Orek-orekan Dwi Pramono

Home » kini » Mempersatukan keluarga lewat teknologi

Mempersatukan keluarga lewat teknologi

Blog Stats

  • 56,859 hits

Archives


rian sinau

Saya punya “kebiasaan jelek”, yaitu kalau memanggil anak-anak cukup dengan bersiul (Kapten von Trapp di film the Sound of Music malah pake peluit). Suatu ketika saya sudah suat-suit bersiul beberapa kali memanggil anak-anak untuk makan malam kok tidak segera berkumpul. Tahu kenapa? Ternyata mereka sedang asyik di komputer masing-masing di basement rumah kami (jangan heran dulu, memang banyak kompie di rumah kami yang merangkap “bengkel” dan letaknya  memang di lantai bawah [basement] yang dulunya garasi). Yang mbarep sedang ber-google untuk mengerjakan tugas, adiknya lagi asyik ber-friendster sambil chatting, si ragil main game.

Kejadian seperti ini, cukup sering terjadi belakangan ini sehingga saya (mulai) khawatir pengaruh (negatif) teknologi pada aktivitas sosial anak-anak. Kalau sedang tidak asyik di komputer, mereka beralih hape.. entah ber-SMS, chatting, main game, atau dengerin musik. Kebetulan ketiga anak saya tidak gemar nonton tivi. Sharing dengan beberapa ortu saat ketemuan di sekolah anak-anak, kekhawatiran semacam ini nampaknya tidak hanya pada satu dua keluarga.

Kebetulan, “tetangga sebelah” (orang Kendal), mas Ninok Leksono, yang wartawan senior Kompas, menulis (22/10/08 ) tentang berkembangnya keluarga teknologi. Dia mengutip Tracy Kennedy dari Universitas Toronto, yang mengatakan : “Some analysts have worried that new technologies hurt family togetherness, but we see that technology allows for new kinds of connectedness built around cell phones and the internet.

Masih mengutip tulisan mas Ninok, Kekhawatiran akan hal itu terutama ditujukan pada kaum muda atau mereka yang disebut sebagai ”generasi digital”. Dengan stimulasi SMS, MP3, telepon, dan chatting, yang bersifat terus-menerus, pada anak-anak akan terbentuk ketidakpekaan dan ketidakacuhan saat mereka berusia 25 atau 30 tahun nanti (Time, 19/3/2006). Ya, orangtua khawatir anak-anak akan tumbuh sebagai orang yang tidak acuh terhadap dunia di sekeliling mereka.

Sekarang saja sering terlihat bagaimana anak, di antara saudara dan orangtua, bahkan mungkin juga antara suami dan istri, yang ketika fisiknya bersama-sama di satu tempat, masing-masing sibuk dengan gadget-nya sendiri. Ada yang sibuk ber-SMS, ada yang sibuk dengan laptop-nya, dengan blackberry- nya. Padahal, yang diidealkan adalah pada saat bersama, mereka justru lupa pada gadget dan hangat berkomunikasi secara konvensional, bercakap dan bercanda.

.

Manfaat vs Mudharat

Kebetulan saya berkantor di rumah (atau berumah di kantor, ya?) Tentu cukup banyak kesempatan saya untuk memantau anak-anak sepulang sekolah atau les. Di luar jadwal mereka mengerjakan PR (yang sebagian juga membutuhkan internet), sisa waktu mereka sebagian besar untuk…. internetan, utamanya friendster. Rizka yang senang menulis juga sudah mencoba nge-blog. Jarang sekali mereka nonton TV.. kecuali sesekali pas malem minggu mereka sewa CD/DVD. Muter MP3 player? “Enak dengerin radio streaming“, kata Dhita.

Yang sering dikhawatirkan orangtua adalah kemungkinan mereka “nyasar” ke situs dewasa. Dalam hal ini saya tidak terlalu konservatif. Tidak mungkin kita memblokir situs2 semacam itu..  Maka secara terbuka saya (dan ibunya anak2) bilang.. kalau kalian menemukan gambar atau cerita dewasa, segeralah tutup dan hindari. Pada saatnya nanti kalian akan cukup dewasa untuk nonton atau baca yang kayak gituan. Alhamdulillah sejauh ini, anak-anak bisa mematuhinya. Bagaimana dengan bapak/ibunya? Halah! Yang kayak begitu udah lewat!

.

TIK di lingkungan keluarga

Dalam lingkungan keluarga besar Kartoamijayan, salah seorang keponakan saya –Aji Prabowo– sudah membuat silsilah virtual yang sangat membantu, antara lain birthday reminder sampai dengan family tree yang bagus.  Situs itu sangat membantu, khususnya bagi anggota keluarga yang tersambung internet. Bandingkan dengan generasi bapak saya yang membuat silsilah dengan label sticker (DIMO) ditempel di dinding, sedangkan generasi saya sudah membuat dengan bantuan komputer dan dicetak large size (tapi saking gedenya nggak ada yang masang 😀 ).

Dalam kasus ini teknologi (komputer) sangat membantu, apalagi sebagian besar anggota memang sudah terhubung dengan internet. Komunikasi lewat mailing list, facebook dan penyebaran info keluarga lewat SMS broadcast sudah digunakan secara optimal, menggantikan peranan buletin keluarga yang jatuhnya mahal (ongkos cetak dan kirim). Beberapa anggota keluarga yang segenerasi saya dan para keponakan juga sudah memiliki blog atau website. Mengatur pertemuan/silaturahmi keluarga pun sangat dipermudah dengan bantuan teknologi.

Banyak contoh lain bisa ditulis tentang manfaat TIK. Namun pada akhirnya –seperti kata Aji Prabowo– teknologi hanyalah tools. Kita bisa memanfaatkannya untuk sebesar-besar manfaat mempelajari aneka ilmu, bahkan untuk mempererat silaturahmi keluarga.

.

.

Advertisements

2 Comments

  1. ajiprabowo says:

    Makasih OPom sudah di mention namakuw,.. hehehe Oom Dwi Pramono

  2. yudi says:

    Lah, gara-gara Aji, aku jadi buka blog lagi nih… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: