Orek-orekan Dwi Pramono

Home » kiprah » Ulasan mengenai hasil angket pameran

Ulasan mengenai hasil angket pameran

Blog Stats

  • 57,438 hits

Archives


Menjelang berakhirnya Apkomindo Fair 2008, panitia menyebarkan angket bagi peserta pameran. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sangat simpel. Alternatif jawabannya juga hanya dua : baik atau buruk,… tidak ada grey area (tapi ada juga yang nambahin kotak sendiri.. bukan baik atau buruk tapi þ lumayan). Responden juga tidak perlu ragu menjawab karena tidak perlu mencantumkan identitas (meskipun boleh). Jadi mudah-mudahan hasil survei di bawah ini objektif.

Mayoritas peserta menganggap pilihan lokasi di Java Mall adalah baik (93%). Namun pada pertanyaan berikutnya, beberapa hal yang menjadi sorotan adalah, keluhan mengenai beberapa sarpras (sarana dan prasarana), seperti parkir (34%), kesulitan bongkar muat (41%), serta keluhan mengenai musholla dan rest room (15%). Tidak adanya kupon free parking dari panitia juga dikeluhkan sebagian peserta. Dalam kolom komentar/saran, banyak yang mengusulkan agar sistem parkir dikomputerisasi supaya peserta mencatatkan nomor mobil/motor untuk free parking atau minimal tarif khusus karena sehari bisa bolak-balik keluar masuk parkiran. Untuk parkir sepeda motor, keluhannya adalah lokasinya di area terbuka tanpa penutup/atap sehingga panas (berdebu pula). Musholla juga dikeluhkan, terutama kebersihannya. Sementara di area pameran, ada beberapa keluhan mengenai kebersihan dan terbatasnya tempat sampah (umum). Keluhan dan masukan ini akan diteruskan oleh panitia kepada manajemen Java Mall.

Tentang penyelenggara dan pelaksanaan pameran, secara umum (di atas 90% pada semua pertanyaan) peserta menganggap baik mengenai : [1] penataan stand pameran (incl. gangway), informasi kepada publik (iklan media, outdoor media), demikian juga komunikasi dengan panitia atau petugas di lapangan. Beberapa keluhan yang muncul terutama adalah : antrian checklist (satpamnya galak dan terbatas). Usulan yang juga perlu dipertimbangkan adalah bagaimana menyiasati pilar (ini penting, …panitia sendiri juga terpaksa diskusi dulu dengan manajemen mall, karena ada perbedaan antara gambar dengan kenyataan di lapangan… khususnya di stand semi island 28-29 lokasi Nafiri-Bintang). Masukan lain adalah tentang timing/waktu penyelenggaraan, karena kebetulan pas mendekati puasa/lebaran.

Mengenai manfaat pameran, secara umum.. bahkan hampir semua peserta (96%) menganggap bahwa pameran meningkatkan penjualan rutin dan juga brand image perusahaan. Maka tidaklah mengherankan, meski setiap kali pameran harus ada pengeluaran ekstra –incl. pijat capek after event– pameran selalu saja diminati. Mayoritas peserta juga menganggap hasil penjualan selama pameran memuaskan (sampai hari ke-4 saat survei). Bahkan ada yang menambahkan jawaban, “dodolanku akeeeh!” Pada chart di bawah terlihat, bahwa 20% bisa bertransaksi > 50 juta rp/hari meskipun sebagian lain (34%) hanya bertransaksi kurang dari 10 juta/hari (mungkin yang jualan accessories).

Pada pertanyaan, apakah lokasi pameran di Java Mall baik/buruk, 93% responden menjawab “baik”. Namun pada pertanyaan , lokasi mana yang akan dipilih untuk pameran berikutnya, ternyata mayoritas (47%) memilih DP Mall, lebih banyak daripada yang memilih Java Mall (33%), meskipun ada juga yang kanan-kiri OK. Sementara, 7% mengusulkan lokasi lain, yaitu PRPP dan Plasa Simpanglima. Mengenai pilihan lokasi, ada lontaran ide dari anggota DPA (pak Ishak), mengapa tidak menggunakan dua mall sekaligus untuk satu event pameran? HP di sana, Acer di sini, X-Ware di sana, Forsa di sini, yang multiproduk ya tinggal pilih aja. Mungkin tidak perlu undian lagi, bahkan satu toko/perusahaan mau ambil dua lokasi juga boleh saja (kebayang repotnya?)

Dalam usulan-usulan, beberapa masukan yang perlu mendapat perhatian peserta dan rekan-rekan anggota adalah :

  • frekuensi pameran dalam setahun : ada yang usul 3-4 kali, ada juga usulan maksimal 6 kali setahun. Pengunjung jenuh, peserta capek. Bahkan ada yang menulis, “.. mosok pameran 1 bulan sekali?”
  • usulan agar diadakan aktivitas pendukung yang mencolok, sehingga masyarakat bisa merasakan manfaat IT exhibition, bukan sekedar jualan… “kalau perlu mengikuti jejak pameran komputer di luar negeri,” tulis responden.
  • Last but not least… pada pertanyaan pilihan, apakah pameran sebaiknya ditangani oleh Apkomindo atau EO. Jawabannya : 86% memilih diselenggarakan Apkomindo, 6% memilih EO, 8% tidak memasalahkan siapa penyelenggaranya (kanan OK, kiri OK). Jadi, kalau bisa diselenggarakan sendiri.. mengapa harus diserahkan ke pihak lain? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Ulasan di atas hanya membahas hasil angket/kuesioner. Bincang-bincang panitia dengan peserta, anggota maupun pengunjung masih menyisakan beberapa “PR” yang bisa menjadi masukan bagi penyelenggara sekarang maupun yang akan datang. Kami –lima sekawan panitia– masih membuka pintu lebar-lebar untuk semua masukan, saran, kecaman, bahkan kritik yang paling puedas sekalipun… OFFLINE maupun ONLINE.

.

[Artikel berikutnya : benarkah menyelenggarakan pameran sendiri lebih menguntungkan bagi asosiasi DAN anggota/peserta? Ada yang mau menulis artikelnya?]

.

posting email di milis apkomindo jateng, 02/09/2008

Salam sukses!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: