Orek-orekan Dwi Pramono

Home » kini » Kambing Hitam

Kambing Hitam

Blog Stats

  • 57,438 hits

Archives


Kita hidup dalam suatu masyarakat yang suka mencari “kambing hitam”, dan salah satu kalimat favorit kita adalah: “Itu bukan salahku.” Selalu ada alasan untuk pembenaran diri dan menyalahkan orang atau keadaan bahkan masa lampau atas kegagalan yang kita alami.

Mengapa disebut kambing hitam? Kambing hitam dalam cerita ini memang bukan kambing betulan, tapi sekedar kata kiasan. “Mencari kambing hitam” atas kegagalan kita mungkin terpola akibat didikan orangtua atau lingkungan pada masa kecil kita. Banyak contoh dalam masyarakat kita yang mempersalahkan sesuatu yang (sebenarnya) tidak salah dalam suatu kejadian. Contoh kecil saja, misalnya seorang anak jatuh, ibu atau bapaknya tergopoh-gopoh membantu si anak bangun seraya berkata, “Eh,…kodoke mencolot!” dan sebagainya.

Dari contoh di atas, sadar atau tidak sadar atau karena kebiasaan, orangtua mendidik anaknya melihat bahwa kejatuhan sebagai suatu malapetaka yang membutuhkan pertolongan orang lain dan (karenanya) kegiatan berlari tidak pantas diteruskan lagi. Celakanya lagi, jatuhnya si anak tadi disebabkan karena “kudanya lari” atau “kodoke mencolot’. Apa salah kuda dan kodok kok jadi tertuduh begitu, ya?

Perlakuan orang tua yang demikian, yang kelihatannya sepele, akan sangat berarti dan berakibat banyak bagi perkembangan pribadi anak di kemudian hari. Pola itu nantinya akan “mem-pribadi”. Anak nantinya akan membentuk pribadi yang cenderung kurang percaya diri, kurang ulet untuk mencapai suatu tujuan, mempunyai ketergantungan tinggi, dan dengan mudah meng-kambinghitam-kan sesuatu atau orang lain bilamana melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan.

Pendapat ini dipertegas beberapa ahli yang mengatakan, bahwa masa balita (0-5 tahun) merupakan critical period bagi pembentukan pribadi seseorang. Lingkungan yang paling bertanggungjawab terhadap kepribadian anak adalah orangtuanya sendiri. Orangtua bertindak tepat, jika mempercayai pendidikan formal. tetapi mereka  menjadi “dungu”, apabila menggantungkan masa depan anak pada pendidikan formal saja. Keberhasilan anak untuk menghadapi masa depannya, tidak cukup hanya dimodali dengan pengetahuan dan ketrampilan. Berapa banyak manusia yang dipandang cukup mampu di bidang pengetahuan dan ketrampilan, ternyata keleleran dan seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan. Banyak manusia yang mandek, tanpa mau berusaha berkreasi.

Hidup dan kehidupan bukan sekedar masalah pengetahuan dan ketrampilan, tetapi lebih menyangkut aspek-aspek moral, sikap mental, serta kepekaan terhadap lingkungan, dan variabel-variabel Iainnya.

Advertisements

4 Comments

  1. vie says:

    pertamax
    hi3 bener jg yach.

  2. Mimin says:

    Keduaxx…he3 aq jg kadang gitu

  3. Satrio says:

    la piye mas pram… wis jadi kebiasan eee??

  4. […] Seringkali kalau ada kejadian kecelakaan yang menimpa warga masyarakat, selalu harus ada kambing hitam yang dipersalahkan. Kalau pejabat pemerintah atau aparat negara, tentu materi penyebab kecelakaan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: