Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Album Trah » Berkirim Surat dan Sowan Bentuk bakti kepada orangtua

Berkirim Surat dan Sowan Bentuk bakti kepada orangtua

Blog Stats

  • 57,007 hits

Archives


Bapak tidak bosan-bosannya, mengharap dari semua yang sudah berumahtangga, atau yang masih sekolah tapi di kota lain, agar selalu berkirim surat. Waktu itu tidak ada istilah “tidak ada waktu”, atau “tidak bisa kirim surat”, atau “takut salah”.

Saya ingat, waktu saya masih di MULO, mondok di Surabaya di rumah pak Achmad (adiknya Bapak), saya hampir tiap hari Sabtu pulang ke Bojonegoro. Walaupun di Surabaya hanya beberapa hari, itu pun Bapak mengharapkan agar saya mengirimi surat kepada mereka. Jadi, kirim surat waktu itu bukanlah karena “hobi” atau “lagi iseng”, melainkan karena diharapkan oleh Bapak/Ibu.

Hampir selalu kalau saya hari Sabtu pulang ke Bojonegoro, saya bawa daun sirih satu ikat untuk Ibu. Di Bojonegoro tidak ada sirih seenak itu untuk nginang. Kadang-kadang kalau uang saku saya masih tersisa, saya belikan kecap satu botol; kebetulan di sebelah kiri pondokan saya ada pabrik kecap.

Sesudah saya berumahtangga, bahkan sesudah tinggal di Bandung pun, mereka kadang-kadang kirim surat dan bertanya mengapa sampai satu bulan saya tidak mengirim surat. Tiap kali saya ke luar negeri pun mereka tetap mengharap menerima surat dari saya.

Tahun 1949 saya sebagai Kapten dikirim ke Kalimantan. Sesampai saya di sana, saya merangkap sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Rakyat (pendudukan Belanda dalam masa peralihan) untuk daerah yang sekarang disebut Provinsi Kalimantan Tengah. Ibukota Palangkaraya dulu disebut Pahandut. Gaji saya waktu itu secara resmi dobel, sehingga kadang-kadang gaji yang saya terima dari Belanda langsung saya kirim secara utuh kepada Bapak Ibu di Solo. Maklum, waktu itu saya belum mempunyai rencana menikah dengan tante Zus. Kadang-kadang saya kirimkan dalam bentuk bahan baju, yang saya ingat namanya “bembergzij, atau chiffon, atau brokat”. Waktu itu umur saya 28 tahun dan ada di antara adik-adik saya yang belum “mentas”.

Kami semua juga tidak lupa mengucapkan selamat pada hari ulangtahun mereka, karena mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang penting. Tiap lebaran kami semua “sowan ” ke Solo; tinggal di sana 3-4 hari untuk berkumpul-kumpul dan ”menyenangkan” serta menunjukkan bakti kepada orangtua, sebagai pernyataan terimakasih kepada Tuhan dan mereka atas didikan dan kasih sayang yang telah mereka berikan.

Begitulah didikan Bapak Ibu almarhum dan begitulah cara penghormatan kami kepada mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: