Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Album Trah » Teladan Bapak Ibu : “Sayang anak”

Teladan Bapak Ibu : “Sayang anak”

Blog Stats

  • 56,510 hits

Archives


Tulisan : Suparto (3.3.0.0)
Diedit oleh : Dwi Pramono (3.8.2.0.)

.

Waktu itu awal 1977. Saya sudah pensiun. Saya sowan ke Solo sendirian. Akan pulang ke Bandung dengan kereta api malam, berangkat pukul 21.00. Koper saya sudah siap, sudah tinggal sungkem dan memanggil becak. Ee, saya lihat Bapak busana (mengenakan pakaian) untuk bepergian. Saya tanya, “Pak, badhe tindak pundi?”

“Arep ngeterke kowe,” Jawabnya,
Saya jawab, “Lah, mboten sisah!”
Bapak, “Lho, ora apa-apa?  Wani dhewe?”

Bayangkan saja. Saya, umur waktu itu sudah 56 (lima puluh enam) tahun, sudah pensiun, punya anak sudah besar-besar; masih akan diantarkan ke stasiun karena dianggap belum berani sendirian.

Inti cerita: betapa pun juga besar badannya, tuanya, kedudukannya, hebatnya (menurut perasaan kita sendiri), orang tua (paling tidak Bapak dan Ibu) selalu menganggap kita masih sebagai anak (kecil), yang kadang-kadang masih mengharapkan dan memerlukan lindungan dan pertolongannya, seperti waktu kita masih anak-anak. Dan Bapak Ibu ternyata senantiasa siap, walaupun Bapak waktu itu sudah 85 (delapan puluh lima) tahun.

Bisakah kita meniru? Apakah anak-anak kita sendiri bisa menghargainya?

Pada kesempatan lain, Bapak Ibu juga menunjukkan rasa sayangnya kepada putra wayah melalui surat (petikan dari Album IV/1980) :

“…. Kedjobo saka iku, ing sarehne mangsa udan, lan lakune montormu iku adoh-adoh tur njetuur dhewe, mulane aku kepingin elik-elik. Luwih-luwih bareng Pomo kaja ngono kuwi (tabrakan), atiku tansah ora kepenak, mongko wis padha pinter-pinter njetuur. Nanging aku rumangsa sing nglahirake, dadi atiku tansah kelingan. Mulane Liek, kowe jen njetuur adja kesusu, adja rikat-rikat, lan sing prajitno, le.
Liek, jen arep budhal aja lali matja donga saka mbah Tjanggah, unine mangkene. Kulhu Allah, Ropoh Allah, Pager Allah, Pinageran dening Allah, Pinayungan dening Allah, Rineksoa dening Allah. La ilaha ilallah Muhammaddar Rasulullah. Adja nganti lali !
lbumu

Di bawah surat itu, Bapak menulis (sudah menggunakan EYD, ejaan yang disempurnakan):

“Welinge ibumu estokna! Donga panuwunan iku saya dikerepi hasile saya gedhe. Gusti Allah Maha Murah Maha Asih! Sapa kerep ndedonga, nelakake yen akeh anggone eling marang Sing Maha Kuwasa. Wasana muga pada raharja! Daag kabeh!”
.

Advertisements

3 Comments

  1. indah says:

    nggih pak DP, tapi kadang sebel, karna apa apa enggak boleh sama eyang, pinginnya eyang kalo udah gelap (udah malem) anak gadis itu ya di rumah aja, enggak usah kemana mana. Saya udah 26 tahun tapi masih selalu dianggap kayak anak kecil. huhuhuhu malah mewek…

  2. emyou says:

    postingan yang heart-warming, pak depe.. 🙂

    saya juga sampai sekarang masih dimanjakan orang tua. lah kemarin waktu pindahan kos dari jakarta ke bandung aja dianterin keluarga sampe pake tiga mobil. yo jane isin wong udah segede ini kalo cari cara pindahan sendiri juga bisa, tapi tau banget kalo itu cara mereka menunjukkan sayangnya. i love my parents!

  3. yudi says:

    Indah dan Oelpha, bener seperti kata Latree di milis, “anak is anak meskipun si anak sudah jadi kakek/nenek..” Mudah-mudahan kita semua tetap bisa berbakti kepada orangtua sepanjang hayat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: