Orek-orekan Dwi Pramono

Home » kini » Pak Tir

Pak Tir

Blog Stats

  • 56,510 hits

Archives


pak-tir2Namanya pak Tir. Ketika ditanya nama lengkapnya, hanya dijawab.. “nggih namung Pak Tir.” Saat saya bertemu terakhir kali sekitar tahun 1998 usianya sudah hampir 80 (katanya). Bukan sanak, bukan saudara.. tapi Pak Tir ini salah satu insan kenangan dalam masa remaja saya. Bukan guru atau tokoh ternama, pak Tir “hanyalah” penjual wedang kacang ijo di Ketelan, suatu ruas jalan di dekat Mangkunegaran-Solo.

Saat saya SMA di Margoyudan Solo, paling tidak seminggu dua kali saya mampir warung pak Tir. Jualannya bukan bubur kacang ijo, tapi wedang kacang ijo. Kuahnya memang dari sari kacang ijo, diberi sekepal kecil ketan, dan ditaburi irisan roti tawar. Diminum hangat atau panas di pagi hari, sungguh sedap sekali… bahkan kenangan akan rasanya masih terasa di lidah sampai hari ini.

Satu hal yang saya suka, meskipun hanya berjualan wedang, pak Tir tidak pernah saya jumpai melayani tamu dengan kaos. Baju seragamnya biasanya putih, rapi lipatannya, dan tidak lupa topi jadulnya. Warungnya juga bersih, dan seperti umumnya orang Solo yang ramah, dia berusaha mengajak tamunya ngobrol ringan.

Kalau pelajaran olahraga, waktu itu kami harus kumpul di GOR Manahan karena memang sekolah tidak punya lapangan olahraga sendiri. Biasanya dari rumah di Timuran (saya sudah mondok waktu itu) saya pasti sekalian lari pagi menuju Manahan (sekitar 4 kilometer). Selesai berolahraga, pulang ke rumah tentu juga lari-lari. Nah hampir pasti saya mampir wedang kacang ijonya Pak Tir ini.

Dalam suatu kesempatan libur di tahun 1998, saya sempatkan mampir kembali untuk mengobati rasa kangen. Hebatnya, pak Tir yang saya kenal sejak usia SMA hingga anak saya tiga, masih berjualan produk yang sama, di lokasi yang sama, dengan gerobak yang sama. Kesetiaan akan profesi yang -menurut saya- luar biasa. Padahal jauh sebelum saya menjadi langganannya, dia sudah berjualan di situ. Sempat menanyakan sekilas tentang keluarganya, sambil melayani tamu dia cerita anak-anaknya sudah mentas semua dan memberikan banyak cucu.

Sedikit berbeda dengan ayah dan mertua yang kedua-duanya mengabdi sebagai pamong negara hampir 40 tahun, pak Tir sepanjang hidupnya mengabdi pada profesinya sendiri. Suatu kontras bila dibandingkan generasi masa kini yang dengan sedikit iming-iming sudah beralih profesi.

Sekedar renungan….

Advertisements

1 Comment

  1. mardee says:

    jadi inget yg jual bubur kacang ijo di depan pasar raya salatiga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: