Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Keluarga » Yogya yang ngangeni

Yogya yang ngangeni

Blog Stats

  • 56,544 hits

Archives


tugusepiaKota Yogya sebenarnya hanya mampir sebentar dalam perjalanan hidup saya, yaitu waktu balita saat bapak dapat tugas belajar di HESP (sekarang Fisipol) UGM (1963-1965), dan saat saya sendiri kuliah di Geografi UGM (1981-1986). Tapi dalam periode singkat itulah mungkin yang memberikan pengaruh besar pada perkembangan pendewasaan diri. Khususnya periode tinggal di asrama, kemudian periode sebagai aktivis mahasiswa. Sehingga setiap kali menyebut Yogya.. selalu ada keinginan  dan rasa kangen untuk berkunjung kembali.

Meskipun Semarang-Yogya terhitung dekat, tapi kunjungan ke sana relatif jarang, karena ternyata tidak mudah mengatur libur bersama dengan anak-anak yang sudah mulai ABG. Saat membuka-buka album lama, ternyata setiap akhir/awal tahun hampir selalu ke sana. Sebetulnya tidak ada lokasi yang secara spesifik menjadi tujuan, tapi tiga-empat tahun terakhir pasti selalu mampir ke Mirota Malioboro maupun yang di jalan Kaliurang.

manequin

Yang ini di Mirota jalan Kaliurang, 26 Desember 2008, saat liburan akhir tahun. Belum pernah sebelumnya perjalanan dari Semarang ke Yogya sampai makan waktu 6 jam. Byuh, macet sejak Magelang, apalagi di dalam kota!.  Untungnya tujuan ke sana hanya piknik, jadi anak2 enjoy saja. Di Mirota, belanjanya sih dikit.. seneng aja lihat barang-barang kerajinan dan aksesori aneka rupa yang unik.

surjan

Bapak ini (sempat nanyain namanya tapi lupa), katanya putra dari mbah putri yang menjadi semacam “maskot” di Mirota Beringharjo/Malioboro. Jadi ibu dan anak menjadi maskotnya Mirota. Yang di Malioboro, masih sehatkah beliau sekarang? Menilik usianya yang kelihatan sudah sepuh sekali.

kolam

Soal kuliner, banyak tempat di Yogya untuk cari makan enak. Tapi yang sering jadi jujugan kalau keluarga kami ke Yogya adalah Lesehan “Moro Lejar” di daerah Pakem (Jl. Kaliurang) yang laris sekali dikunjungi warga sekitar Yogya bahkan nampaknya lebih banyak yang dari luar kota.

ugm-boulevard

Yang juga menyenangkan adalah berputar-putar sekeliling kampus UGM. Dulu semasa kuliah, kolam buatan baru saja diresmikan dan masih relatif sepi. Sekarang, mulai dari gerbang masuk di selatan (Gelanggang Mahasiswa) hingga kawasan mBarek (utara), juga dari timur sampai ke RS Sarjito di barat  ramai dengan mahasiswa diskusi dan banyak yang menenteng laptop. Nampaknya hampir semua lokasi sudah tersedia hotspot. Suasana kampusnya terasa sekali.

Libur panjang menjelang imlek ini (24-26 Januari 2009) anak-anak juga pengin jalan-jalan ke Yogya. Gantian kami –bapak ibunya– yang tidak bisa karena ada tugas yang harus diselesaikan. Yah, next time dijadwal lagi. Masih banyak lokasi yang belum dikunjungi, dan salah satu yang masih menjadi obsesi : nonton open theatre Sendratari Ramayana.

Advertisements

2 Comments

  1. Herry says:

    Pak Yudhi, lha aku itu kan orang asli Yogya (bapak, mbah, bahkan mbah buyutku asli Yogya), tapi aku merasakan kehidupan Yogya ya waktu kuliah (dan di asrama Realino tentunya). Jadi hanya beberapa tahun saja. Tapi kesannya sangat ngangeni. Banyak teman, banyak kegiatan yang bisa aku kerjakan selama di Yogya. Aku pernah ngamen di sepanjang Malioboro bareng Irba, Nyong dan adikku, juga pernah jualan rujak eskrim waktu mencari dana untuk ikut Lomba Paduan Suara Mahasiswa di ITB Bandung.
    Sayangnya kita belum berjodoh untuk sama-sama bernostalgia di Yogya ya? Mudah-mudahan satu saat bisa terwujud. Oke?
    Salam untuk keluarga.

  2. ummy nadhifah says:

    Tunggu kdatanganku di Yogya….
    ok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: