Orek-orekan Dwi Pramono

Home » kini » Grafologi

Grafologi

Blog Stats

  • 56,859 hits

Archives


menulisDari cara orang berjalan, ada yang bisa menebak bagaimanakah sifat dan watak orang tadi. Dari raut muka seseorang, ada pula yang bisa menebak karakternya secara umum. Tiap orang mempunyai “gaya jalan” dan “raut muka” yang spesifik, dan itulah yang bisa menghasilkan kesimpulan tertentu. Kebudayaan Jawa juga kenal ilmu yang bisa menyimpulkan bagaimanakah watak orang dari bentuk tubuhnya, bentuk hidungnya, bahkan dari hari kelahiran (weton)-nya.

Demikian pula tentang Grafologi atau Ilmu Tulisan. Para psikolog (ahli jiwa, berbeda ahli penyakit jiwa atau psikiater), dengan keahliannya  dapat membuat kesimpulan watak dan kemampuan orang berdasarkan tulisan.  Tentu saja grafologi tidak dapat digunakan sebagai sarana memberikan gambaran masa depan seseorang (meramal). Namun, grafologi dapat memberikan gambaran mengenai cara seseorang memandang diri dan masa depan serta kecenderungan perilaku yang belum diketahuinya saat ini, namun ternyata ada dalam dirinya.

Anak-anak sekarang –menurut saya– tulisannya tidak sebagus dan serapi generasi sebelumnya. Bahkan cara memegang pena pun nampaknya tidak diajarkan di sekolah. Dari cara memegang pena yang tidak nyaman, tentu tulisan yang dihasilkan pun tidak terkontrol. Saya ingat saat mendekati ujian SD tahun 70-an, guru mengajarkan beberapa cara menulis cepat. Contohnya menulis angka 8. Yang menulis angka 0 bertumpuk adalah yang paling lama.

Cerita jadul pak dhe dan bapak saya, ketika di sekolah diajarkan untuk menulis miring dan tidak terputus-putus. Harus dibedakan antara bentuk huruf tulisan dan huruf cetak. Jaman dulu ada pelajaran khusus yang disebut “menulis halus.” Cara memegang “grip” atau pensil atau pena (belum ada ‘ball-point”) diperhatikan oleh guru, bentuk huruf harus sesuai dengan contoh yang terpampang di dinding (papan tulis). Gerakan pena ke atas pasti tipis, gerakan pena ke bawah pasti tebal. Kalau membuat PR, misalnya berhitung, yang dinilai tidak hanya hitungannya, melainkan juga tulisannya. Nilai PR misalnya berbunyi R10S7, berarti Rekenen (berhitung) 10, Schrijven (menulis) 7. Pada dasawarsa limapuluhan ada kantor-kantor tertentu yang melarang mengisi formulir dengan ballpoint; harus dengan tinta atau “vulpen”.

Menurut Enskiklopedi Winkler-Prins, grafologi dirintis oleh seorang petugas gereja di Prancis pada tahun 1872. Menurut muridnya, tulisan seseorang tidak ditentukan oleh tangan dan bentuknya, melainkan oleh getaran-getaran (“impuls”) otak. Tidak ada dua orang yang sama tulisannya, karena irama (“ritme”) beda dan bentuknya beda pula; sekalipun kembar.

Grafo-Test sudah digunakan sebagai bagian dari forensik atau biometrik. Di Amerika, grafo-test digunakan untuk mengetahui trait kejujuran, kestabilan emosi, kemungkinan bertindak kasar dan judgement. Di Australia bahkan dipergunakan oleh The Australian Federal, State & Territory Police sebagai bentuk test yang lebih akurat daripada lie detector. Di Perancis dan Swiss banyak perusahaan menggunakan grafo-test untuk mencari karakter karyawan yang sesuai dengan kriteria perusahaan.

Salah satu keunggulan grafo-test adalah tidak dapat dibohongi. Dari tulisan tangan seseorang, melalui grafo-test dapat diketahui:

  • Motivasi dan dorongan yang ada dalam diri
  • Kestabilan emosi
  • Bidang/minat yang sesuai
  • Keadaan mental
  • Kecenderungan intelektual
  • Kekuatan dan kelemahan diri

Sampai sekarang masih ada orang yang memperhatikan tulisan.  Dalam buku “Amazing You: Graphology”  Theresa Moorey membuat kesimpulan-kesimpulan yang menarik tentang grafologi ini. Misalnya: tulisan miring ke kiri, menandakan pribadi yang tenang, yang mampu menguasai emosinya. Mungkin pula orang ini “low profile” dan gemar hidup di alam yang lewat. Tulisan miring ke kanan menandakan orang yang gemar “ngluyur” dan banyak teman, mungkin emosional, sekalipun ada usaha menahannya. Tulisan tegak bersikap anggun dan obyektif. Sering tampak tak acuh dan cenderung menjadi penonton daripada bertindak. Sebaliknya dalam keadaan kritis tetap tenang dan menguasai keadaan.

Tulisan besar menandakan kesadaran dan kepercayaan kepada diri sendiri. Tulisan kecil menunjukkan pandangan sempit dan tidak ingin menjadi perhatian sekelilingnya. Tulisan yang sukar dibaca, mungkin milik orang yang ingin menyembunyikan sesuatu, misalnya supaya pasien tidak bisa membaca obat apa yang diberikan. Tanda tangan sebaiknya ditulis dengan jelas, yang bisa menandakan kejujuran. Dengan bertambahnya umur, tulisan orang bisa berubah, antara lain karena “buyuten”.

Sebaliknya, Barry L. Beyerstein dalam “How graphology fools people” mengatakan bahwa grafologi merupakan ilmu gadungan alias pseudoscience. Bukti-bukti ilmiah tidak banyak mendukung untuk ilmu ini. Di Wikipedia, juga disebutkan bahwa saat ini grafologi tidak relevan lagi untuk mengetahui karakter seseorang atau performance seorang calon karyawan.

Betapa pun, sejak kecil kita dididik untuk lebih suka yang bagus atau baik daripada yang jelek, termasuk dalam belajar menulis. Sayang, tulisan guru sendiri jelek, bahkan tidak tahu tulisan yang bagaimana yang disebut bagus. Apalagi kalau bersikap: “Buat apa harus menulis bagus, wong nanti kalau sudah besar pasti mampu beli mesin tik, bahkan komputer.”

Na’udzubillaahi min dzalik!

Advertisements

5 Comments

  1. Satrio says:

    Grafologi kan matakuliah di psikologi pak? Bisa ngetes grafo pak? Ntar ta kirimin tandatangan ku hehehe…

  2. yudi says:

    Tulisan ini sekedar mengenang waktu jadi HRD manager sepuluh tahun yang lalu. Tapi grafologi bukan keahlianku, mas Satrio.

  3. Satrio says:

    eh mas sori nyimpang dikit…

    skarang mungkin ga sih… seleksi karyawan itu berdasarkan kayak shio/zodiak gitu… kan tiap shio/zodiak biasanya punya karakteristik sendiri pak? Soalnya ada temen psikolog juga yang baru mau bikin skripsi trus nemu tema kayak gitu…

    trims!

    • yudi says:

      Menurut saya sih, shio, grafo, analisis wajah sampai weton ala primbon Betaljemur Adamakna, bahkan alat-alat tes psikologi adalah tools atau alat bantu. Banyak faktor lain, utamanya match/tidaknya kebutuhan perusahaan dengan kualifikasi pelamar… dan subjektivitas pewawancara kalau yang wawancara bukan tim. **bikin bisnis sendiri lebih menantang**

  4. neo says:

    cukup tertarik dengan grafologi
    saya ingin memperdalam ilmu ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: