Orek-orekan Dwi Pramono

Home » kini » Ibu Dekan atau nyonya Dekan?

Ibu Dekan atau nyonya Dekan?

Blog Stats

  • 56,859 hits

Archives


Teman SMA saya Edy Meiyanto -doktor farmasi ahli kanker di UGM- mengabarkan bahwa hari ini Agung Astuti (juga teman SMA) resmi menjadi “Ibu Dekan” Fakultas Pertanian UGM. Semula saya pikir Agung Astutilah yang menjadi dekan karena memang dia dulu di Faperta dan dosen pula. Ternyata yang dilantik menjadi dekan adalah Prof. Dr. Triwibowo Yuwono, suaminya Tuti,… sehingga status Tuti menjadi “Ibu Dekan”.

Tentu bukan kejutan kalau teman seangkatan sudah guru besar atau menjabat dekan.. bahkan rektor sekalipun, karena memang “wis wayahe”. Teman-teman yang berkarir di militer tentunya juga sudah kolonel atau komisaris besar, sedangkan yang di politik.. beberapa tahun yang lalu malah sudah ada yang menjadi bupati.

Bagi saya yang pasutri wiraswastawan, ungkapan ibu dekan, ibu profesor, atau ibu dokter berbeda konotasinya dan (mungkin) tidak sesederhana komentar teman lain… “ibu dekan atau dekan sama saja lah!” Maksud saya, perempuan sekarang belum tentu (sekedar) “kanca wingking” yang nginthil suaminya, apalagi bagi perempuan yang memiliki karirnya sendiri.

Banyak contoh pasutri yang istrinya justru lebih maju karirnya dibanding sang suami. Ada teman kuliah yang sekarang mengajar di Unnes sudah [hampir] professor, sementara suaminya, juga dosen tapi di PTN lain, belum mencapai jenjang tersebut. Seperti saya sendiri pun, ketika istri masih bekerja ikut orang, status (dan gajinya) sudah jauh melebihi saya.

Dalam kondisi demikian (pasutri dosen), saya tidak yakin teman saya Tuti mau [sekedar] disebut ibu dekan  (bukan dalam konteks kedinasan). Kira-kira sama dengan anak saya yang ingin masuk kedokteran. Marah dia kalau ditanya, pengin jadi dokter atau ibu  (nyonya) dokter? Ada dokter di Semarang, kedua-duanya spesialis kondang. Saat mengundang resepsi mantu anaknya,  nama keduanya dicantumkan di undangan. Tidak biasa menurut pandangan umum, tapi memang masing2 memiliki relasinya sendiri2. Ada contoh lain yang sederhana saja, mana yang menurut anda benar :

Kepada Yth.
Bapak Prof. Dr. Triwibowo Yuwono
Dekan Faperta UGM
beserta Ibu

atau yang ini:

Kepada Yth.
Bapak/Ibu Prof. Dr. Triwibowo Yuwono
Dekan Faperta UGM dst..dst..

.

Intinya dari cerita ini adalah bahwa, [1] saya sangat menghargai kesetaraan gender, dan tidak merasa risih kalau ada seorang perempuan yang lebih baik karirnya dibanding laki-laki kalau memang dia memiliki kemampuan untuk itu; [2] untuk perempuan yang –kita tahu– punya karir sendiri sebaiknya berhati-hati mengaitkan dengan jabatan atau gelar suaminya.

.

Halah… apakah ini penting?
(buat saya penting, je..)

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: