Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Kolom » Nama

Nama

Blog Stats

  • 57,007 hits

Archives


Waktu bincang-bincang dengan mbak Yatie (1946-2002) di Solo, saya tanyakan tentang arti nama cucunya : ADAM KATSUTRIO (3.4.1.2.1). Ternyata “Katsu” adalah dari bahasa Jepang yang artinya The Winner (sang pemenang), sedangkan “trio” kependekan dari Satrio atau Satria. Wah, boleh juga nih! Mungkin nama itu akan sangat jarang yang menyamai. Pada waktu melisting daftar nama anggota Rumpun Kartoamijayan, yang banyak saya jumpai adalah kombinasi dari bahasa Arab dan Sanskerta, misalnya Arief Zaafril Razaqtiar (MMPP), Perbowo Wicaksono (Mas Hari), Pradipto (Maya-Bima); dan banyak pula yang mengambil nama “nge-pop” misalnya Amaylia, Reynaldi, Charissa, dll. Pentingkah arti sebuah nama? Tentu saja! Mari kita baca dari selingan di bawah ini.

.

NAMA

Suatu hari seorang profesor di sebuah perguruan tinggi di Mesir membaca daftar hadir para mahasiswanya. Tiba-tiba ia mengerutkan keningnya ketika membaca nama seorang mahasiswa yang kebetulan datang dari Indonesia. Mahasiswa itu bernama Ahmad Zani, yang berarti, maaf, “Pezina yang terpuji.” “Bagaimana ayahmu memberi nama anaknya sebagai pezina?” Profesor tadi penuh keheranan.

Bagaimana dialog selanjutnya antara profesor dan mahasiswa tadi tidak perlu dibahas di sini. Yang ingin dikemukakan di sini ialah betapa besar pengaruh bahasa Arab dalam masyarakat Indonesia, termasuk dalam hal pemberian nama.

Bagi orang-orang Jawa khususnya, nama itu memiliki makna yang penting. Di samping sebagai panggilan, nama juga merupakan ekspresi harapan, doa, dan cita-cita orangtua terhadap masa depan anaknya. Oleh karenanya, sebisa mungkin anak diberi nama yang bagus, yang salah satu rujukannya adalah Alquran atau nama-nama yang berbau Arab, seperti Ahmad Zani tadi. Kalau saja sang orangtua mengentahui barang sedikit bahasa Arab, maka boleh jadi namanya Ahmad Zaini – yang artinya perhiasan atau keindahan- bukannya Ahmad Zani atau tukang zina.

Beberapa tetangga saya ada yang bernama Dul Gepuk. Setelah saya renungkan, mungkin sekali ucapan itu merupakan deviasi dari Abdul Ghafur. Ada lagi Fegodin, yang kira-kira berasal dari Faqihuddin, artinya orang yang dalam pengetahuannya tentang agama. Agak jauh dari rumah Pak Godin, demikian panggilannya, ada yang bernama Dulkanan, yang jika dikembalikan asalnya mestinya Abdul Khannan, yang padanannya mirip Abdurrahman.

Di Jakarta ini saya mempunyai kenalan berasal dari Indonesia Timur, bernama Beddu Amang. Rupanya kata itu merupakan deviasi dari Abdurrahman. Hal serupa juga terjadi di wilayah Jawa Barat. Orang Sunda yang banyak memiliki nama Memet mungkin sekali bernama asli Muhammad atau Ahmad, yang kemudian –oleh tradisi Sunda– suku kata terakhir digandakan pengucapannya sebagai panggilan.

Demikianlah, pemberian nama yang berbau Arab dan Islam jika tidak tahu asal usulnya secara benar bisa berakibat fatal dan lucu, meskipun niat asalnya adalah baik, agar anak-anaknya jadi anak yangg saleh. Bahkan ada beberapa orangtua yang mengambil nama dari Alquran dengan cara random. Yaitu mata tertutup lalu jari menunjuk ayat Alquran. Di mana jari jatuh di situ nama diambil. Maklum mereka hanya tahu membaca, tapi tidak tahu arti. Sehingga kata yang tertunjuk kandungan maknanya bisa saja amat janggal bagi yang tahu bahasa Arab. Akan lebih konyol jika yang ditunjuk adalah nama semacam Fir’aun atau Abu Lahab.

Ada juga orangtua yang mengambil nama tokoh pewayangan atau bahasa Sansekerta yang dekat dengan tradisi Hindu, lalu digabung dengan nama-nama Qurani, nama-nama seperti Goenawan Mohammad, Dawam Raharjo, Yusuf Wibisono, Slamet Iman Santoso, Ahmad Sukarton, Wahyu Nugroho, Budhy Munawar Ragman, sedikitnya mengindikasikan mereka datang dari keluarga priyayi yang apresiatif terhadap Islam.

Bagi para antropolog, dengan menganalisa namanama maka mereka akan memiliki asumsi awal dari kultur kelas mana seorang penyandang nama itu berasal. Anakanak di Jawa yang datang dari daerah kauman, pedalaman, pesisir dan kota, sedikit banyak memiliki nama yang berbeda yang mencerminkan kultur keluarga orangtuanya.

Lebih dari itu, nama-nama yang disandarrg oleh kalangan priyayi dan kalangan wong cilik juga memiliki perbedaan. Di Jawa misalnya, jarang (atau malah hampir tidak ada wong cilik yang punya nama Wiryosanjoyo, Bahuwinangun, atau Harjodiningrat. Di kalangan masyarakat pedesaan di Jawa lagi misalnya, untuk menandai satu individu dari individu lainnya yang kebetulan bernama sama, ditambahi imbuhan khas: Dul Becak (yang berprofesi penarik becak), Dul Bebek (pemilik peternakan bebek), atau Dul Langgar. Lama-kelamaan imbuhan itu menjadi bagian nama yang tak terpisahkan.

Yang berganti nama juga ada. Tidak jarang orangtua mengganti nama anaknya yang sakit berbulan-bulan dengan alasan “keberatan nama”. Alasan “keberatan nama” ini pula yang menyebabkan nama Sutjipto Wirosardjono atau Kuntowijoyo misalnya, agak terdengar wagu (janggal) untuk seorang anak kecil. Atau mereka yang pergi haji, sepulangnya telah berganti atau bertambah nama yang lebih Qur’ani, yang diberikan oleh Syekhnya di Arab Saudi.

Adakah korelasi antara makna sebuah nama dan kualitas penyandangnya? Antara name and the named, antara al-ism wa al musamma?

Secara sosiologis, seperti disinggung di muka, sedikitnya nama memang bisa memberikan indikasi kultural tertentu dan keluarga mana seorang anak dilahirkan. Meskipun dengan berkembangnya zaman dan pola budaya, signifikansi hubungan itu mulai dipertanyakan.

Dewasa ini pasangan muda yang tinggal di perkotaan kelihatannya cenderung memberi nama anaknya bernada “ngepop,” tidak lagi Arabis atau agamis. Tidak jarang sebuah nama merupakan perpaduan penggalan nama ayah dan ibunya. Bisa juga sebuah nama dikaitkan dengan bulan kelahirannya. Nama Nurul Agustina misalnya sangat mungkin ia lahir di bulan Agustus, datang dari keluarga muslim kota. Budhy Munawar, misalnya lagi, mungkin sekali orangtuanya berdoa agar anaknya berbudi luhur sekaligus tercerahkan oleh petunjuk agama. Cuma saja, meskipun nama-nama seperti Tony, Anto, Deni, Tita, Henny, Boy, Yenny, Kiki, Sasha, dan sejenisnya itu terdengar bagus di telinga, tak ada “pesan” atau “harapan” khusus yang dibawanya. Pendeknya, nama-nama kota modern itu tak punya akar yang jelas, seperti ciri masyarakat urban umumnya.

Demikianlah, meskipun nama mengandung doa dan indikasi sosial, namun demikian hal ini tidak bisa disimpulkan bahwa anak yang memiliki nama bagus maka pasti moralnya bagus. demikian pula anak-anak kota yang memiliki nama berbau Barat dan “ngepop” tidak berarti mereka tidak agamis. Sebaliknya, mereka yang namanya Arabis dan Quranis tidak lantas menjadi jaminan mereka itu religius. Tidakkah kita ingat, tokoh Chaerul Saleh -yang artinya sebaik-baik orang yang saleh- tetapi konon ceritanya sangat tidak saleh? Sebaliknya, bukankah penulis kolom di banyak penerbitan yang bernama Danarto, yang dari segi nama berbau “abangan,” nyatanya sangat sufistik?

Dalam masyarakat Islam, kata seorang ustadz, bagi anak laki-laki nama yang populer adalah yang diawali , dengan Muhammad, misalnya Muhammad Dawam Rahardjo, Mohammad Hatta, Mohammad Suharto, Muhammad Ali, dan sebagainya. Namanama populer lainnya biasa merujuk pada sahabat Nabi dan pejuang-pejuang Islam, seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Husein, dan lain-lainnya. Sedangkan bagi wanita nama Fatimah, Khadijah, dan Aisyah kelihatannya juga sangat populer.

Rumus lain bagi orangtua dalam memberi nama anak-anaknya adalah dengan mengambil salah satu nama Allah, lalu di depannya dilekatkan kata Abd yang artinya hamba. Nama yang model ini kelihatannya juga sangat populer, terutama di kalangan masyarakat kauman atau santri. Misalnya saja, Abdul Azis, Abdur Rahman, Abdullah, dan seterusnya.

Jadi, pentingkah sebuah nama? Tentu saja! Untuk lebih bisa menghayati betapa pentingnya nama, bayangkan saja kalau kita atau anak-anak kita hidup bermasyarakat tanpa nama. Begitu juga untuk lebih mengapresiasi bahwa nama yang bagus itu sangat penting, coba saja anak-anak Anda diberi n-ma yang negatif. Bukankah akan menjadi beban me-ntal bagi mereka? Dalam hal ini Alquran secara tegas mengajarkan, berilah nama atau panggilan yang bagus pada anak-anak, bukannya panggilan yang mengandung olok-olok.
.

Komaruddin Hidayat.Staf Yayasan Wakaf Paramadina Jakarta,Republika, 9 Oktober 1994 [dikutip dari Buletin TKH Edisi Juli 1995]
Advertisements

2 Comments

  1. naklul says:

    nama dan peristiwa, nama dan perbuatan, nama merupakan akhlaknya. namaku dulkanan? siapakah aku? diriku mengajak dirimu untuk selalu menjunjung akhlak dan menjembatani kewirausahaan. Selamat berjuang

  2. eva says:

    saya ingin bertanya,
    apa sih nama ilmiah nya melati katarak?
    harap di balas ke alamat email saya,
    riyanty_ev4@yahoo.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: