Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Keluarga » Dhita, sweet seventeen

Dhita, sweet seventeen

Blog Stats

  • 56,510 hits

Archives


hadiah sepasang kelinci dari teman2 DhitaMalam tahun baru kemarin (31/12/08 ) sangat mengesankan bagi keluarga kami. Kebetulan 31 Desember juga tanggal ultah mbarep kami, Dhita, yang tahun ini genap 17 tahun.

Merayakan ulangtahun memang bukan tradisi keluarga kami, tapi untuk sweet seventeen, yang oleh para remaja dianggap “angka keramat”, bolehlah sedikit dirayakan. Dhita sendiri tidak pengin dipestakan, hanya minta ijin mengundang sekitar 40 teman KS-nya  (Korps Soeringgit, kelompok pramuka inti SMA3) untuk sekalian malam tahun baruan di rumah. Siangnya, Dhita mengirim nasi kuning ke panti asuhan yang seminggu sebelumnya menjadi lokasi social care bersama teman-teman sekelasnya.

kado kue tart dari teman2 DhitaSepulang sekolah (ada pelajaran ekstra buat kelas 3), teman2 Dhita sudah ada yang datang., padahal undangannya jam 8 malam. Rupanya mereka membawa kado… 2 ekor kelinci imut (favorit animalnya Dhita).  Sore dan malamnya susul menyusul teman-teman lainnya berdatangan. Rupanya mereka sudah merancang acara sendiri untuk “ngerjain” yang ulang tahun. Kami hanya menyediakan sate ayam plus lontong dan jajanan ala kadarnya. Belum 30 menit disajikan, hidangan sudah “bersih.” Bahkan bumbu kacang dan lontong pun tak bersisa… Jan, semego, tenan!

kayak nonton layar tancapNamanya juga anak2 remaja, suasananya rame byanget. Ada yang gitaran dan nyanyi-nyanyi, ada yang main kartu, sebagian lagi nonton Harry Potter di TransTV yang saya tayangkan dengan proyektor ke screen besar. Kayak nonton layar tancap, kalau idolanya muncul dan beraksi mereka tepuk tangan dan sorak-sorak. Saat jeda iklan, nyanyi-nyanyi lagi.

Memang remaja seusia mereka bawaannya lapar melulu. Jagung manis yang disediakan untuk bakar-bakaran juga laris manis. Padahal mereka membakar dan membumbui sendiri yang banyak gosongnya.

Menjelang detik pergantian tahun, mereka berlarian ke halaman depan rumah karena sudah mulai terdengar letusan mercon dan kembang api. Dari rumah kami, pemandangan ke arah selatan (perbukitan Gombel) jelas sekali. Jadi nonton pesta kembang api tak perlu ke TKP. Sebentar kemudian, dari balkon Rizka teriak-teriak memanggil.. yang di arah utara (pantai Marina/PRPP) pesta kembang apinya lebih meriah dan spektakuler.

Tambah larut, bukannya mengantuk… mereka malah tambah gayeng nyanyi sambil guyon sampai terbahak-bahak. Saya mengingatkan agar jam 1 sudah mulai silent.. ternyata masih bablas.. Akhirnya sekitar jam 2 dini hari, dengan agak memaksa saya minta mereka masuk ke rumah.. (pengalaman galak jadi ‘satpam kos-kosan‘). Anak-anak perempuan tidur di kamar Dhita (12 orang), yang cowok-cowok digelarin karpet di ruang tengah (11 orang..dikoreksi Dhita, katanya 17 orang).. yang lain sudah pulang dijemput ortu atau pulang sendiri.

jadi wisdom sejenak di akpolPagi subuh, mereka sudah “berkicau” lagi.. (apa nggak pada tidur, ya?). Yang cewek-cewek “berwisata” ke Akpol (tinggal nyebrang, sih). Yang cowok2 pindah ke teras nyanyi-nyanyi (lagi). Jam 7:30 sarapan, meskipun hanya dibuatin serba goreng (bakmi, mihun dan sosis), semua disapubersih oleh anak-anak. Ndhemenakake tenan.

Acara bubaran sekitar pk. 8;30 pagi tadi, karena yang cewek-cewek nggak jadi pada berenang ke Patrajasa.  Karena cukup banyak foto-foto lain, albumnya kami kumpulkan saja di photobucket.

Advertisements

1 Comment

  1. Satrio says:

    met ultah buat anaknya ya pak dwi…

    masih single kan? *hehehehe*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: