Orek-orekan Dwi Pramono

Home » kiprah » Insentive Taat Aturan (ITA)

Insentive Taat Aturan (ITA)

Blog Stats

  • 57,438 hits

Archives


INSENTIVE TAAT ATURAN
(disingkat ITA, agar yang tidak sependapat silakan saja membuat pelesetan, “panitiane ita-itu…”)

Pembahasan mengenai ITA (Insentif Taat Aturan) memang cukup menguras energi panitia. Meskipun pelaksanaan aturan adalah sesuatu yang sangat wajar dalam aktivitas apa pun, namun faktanya pelanggaran atas aturan juga sudah telanjur menjadi kebiasaan yang dimaklumi oleh banyak pihak (peserta, penyelenggara, bahkan pengurus).

Kebiasaan dan pembiasaan melanggar aturan, antara lain disebabkan tiadanya sanksi atas pelanggaran, baik pelanggaran kecil maupun besar. Budaya pekewuh, ketidaktegasan penyelenggara, “alah.. karo konco dhewe”… atau bahkan, “lha pengurus dhewe yo melanggar!” adalah beberapa hal yang akhirnya menyebabkan semua penyelenggara pameran –bahkan yang seprofesional Dyandra– pun akhirnya apatis dan tak berdaya. “Sak karep-karepmu, lah!”

Kenyataan tersebut menjadi tantangan bagi panitia Apkomindo Fair 2008. Tidak mungkin membuat suatu revolusi, karena berisiko akan berhadapan frontal dengan teman-teman sendiri. Bahkan ketika baru pada tahap wacana pun, panitia sudah menerima tentangan yang cukup keras dari sebagian [calon] peserta. Maka, kami mengambil langkah lunak: rambu-rambu aturan pameran yang sudah “koyo adat sabene” tetap dilaksanakan, tetapi bagi yang bersedia mengikuti tata tertib kami apresiasi dengan pemberian ITA (Insentif Taat Aturan).

Sampai dengan paragraf di atas, mudah-mudahan dasar pemikiran ini dapat dicerna dan dipahami oleh anggota, khususnya peserta pameran.

——– . :: :: . ——–

Lima sekawan panitia mencari rujukan dari berbagai sumber dan pameran-pameran terdahulu untuk dapat menyusun parameter penilaian. Setelah melalui diskusi panjang, penyederhanaan dari puluhan aturan yang dibuat adalah sebagai berikut.

  • Aturan 1 : Jangan memindahtangankan hak stand. Ketidakseimbangan antara supply (jumlah stand) dengan demand (peminat) menyebabkan munculnya UNDIAN STAND. Maka diasumsikan, semua peserta adalah toko/perusahaan yang benar-benar berminat (serius) mengikuti undian, sehingga tidak mungkin mengalihkan kepemilikan stand yang diperolehnya. Dibuatnya aturan ini adalah untuk menghindari adanya “broker/makelar stand” yang mengambil manfaat dari tingginya demand tersebut. Memang, mungkin saja, ada kasus khusus yang menyebabkan terjadinya pengalihan hak. Namun secara umum, asumsi yang dipakai adalah : “berani maju undian berarti memang siap untuk berpameran.”
  • Aturan 2 : tertib keuangan dan administrasi. Bagaimana pun, untuk melaksanakan operasional pameran dibutuhkan dana awal, sehingga ketepatan waktu membayar adalah syarat yang dbutuhkan. Tertib administrasi dalam hal ini adalah konsistennya nama toko/perusahaan yang digunakan sejak memenangkan undian stand hingga pelaksanaan pameran. Meskipun suatu toko/perusahaan memiliki dua/lebih brand, nama yang terdaftarlah yang (seharusnya) digunakan.
  • Aturan 3 : tertib pelaksanaan. Pada awalnya cukup banyak parameter yang disyaratkan, namun untuk event ini panitia meminimalkan syarat menjadi hanya dua saja: [1] Penataan (display, neon box, media promosi, dll) jangan melebihi panjang/lebar stand agar tidak mengurangi gangway yang menyebabkan lalu lintas pengunjung terganggu; dan [2] tidak melebihi tinggi partisi karena tinggi > 2.5 m adalah hak stand VIP.

——– . :: :: . ——–

Sebelum pameran, saat pameran dilaksanakan, maupun setelah pameran berakhir, panitia melakukan pemantauan, mendokumentasikan,  dan mengevaluasi kejadian. Pada rapat panitia telah ditetapkan stand-stand yang berhak memperoleh insentif penuh, insentif dengan pengurangan nilai, atau tidak menerima insentif. Beberapa kali panitia terpaksa voting, menggambarkan cukup sulitnya pengambilan keputusan. Berikut ini daftar penerima ITA :

  • 16 stand menerima insentif penuh sebesar Rp 1.000.000,-
  • 9 stand menerima insentif @ Rp 850.000,- (terkait tertib pelaksanaan)
  • 8 stand tidak menerima insentif karena pengalihan hak

.

Mekanisme Penyerahan ITA adalah transfer ke rekening masing-masing toko/perusahaan oleh Bendahara Apkomindo DPD Jateng (karena tanggal 16 September 2008 kami menyerahkan laporan pertanggungajawaban dan sudah mengembalikan mandat).

Mengutip klausul yang biasanya dipakai dalam SK, saya pun perlu menambahkan “bilamana terdapat kekeliruan dalam pengambilan keputusan ini, maka akan ditinjau kembali dan diperbaiki sebagaimana mestinya.” ::

.

ITA (insentive taat aturan) adalah salah satu gagasan yang saya lontarkan untuk mengerem pelanggaran2 dalam pameran, dan kali pertama diterapkan di Apkomindo Fair 2008 (27-31 Agustus 2008).
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: