Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Album Trah » Tugas Bapak: Guru yang berpindah pindah

Tugas Bapak: Guru yang berpindah pindah

Blog Stats

  • 56,859 hits

Archives


Ditulis oleh : Suparto (3.3.0.0.) dan Supomo (3.8.0.0.)
Editor : Dwi Pramono (3.8.2.0.)

.

Beberapa bulan setelah kelahiran saya, Bapak Ibu dipersilakan pindah dari Madyotaman oleh pemilik rumah, karena rumah itu akan ditempati sendiri. Bapak Ibu lalu pindah ke Kusumodiningratan. Juga di alamat ini mereka diusir, karena rumah akan ditempati pemiliknya. Mereka kemudian pindah ke Gondowijayan, yang kemudian mereka beli dan perbaiki. Anak pertama yang dilahirkan ibu di rumah ini ialah SOEPANTYO (panti dalam bahasa Kawi artinya rumah), dengan panggilan TJOEK, yang kemudian diganti nama menjadi SUHARSO. Baru saja mereka selesai dengan perbaikan rumah, maka Bapak dipindah dari jabatannya sebagai Mantriguru Vervolgschool Panularan ke Vervolgschool Purworejo. Di Purworejo Bapak ibu belum sampai setahun, dan di situ lahirlah SRI PENI (10 Nopember 1928).

Foto

Bapak dan Ibu bersama Yu Ti (di samping Bapak), saya (di sampling Ibu) dan Tjoek di atas meja, di depan Mbok Omo (Kromo?). Foto ini diambil tanggal 7 Desember 1923.

.

Pindah ke Serang

Tahun 1929 Bapak dipindah lagi menjadi guru di Norrnaalschool di Serang. Mula-mula bertempat tinggal di Cirendong (dewasa ini lokasinya di sudut Jalan Ahmad Yani- Jalan Maulana Yusufl) kemudian ke rumah dinas di kompleks Normaalschool di Cipare. Perubahan terbesar bagi kami -anak-anak- ialah bahwa bahasa pergaulannya adalah bahasa yang disebut “Jawa Banten”, sedangkan “para priyayi” berbahasa Sunda. Di Normaalschool itu Bapak antara lain mengajar bahasa Jawa dan menggambar. Memang ada kelas-kelas untuk jurusan bahasa Jawa dan ada yang jurusan Sunda. Ketika di Cirendong, Embah Madiun Kakung. R. SASTROATMODJO wafat (14 Februari 1930).

Rumah di Cipare besar sekali, halamannya pun luas. Di depan rumah ada pohon tanjung dengan bayayk sarang angrang (semut merah), yang telurnya berwarna putih (kroto) kami berikan sebagai makanan burung cucakrowo. Di halaman belakang ada tiga pohon trembesi besar dan beberapa pohon kelapa. Ada pula pohon sawo yang saya menaikinya dan pernah jatuh dari ketinggian karena pohonnya licin. Oom Muhaii pernah menembak mati 2 ekor ular besar yang bertengger di atas pohon trembesi. Oom Muhali gemar berburu (burung) dan saya sesekali boleh ikut melihat.

Sekitar tahun 1931 listrik masuk kota Serang. Sebelumnya, penerangan jalan maupun di rumah menggunakan lampu “stormking” (petromaks), semacam lampu yang bahan bakarnya minyak tanah dan untuk menyalakannya dengan dipompa. Untuk menyalakan dan memadamkan lampu jalanan ada orang (agaknya karyawan Perusahaan Listrik GEBEO) yang pagi dan sore keliling kota. Lampu jalanan digantungkan pada tiang dan lampunya tiap kali dinaik-turunkan dengan kabel.

Di rumah, tiap pagi YU TI (ibunya POER) bertugas menyapu kamar-kamar dan saya mendampinginya membawa lampu teplok. Tugas itu kami lakukan meskipun ada pembantu: mbok Omo – yang dibawa dari Madiun, dan mbok Semi dari Purworejo yang kemudian menikah dengan pembantu laki-laki kami yang namanya Santanom. Untuk mengisi bak kamar mandi ada pak Sidin, orang Betawi.

Di Serang, Ibu sempat mengembangkan hobi. Kalau sedang musim, Ibu membeli durian satu gerobak, membeli pisang juga satu gerobak, untuk kemudian dibuat sale. Salak yang terkenal, waktu itu dari sebuah desa yang namanya Balagendong yang letaknya beberapa kilometer dari Serang. Tahun tigapuluhan itu ada gerakan “swadesi”, yang maksudnya menganjurkan agar memajukan kerajinan rakyat, antara lain kain lurik. Ibu mendatangkan beberapa kodi kain dari “Jawa” (entah dari mana) dan saya pernah disuruh menagih ke beberapa alamat.

Ketika saya duduk di kelas 4 HIS. Gunung Merapi meletus dan untuk mengumpulkan sumbangan diadakan lotre. Bapak beli dan memenangkan sebuah sepeda. Karena jelek, Bapak tambah uang dan mendapatkan sepeda yang lebib bagus: Fongers Eerste Soort E, warna hitam, tanpa “versnelling”.

Ketika saya duduk di kelas 5 HIS saya kena cacar air, kemudian karena hampir liburan puasa, saya dikhitan oleh seorang “bong” (tukang sunat, memakai bambu yang tajam), di-pas-kan hari Minggu. Untuk memeriahkan suasana, Bapak beli “gramofon” merk His Master’s Voice dan mengundang kenalan Bapak Ibu.

Di Serang Bapak memelihara 2 ekor burung kenari, yang diajar menyanyi dengan suatu alat terbuat dari logam. Ada juga burung cucakrawa yang waktu itu sudah dilarang dijualbelikan. Bapak mendapatkannya ketika khusus pergi ke Pelabuhan Merak. Kegemaran memelihara satwa burung ini agaknya menurun ke Pomo, yang lahir di Serang (16 September 1930).

Tahun 1934 Normaalschool Serang ditutup. Pada tanggal 21 Juni 1934 Bapak sekeluarga berangkat naik kereta api ke Purwokerto, menginap dulu di Meester Cornelis (Jatinegara) semalam di rumah Oom Sarpan (kalau tidak salah keluarga dari Tulungagung). Ketika kami masih di Serang, tante Sri Sumarsih Sarpan (yang waktu itu belum rnenikah dengan Oom Sarpan), seorang guru Huishoudschool mondok di rumah kami.

.

Tugas di Bojonegoro

21 Juni 1934 pukul 16.00 kami sampai di Purwokerto, dijemput oleh keluarga Suwondo (orangtua Purbo Sugiarto Suwondo, Letnan Jenderal Purnawirawan). yang sudah lebih dulu menjadi guru Normaalschool yang sama. Ayahnya nyonya Soewondo ialah kakaknya Ibu saya. Hebatnya, dua malam kemudian (23 Juni 1934), Ibu melahirkan SITI SUKAPTI di rumah, ditolong oleh seorang bidan.

Satwa peliharaan Bapak di Purwokerto adalah seekor burung beo yang sudah pandai bicara. Tahun 1934 itu juga merupakan tahun terakhir adanya Normaalschool untuk Hindia Belanda, sehingga kami di Purwokerto hanya kurang lebih setahun saja.

Karena sekolah ditutup, Bapak diangkat menjadi Schoolopziener di Bojonegoro. Kami berangkat pindahan naik kereta api S. S. (Staats Spoorwegen) dan di stasiun Bojonegoro kami dijemput oleh keluarga MOH ANSAR (MOERTI) yang sudah lebih dulu tinggal di Bojonegoro. Mas Ansar mengajar di HIS Bojonegoro. Kami tinggal beberapa waktu di rumah mereka, sebelum pindah ke rumah Jalan Alun-alun.

Karena waktu itu di Bojonegoro belum ada sekolah yang lebih tinggi dari HIS, saya disekolahkan di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Surabaya dan mondok di rumah adiknya Bapak (ACHMAD WIRYOSUKARTO) di Jalan Tembok Dukuh 204 Surabaya.

Foto

Bapak bersama Korogi-san dan Yoshihara-san, guru Jepang yang sering berkunjung ke rumah beliau di Bojonegoro

Pada tanggal 30 Juni 1935 EMBAH KAKUNG SAWANGAN (SASTROREJO) wafat, setelah sakit beberapa hari. Tanggal 5 Oktober 1935 SITI SUKAPTI meninggal setelah sakit beberapa hari di rumah Jalan Alun-alun, walaupun (setelah) disuntik oleh seorang dokter (tetangga). EMBAH UTI MADIiIN (SASTROATMODJO) wafat pada tanggal 10 Juli 1936 di rumah yang sama dan diangkut dengan kereta jenazah ke Madiun untuk dimakamkan di Nglames, di samping makamnya EMBAH KAKUNG MADIUN.

Tidak lama kemudian Bapak pindah rumah ke Jalan Kabupaten 9 Bojonegoro, di depan penjara. Bapak dinaikkan pangkat menjadi Centraal Schoolopziener untuk Karesidenan Bojonegoro. Ketika balatentara Nippon datang, Bapak sekeluarga mengungsi ke Ngumpakdalem, Dander. Setelah keadaan tenang, mereka kembali ke rumah depan penjara. Bapak dipertahankan oleh pemerintahan Jepang sebagai Penilik Sekolah. dan seperti halnya dengan pegawai Jepang lainnya, beliau mendapat ban lengan dengan aksara Kanji. Untuk mencegah adanya tentara Jepang memasuki pekarangan rumah kami, saya salin tulisan Jepang itu besar-besar di papan tulis yang ditaruh di beranda depan.

Selaku penilik sekolah, Bapak mempunyai kenalan guru-guru Jepang antara lain yang namanya YOSHIHARA. Pernah paduan suara. NANIEK dan GEMOL, dipentaskan di satu-satunya gedung bioskop di Bojonegoro, diiringi oleh Hawaiian Band “THE KING KAMEHAMEHA SERENADERS” pimpinan saya.

.

Pindah ke kota kecil: Rengel

Entah apa sebabnya, bapak selaku penilik sekolah di ibukota karesidenan pada suatu waktu dipindah ke tingkat kabupaten (Tuban), bahkan kemudian ke tingkat kawedanan (Rengel), dimana SRI dan WULAN bekerja sebagai guru. Di Rengel, baik SRI maupun WULAN dinikahkan dan disitu pula POMO dikhitan. Ketika kami di Tuban (pertama kali) alamat kami di Jalan Watutiban.

Rengel adalah suatu kecamatan atau kawedanan antara Bojonegoro dan Tuban, 19 km dari Bojonegoro, menyeberang Bengawan Solo. Saya beberapa kali dari Bojonegoro ke Rengel naik sepeda atau jalan kaki. Rengel tidak terletak di lintas kereta api. Kaiau ada adik atau Bapak Ibu yang juga bepergian, kami naik bis merk LIONG TIK, bisnya benwarna hijau. Jalannya tidak lurus melainkan berkelok-kelok dan saya ingat pernah dimuntahi anak kecil yang duduk berhadapan dengan saya.

Foto

Berwisata ke pantai Tuban

.

Akhirnya: kembali ke Solo

Pada tanggal l April 1948 Bapak dipindah ke Jawatan Pendidikan Masyarakat di Solo. Rumah di Man Gondowijayan IU10 ditempati oleh Pabrik Rokok Kretek “President”. Dengan alasan kepindahan inilah mereka diminta untuk mengosongkan rumah. Sementara itu Bapak tinggal di rumah seorang famili dari Ibu di Mangkubumen.

Tanggal 17 April 1948 rumah Gondowijayan II/10 kosong. Saya dan Tjoek disuruh Bapak ke Tuban. Tanggal 20 April 1948 lelang barang yang ada di Jalan Makamagung 56 oleh Kantor Lelang Bojonegoro. Tanggal 22 April 1948 kami memuat barang tersisa yang akan dibawa ke Solo per kereta api. Tangga123 April 1948 gerbong berisi barang pindahan berangkat dari stasiun Tuban dikawal oleh Tjoek (berpakaian dinas) dan saya. Tangga124 April 1948 kami sampai di stasiun Balapan Solo. Tanggal 25 April 1948 pengangkutan barang dari stasiun ke rumah Jalan Gondowijayan II/10. Tanggal 26 April 1948 Bapak dan Tjoek berangkat ke Tuban untuk menjemput Ibu dan anak-anak. Tanggal 29 April 1948 Bapak sekeluarga tiba di Jalan Gondowijayan. Mula-mula hanya mendapat giliran aliran listrik 4 hari sekali, hari-hari Iainnya menggunakan cahaya lilin.

Setelah pindah ke Solo, Bapak pernah beberapa bulan ditugaskan di Yogya. Ketika itu Pusat Pemerintahan Republik Indonesia masih di Yogya. Bapak tiap hari Minggu pagi berangkat naik sepeda ke Yogya dan pulang ke Solo (tentunya juga naik sepeda) hari Sabtu berikutnya. Di Yogya, Bapak mondok di rumah kakaknya Ibu (pak puh Soedarsono Adhisoesastro) di Klitren Lor. Saya pernah menemani Bapak naik sepeda ke Yogya. Ternyata kami tidak lewat jalan aspal, jalan besar. meiainkan menelusuri kampung antara Yogya dan Solo tadi, yang tentu saja tidak beraspal.

Agaknya tugas demikian terlalu berat buat Bapak, karena tahun 1949 itu Bapak berusia 58 tahun. Tahun 1950 Bapak dipindahkan dari Yogya ke Solo. Dalam Surat Keputusan Pemerintah tertulis jabatan sebagai Kepala Penilik Sekolah (Hooldschoolopziener), dipekerjakan sebagai guru SGB Negeri I Margoyudan Sala dan mengajar Bahasa Jawa.

Ketika menjadi guru SGB Negeri I di Sala, Bapak sempat membantu mengajar bahasa Jawa di SGB Muhammadiyah Pasar Legi Sala, sebagai guru tidak tetap, yang kebetulan Kepala Sekolahnya adalah anak menantu sulung sendiri (mas Soewadji Sastrodipoero).
.

Bapak Pensiun

Tanggal 1 April 1958 Bapak dipensiun, jadi dalam usia 67 tahun setelah mengabdi pada Pemerintah selama 42 tahun tanpa terputus di daerah Jateng, Jabar, Jateng, Jatim, DIY, dan akhirnya kembali ke Jateng. Setelah pensiun Bapak Ibu masih sering bepergian ke Pekalongan, Jakarta, Bandung, (naik kereta api) sampai tahun 1973. Pernah menyaksikan apel pagi Staf Kesdam III/Siliwangi dari dekat, karena waktu itu saya Kepalanya.

Setelah pensiun, Bapak meneruskan hobi-hobinya. Di sekeliling tempat jemuran di loteng Bapak membuat kebun dan menyediakan pot berisi macam-macam pohon buah, yang terkadang dipamerkan apabila ada tamu. Bapak masih juga memelihara ikan di kolam kecil di samping kiri rumah. Satu ungkapan Bapak yang masih saya ingat ialah, “Bloemen zijn dankbare wezens: als je ze goed verzorgt, bloeien ze ook betei”. Bunga itu makhluk yang tahu berterimakasih: apabila dipelihara dengan baik, akan tumbuh dengan baik.

Sampai tahun wafatnya, Bapak setiap ‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri masih tetap shalat led di stadion Sriwedari dan shalat Jumat di di Masjid Wustho ‘ Mangkunegaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: