Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Kolom » Asmarandana Wasita Rini

Asmarandana Wasita Rini

Blog Stats

  • 57,007 hits

Archives


Ditetapkannya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu adalah untuk memperingati diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia ke-1 pada tahun 1928. Kongres tersebut diadakan akibat pengaruh langsung adanya Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Kaum perempuan pada waktu itu tergerak untuk mengadakan kongres serupa, dipimpin oleh Nyi Hadjar Dewantara (dari Wanita Taman Siswa), Ny. Sukonto (Wanita Oetomo), dan Nn. Sujatin (Ny. Sujatin Kartowiyono), tokoh muda dari Puteri Indonesia.

Peran Ibu

sebagai bangsa Indonesia, sepatutnya kita merasa bahwa pemerintah menetapkan suatu hari peringatan bagi kaum ibu, berarti bahwa bangsa kita memandang kaum ibu atau kaum perempuan pada umumnya mempunyai kedudukan yang amat sangat terhormat (tidak ada lho namanya Hari Bapak).

Kaum ibu dapat dikatakan sebagai penentu kelangsungan hidup bangsa di masa datang, sebab dari kaum ibu diharapkan lahir generasi penerus yang akan mengisi kehidupan selanjutnya. Kepada kaum ibu digantungkan harapan atas kelangsungan hidup suatu bangsa dan perbaikan jenisnya.

Betapa sebenarnya berat sekali tugas kaum wanita. Sejak masa anak-anak, masa remaja, kemudian menginjak akil baliq (dewasa), berumahtangga, dan kemudian mengandung janin yang menjadi cikal bakal anak keturunannya dan sekaligus penerus kelangsungan bangsanya. Penuh bahaya dan penuh penderitaan, namun masih juga diwajibkan untuk selalu menjaga dirinya, tingkahlaku, dan ucapannya, guna selalu memperlihatkan kesucian, keluhuran, dan keanggunan, dimana pun dan dalam keadaan bagaimanapun.

Ki Hadjar Dewantara (tokoh pendidikan nasional dan budayawan) berpendapat, bahwa wanita berarti “wani-nata” (berani menata). Menatake hidupandirinya, lingkungan keluarganya dan anak keturunannya. Termasuk pula menata tingkah laku, menata budayanya, agar dalam keadaan bagaimana pun tetap mampu menjaga kesucian, keluhuran, dan kelangsungan hidup ini ke arah yang benar.

Dalam menggambarkan pendapat tentang dan nasehatnya kepada wanita, Ki Hadjar Dewantara mewujudkannya dalam tembang Asrnarandana sebagaimana dikutip di bawah ini :

Asmarandana Wasita Rini

Jatine Wasita Rini, ing jaman kuna Ian mangkya, yakti tan ada bedane. Karone harsa rumeksa, marang para wanita. Mrih suci miwah rahayu, luputa ing sambekala.

Pokok ajaran kewanitaan, di jaman dulu dan sekarang, sungguh tak ada bedanya. Kedua-duanya ditujukan untuk menjaga para wanita, agar suci serta selamat, terhindar dari marabahaya).

Bedane ing jaman mangkin, kang aran jaman mardhika, saliring dumadi kabeh, sawala marang wasesa, tan karsa piburbeng liyan. Mangkono estri tan purun, ginawe sakarsa-karsa.

Bedanya di jaman kini, yang disebut jaman merdeka, segenap umat menentang kekuasaan dan penguasa pihak lain. Begitulah, wanita tak suka diperlakukan diperlakukan sekehendak orang lain.

Elinga para pawestri, mardhika iku jarwanya, nora mung lepat apngreh, nging uga kuwat kuwasa, amandhiri priyangga, wit saka ikut den emut, wenang lan wajib tan pisah.

Ingatlah wahai wanita, merdeka itu tidak hanya berarti lepas dari perintah orang lain, namun pula kuat dan mampu untuk menguasai diri sendiri. Karenanya, janganlah dilupakan, bahwa hak dan kewajiban tidak dapat dipisahkan.

Dene kang arane wajib, siyaa barang prakara, miranti lair batine. Nuli wenange tumindak, ing reh sakarsanira, wit sira wus darbe traju, panimbung becik lan ala.

Adapun yang disebut wajib, ialah segala kesiapan dan kesediaan, lahir dan batin. Barulah menyusul hak, melaksanakan kehendak diri sendiri, karena engkau sudah mempunyai neraca, untuk menimbang apa yang baik dan yang tidak baik.

Para wanita kang sami, marsudi ing kamardhikan, wajib weruh ing gatine. Sujana lan kasarjanan, weh mardhikaning gesang, dene kasusilan iku, pager rahayuning raga.

Para wanita yang memelihara kemerdekaan, wajib mengetahui kepentingannya. Kecerdasan rasa dan cipta, memberi kemerdekaan hidup. Adapun kesusilaan, adalah pagar keselamatan bagi dirimu.

Senggakan pada setiap bait:

Heh prakenya kang ulah mardikeng rara!
Haywa lali kalane lalangen padha.
Ing reh solah tingkah ywa lirweng susila!

Hai, para gadis yang mencita-citakan kemerdekaan wanita. Janganlah lupa ketika engkau bersuka-cita. Untuk tetap bersusila dalam setiap tingkah lakumu).

Advertisements

4 Comments

  1. okkyokha says:

    Wah theme blognya sama
    postingannya mangtab mas..

  2. Harry says:

    setujuh mas
    selamat hari ibu

  3. Mimin says:

    Telaten ya, terjemahke bhs. Jawa ke bhs. Indonesia

  4. […] Similar article : Asmarandhana Wasita Rini […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: