Orek-orekan Dwi Pramono

Home » kini » Colocasia Giganteum

Colocasia Giganteum

Blog Stats

  • 56,708 hits

Archives


talas2Mungkin saya ini penggemar tanaman hias abal-abal, karena sampai sekarang pun saya belum paham, mengapa orang suka membuang duit jutaan untuk anthurium gelombang cinta yang “cuma sekumpulan daun”. Juga merasa aneh, kalau ada yang senang mengoleksi ephorbia yang tangkainya duri melulu. Mungkin juga selera saya yang jadul, nyatanya kalau lihat koleksi anggrek atau begonia bisa berlama-lama, bahkan bisa melototin serumpun anggrek dari berbagai sudut (cuman melotot aja, karena nggak punya koleksinya..) 😀

Suatu ketika saat nonton pameran flora, saya tambah heran.. ada talas bertangkai ungu kehitaman dijual jutaan rupiah. Senthe wulung, namanya. Lah.. itu kan tumbuh sak karepe dhewe di bawah pohon mangga belakang rumah? Tapi, setelah itu jadi bertambah perhatian pada talas dan saudara-saudaranya, keluarga keladi. Kebetulan memang ada beberapa jenis di rumah. Koleksi murah meriah.

Satu “koleksi” saya yang istimewa –menurut selera saya– adalah talas raksasa. Namanya latinnya keren,  Colocasia Giganteum (dapat nama ini juga dari wikipedia,  khusus dicari biar judul artikelnya sok keren). Sebenarnya dia “hanyalah” talas, yang biasa ditanam di pinggir-pinggir pematang atau bahkan tumbuh sendiri di pinggir jalan. Di rumah ada beberapa pucuk talas yang dulu dibawakan tukang kebun kami yang rumahnya Bandungan.

rizka2Tapi mungkin seperti manusia juga, sesaudara ada yang ganteng tinggi besar, sementara adiknya kecil imut kayak saya (minus imutnya). Talas yang di rumah ada satu yang tumbuh meraksasa sementara yang lain biasa-biasa saja. Herannya yang tumbuh buesar ini justru di tempat buangan.. bukan di taman. Seperti cerita sinetron, talas yang ditanam asal-asalan, mojok di bawah mangga, malah pengin menunjukkan eksistensinya dan tumbuh meraksasa.. sementara yang di taman indah malah jadi manja.

Maklum, namanya juga kolektor abal-abal alias palsu, saya jadi gumun.. karena saya ukur dari pangkal batang sampai ke ujung daun panjangnya 2,5 meter. Daunnya sendiri, sisi yang terlebar 80 cm, sisi panjang sampai 1,2 meter. Ada 5 daun sebesar itu dalam satu pangkal, saya potong satu khusus untuk difoto.

Yang masih menjadi tanda tanya, si raksasa ini tumbuhnya di tanah urugan yang banyak kerikil dan pecahan sisa tembok. Sementara saudara-saudaranya di tanah taman full pupuk kok malah biasa-biasa saja. Mungkin bisa jadi contoh untuk para motivator atau tukang cerita, bahwa potensi sering muncul justru dalam situasi sulit dan terbatas.

Lho, kok malah ceritanya belok ke motivasi? He.. he.. alesyan, buat menutup artikel. Tabik!

Advertisements

8 Comments

  1. Satrio says:

    sama pak… temen saya juga saking tergila2nya sama apa tuh bunga gelombang cinta sampe beli banyak… skarang malah bingung mau dijual juga ga laku… hahaha… kayaknya ni termasuk trend 2009 yang di tret tu ya pak?

    http://satrioaja.wordpress.com/2009/01/12/demi-hengpon-jualan-gelombang-cinta/

  2. kisanak says:

    Karena kondisi yang terbatas kita jadi terpacu untuk mengerahkan segenap kemampuan

    Nice post!!!

  3. -lie- says:

    Saya juga punya pohon talas, tepat di depan jalan masuk ke rumah. Kalau buat background foto bagus banget

  4. ninaz says:

    lho jangan dikira talas itu tumbuhan ecek2 pak,…buktinya dia ngetop jadi peribahasa…bagai air di daun talas…tak ada rotan talas pun jadi…serigala berbulu talas…empat kali empat di daun talas..sempat tidak sempat harus dibalas..*opo to ki*

  5. Flo says:

    Salam kenal pak. Wah, kebetulan sekali pak saya lagi nyari keladi/kerabatnya keladi yg jenis raksasa. Saya sampe muter2 kemana-mana belum dapat juga sampe sekarang. Saya mau pak, talas raksasanya, boleh dikirim ke tempat saya,
    .+

  6. danindra says:

    waduh..
    ketiwasan pak..
    lha saya baru ngerti ne njenengan kolektor bunga.
    saya kemaren dioleh2in tetangga dari nyari kRoto dihutan nemu lompong senthe.yg tales ubi item itu.
    kemaren dibawa om saya.
    ngerti njenengan kerso saya bawakan.
    gelombang cinta kerso pak?
    nek belum punya nanti saya bawaken dari rumah.
    he3x..
    -ini serius-

  7. […] musim kemarau belakangan ini, saya mengamati tanaman talas  di kebun rumah menguncupkan daunnya. Saya ingat pelajaran biologi waktu SMP-SMA, perilaku talas ini untuk […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: