya, Pujo Semedi (sekarang guru besar Antropologi UGM) dan Mas Mamat (saat ini bekerja di perusahaan tambang di Balikpapan) berniat menyusuri pantai dengan rute Pekalongan sampai Semarang. Persiapan ala Pramuka sudah dilakukan karena waktu itu memang kami bertiga termasuk tim inti pramuka SMP. Tanggal peristiwa tidak tercatat, tapi —kebetulan sekali– foto-foto masih tersimpan.

Masih dekat-dekat Pekalongan sudah capek menggendong ransel… akhirnya digeret saja. Saat menyeberang muara sungai (mungkin sudah di perbatasan Batang), ada ular laut kira-kira sepanjang 2 meter yang mengarus ke arah laut di depan saya menyeberang. Wah, saya ndremimil berdoa supaya si ular tidak melirik. Ternyata memang dia sedang kenyang, jadi lewat saja dengan cueknya.

pantai4

Jarang ada tempat berteduh di sepanjang pantai. Kalau ada pun semacam tumbuhan bakau yang daunnya tidak rimbun karena waktu itu musim kemarau. Malah saya baru tahu kalau tumbuhan bakau ada buahnya.

pantai3

Bayangkan! Menyusuri pantai yang puanas terik dengan berjalan kaki. Bekal air sak jerigen segera habis, tuh! Kalau nggak salah, malam pertama kami nginap di pinggir pantai, mungkin masih sekitar Batang, karena alas roban waktu itu belum nampak. Lambat banget jalannya, pagi sampai sore mungkin cuma dapat 10-15 km)

pantai2

Hari kedua (apa sudah hari ketiga, ya?).. sudah mulai home sicknes. Entah siapa yang mulai kangen rumah, apakah saya atau Pujo. Bekal makanan dan minum habis, kepala panas dan gejala dehidrasi, akhirnya sepakat cari desa terdekat, untuk…. pulang!

[Tambahan dari mas Mamat]: Sebenarnya ketika Pujo dan saya [dp] mulai mengalami homesickness, Mas Mamat masih ngotot melanjutkan perjalanan sampai akhirnya kami terkendala dengan muara sungai. Mau nyewa perahu, yang ada hanya perahu nelayan yang sedang tidak beroperasi. Kalau ada nelayannya pun jelas jelas kami tidak ada uang, lha wong pengelana kere koyo ngene, duit soko endi? (lupa itu muara sungai mana, yang jelas tidak jauh dari alas roban).

Akhirnya kami berjalan menjauhi laut sampai ketemu rel kereta. Ringkas kisah, kami menemukan setasiun Kereta Api HALTE ALAS ROBAN (banyak yang nggak tahu atau gak sadar bahwa di alas roban sampai sekarang pun masih ada setasiun kereta api). Akhirnya kami pulang ke Pekalongan naik kereta api yang duduknya berhadap-hadapan seperti naik angkot, jendelanya tanpa kaca… penumpangya para pedagang lintas kecamatan, lengkap dengan sayur mayur dan ada kambing juga di kereta kluthuk itu.

[Tambahan dari Prof. Pujo Semedi] : “.. karena aku merasa tidak sukses dengan perjalanan itu, belasan tahun kemudian aku berjalan lagi, sendiri, sampai ke wilayah perkebunan karet Subah. Lantas tahun 2006 lalu aku berjalan lagi di jalur yang sama … mengamati kegiatan anak-anak SMA…”

 

 

Advertisements

2 Comments

  1. denie says:

    petualangan yang sangat menarik,maaf dulu dari smp mana bapak?

  2. yudi says:

    saya dari smp1 “perintis” pekalongan lulusan 1977. Sekarang nama “perintis”-nya sudah nggak dipakai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: