Orek-orekan Dwi Pramono

Home » kiprah » MBC 2008, masih dengan format lama?

MBC 2008, masih dengan format lama?

Blog Stats

  • 56,510 hits

Archives


Dalam sambutan pembukaan pada waktu pengundian stand Mega Bazaar Computer (MBC) ke-13/2008 di RM Bandar Semarang 9 Januari 2008 yang lalu, Bapak A.M. Ishak –Wakil Ketua Apkomindo Jateng– menyampaikan informasi bahwa event ini (MBC ke-13) adalah ajang pameran terakhir dalam periode kepengurusan 2005-2008.

Selama kurun 2005-2008 saya catat ada 13 event pameran yang diselenggarakan. Dua kali dilaksanakan oleh Apkomindo sendiri, 7 kali bekerjasama dengan Dyandra Promosindo, dan 4 kali bermitra dengan EO lokal. Secara konsep hampir tidak ada perbedaan antara pameran yang diselenggarakan sendiri maupun dengan mitra. Pindah lokasi maupun ganti nama pameran, formatnya lebih kurang sama.

Tulisan di bawah hanya sekedar masukan, bukan evaluasi apalagi analisis. Mungkin tidak ada hal baru yang diungkap, namun intinya adalah ajakan untuk membuat format pameran yang (akan) diselenggarakan di waktu-waktu mendatang menjadi lebih baik : di sisi peserta, penyelenggara, maupun pengunjung.

MBC 2008, masihkah dengan pola lama?

Mega Bazaar Computer (MBC) yang ke-13 tahun 2008 akan diselenggarakan di tujuh kota : Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang (12-16 Maret 2008), Makassar, Banjarmasin, Bandung. Pemegang paten untuk event bertajuk “Mega Bazaar Computer” ini adalah Dyandra Promosindo, dan dalam penyelenggaraannya bekerjasama dengan Apkomindo di masing-masing daerah.

Khusus untuk Semarang, nampaknya belum ada “revolusi” dalam penyelenggaraan pameran, yakni masih seputar branding dan selling. Karena nama event kali ini adalah Mega Bazaar, maka memang tidak salah kalau misinya adalah jualan (bazaar = a shop where a variety of goods are sold). Tapi juga tidak salah kalau kita (masyarakat) berharap agar dalam (setiap) pameran ada muatan exhibition (event at which newest products and services are displayed), edukasi (menambah wawasan), dan interaksi langsung (masyarakat-distributor/vendor). Sementara di Jakarta, Yogya, dan Surabaya, muatan edukasi, product demo (exhibition), bahkan upaya pemecahan rekor MURI sudah di-insert dalam acara pameran.

Apakah harapan tersebut dapat dicapai dengan segala keterbatasan yang ada? Diakui sangat sulit. Di lokasi pameran yang biasa dipakai, untuk bertransaksi pun suasananya sering tidak nyaman, berdesak-desakan karena sempitnya lahan, parkir susah, dll. Apalagi untuk mewujudkan “cita-cita” ekshibisi, edukasi, interaksi… wah, masih jauh panggang dari api. Namun, tentu tetap menjadi harapan masyarakat umum dan asosiasi, agar pameran kali ini mampu menampilkan sesuatu yang baru, mendidik, mencerdaskan, mencerahkan …. tidak lagi berorientasi pada perang harga.

Ikut Apkomindo agar bisa ikut pameran?

Yulius Nafiri dalam emailnya menengarai bahwa bergabungnya toko/perusahaan komputer dalam Apkomindo adalah agar dapat mengikuti pameran komputer (yang diselenggarakan Apkomindo). Statement tersebut tidak sepenuhnya benar, karena pada awalnya dulu sebagian perusahaan bergabung (antara lain) adanya kebutuhan sertifikasi usaha sebagai salah satu syarat mengikuti tender di instansi pemerintah. Syarat tersebut saat ini tidak diperlukan, sehingga terkesan fokus asosiasi saat ini adalah penyelenggaraan pameran.

Peserta pameran adalah pemenang dari undian yang dilakukan secara fair dan disaksikan semua calon peserta. Namanya juga undian, tentunya mengandung unsur untung-untungan. Salah satu kendala yang dihadapi Semarang adalah jumlah stand selalu terbatas, sehingga pasti ada yang tidak beruntung memperoleh undian. Dalam MBC 13/2008 ada 60 pendaftar yang memperebutkan 30 stand standar, dan 13 pendaftar untuk berebut 3 stand semi premium (daftar peserta sudah saya posting pada email terdahulu).

Kebetulan dengan “manajemen sak kobere ver. 1.0” (versi upgradenya belum ada), saya mengumpulkan data peserta pameran yang diselenggarakan Apkomindo Jateng dalam kurun 2005-2008. Ada fenomena yang cukup menarik dari daftar  tersebut. “DS”-nya pak Jono dan “Sadhana”-nya pak Edi JK adalah yang paling sering beruntung mendapatkan undian stand (9x), berikutnya APP, Bintang, BK, MetroCD, Oscar dengan masing-masing 8x, yang lain… silakan simak di tabel berikut ini (bila link tidak berjalan, ketikkan http://www.apkomindo-jateng.org/event/rekap/rekap0508.htm pada browser anda). Yang saya catat adalah di luar stand island/premium.  Data/tabel tersebut memang kurang lengkap (mis. Comfuture 2005 kosong/belum diperoleh datanya). Selain itu, ada lebih dari satu kasus, bahwa pemenang undian stand belum tentu yang menghuni stand (apapun istilahnya : tukar guling, dol tinuku, atau istilah lain), meskipun secara peraturan hal tersebut tidak diijinkan. Dalam data/tabel tersebut, hal semacam itu diabaikan (yang dipakai adalah data saat pengundian stand).

Perusahaan yang belum pernah atau jarang tercatat ikut pameran, belum tentu tidak aktif. Bisa saja setiap musim pameran mendaftar tapi tak beruntung mendapat undian stand. Contoh : Wahana Komputer, yang termasuk generasi pendiri Apkomindo, malah baru 3x dapat undian (dari 13 event). Demikian juga Sylcom-nya bu Heru (2x). Sebaliknya, beberapa anggota yang relatif baru, malah sering dapat undian, misalnya Fanuel (7x berturut-turut), Frena (6x), Bursa Kamera (6x), Vista Data (4x), dan… Sabicho (6x). Maka perlu dipikirkan, di masa hadapan bagaimana menampung semua peminat tanpa terkecuali, dengan biaya sewa stand yang lebih hemat, tetapi kualitas pameran tetap memikat.

Bench Marking

Waktu ada acara Yogyakomtek 2007 di Yogya, saya beberapa kali memposting acara yang spektakuler tersebut di milis apkomindo-jateng, sampai ada yang punya kesan saya jealous (cemburu) dengan kreativitas Apkomindo-DIY. Menurut saya tidak ada salahnya cemburu, karena dapat mendorong untuk maju. Waktu saya masih mengajar di salah satu LPK di Semarang, salah satu motto yang saya tanamkan kepada peserta kursus adalah “dari meniru kita tahu”. Bahasa kerennya adalah bench marking. Tidak perlu step by step, tapi langsung potong kompas ke target yang dijadikan rujukan.

Beberapa rekan yang pernah ikut pameran di luar Semarang atau minimal menyaksikan pameran di Jakarta, Yogya, atau Surabaya tentu sependapat bahwa kualitas pameran di Semarang perlu (bahkan harus) ditingkatkan. Apalagi kalau menyimak yang namanya Expo di luar negeri… wuah, “nggilani” tenan. Bisa-bisa seminggu belum kemput keliling, karena ada lebih dari 1000 eksibitor (saya sih cuman tahu/baca dari internet). Dari satu lokasi ke lokasi lain bahkan disediakan bus atau semacam mobil golf (gratis) untuk hilir mudik pengunjung. Transaksinya pun miliaran dolar (datanya biasanya beneran nih, bukan mark up untuk konsumsi media).

Sebenarnya kendala dan permasalahan yang ditulis di atas tidak hanya terjadi di Semarang. Juga tidak hanya berlaku pada pameran komputer. Diperlukan lebih dari sekedar kemauan keras untuk mewujudkan suatu pameran yang ideal dari sisi penyelenggara-peserta-maupun pengunjung. Maka baik juga dipertimbangkan, agar pada kepengurusan mendatang asosiasi mengutus delegasi (tidak harus pengurus) untuk studi banding ke kota lain (tentu dengan biaya asosiasi). Hasil studi banding dipresentasikan kepada segenap anggota sebagai bentuk pertanggungjawaban. Banyak anggota asosiasi yang berwawasan maju (tidak ada kaitannya dengan latar belakang pendidikan, lho..) dan tentu tidak mau  format pameran selalu stagnan, mandeg, sama seperti waktu yang sudah-sudah… Sampai-sampai ada penilaian masyarakat bahwa “pameran (di Semarang) identik pindah toko”.

Pasti banyak hambatan dan kendala menghadang. Bukan hanya faktor eksternal (misal: tiadanya lokasi pameran yang memadai), tapi juga kendala internal sendiri. Tapi saya yakin,  inna ma’a al’usri yusraan (sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan).

Mohon maaf kalau tulisannya panjang seperti cerpen. Semoga dapat menjadi bahan pemikiran rekan-rekan anggota.

Seperti biasa,
Just my 2 cents opinion (opini kecil dari orang “kecil”)

.

email saya di milis apkomindo jateng, 13 Januari 2008
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: