Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Album Trah » Jodoh dan Pernikahan

Jodoh dan Pernikahan

Blog Stats

  • 57,007 hits

Archives


Waktu aku bersekolah di Kweekschool Ungaran, ada salah satu orangtua yang terhitung kakekku, minta agar bila sewaktu-waktu aku berkunjung ke Krakal (ke rumah temanku, murid Kweekschool Ungaran), supaya mampir ke rumah familinya di Kebumen. Beliau punya dua orang putri, ayu-ayu. Setelah aku tiba di rumah temanku, kusempatkan mampir ke rumah famili yang kabarnya punya putri cantik itu. Aku diterima dengan baik, namun gadis itu tidak diperkenalkan.

Ibuku mendapat jawilan (bisikan), ada prlyayi gedhe (pejabat besar) yang punya anak putri. Bila saling setuju, ibu hendak diajak besanan. Bapak Ibu tidak cocok, karena tidak seimbang (bapak waktu itu hanya kepala desa). Pensiunan Asisten Wedono Sawangan yang tinggal di Jepara juga punya anak putri. Dia lebih sesuai menjadi istriku. Aku sampai di Jepara sekitar sebulan kemudian, anak gadis itu sudah jadi pengantin.

Di Jepara, tidak berapa lama kemudian, ada yang ingin mengenalkan dengan seorang putri yang masih sekolah H.B.S kelas 3, tapi aku merasa takut. Akhirnya, setelah diberitahu ada informasi tentang seorang murid Kartini, pikir punya pikir, ngelekke mripat nganti mlolo, bibit, bebet, bobot, agama, cocok semua…. nggih; itulah yang sekarang menjadi ibumu. Menurut horoskop: Scorpio itu memang berjodoh dengan Gemini.

Meskipun Ibumu orang timur Gunung Lawu, sedangkan aku orang barat Gunung Merbabu, karena Gusti Allah menghendaki Gemini menjadi jodoh Scorpio, akhirnya kami bersanding sejak di Genuk (timur Semarang) hingga sekarang (petikan surat Bapak Kartoamijoyo tanggal5 Februari 1975).

Waktu aku hendak berangkat ke Jepara untuk menjadi guru di Sekolah Kelas I, diharap oleh Bapak dan Ibuku supaya segera mencari teman hidup yang layak, yaitu anak seorang priyayi, dengan berpedoman :
I.    Beragama Islam,
II.   a.    Bibit, yaitu anak seorang priyayi; b. Bebet, berkelakuan baik, c. Bobot, maksudnya terutama keadaanmu sesuai dengan keadaannya. Sesudah kira-kira tiga bulan di Jepara aku berkirim surat ke Sawangan, memberitahukan kepada orangtuaku, bahwa aku sudah menemukan yang kucari dengan keterangan secukupnya.

Bapak Ibuku setelah menerima suratku lalu datang ke Jepara, menuju rumah kangmas Musban, keluarga dari Ponorogo, dimana aku dan adikku mondok di sana. Bapak Ibu tidak lupa sowan Kepala Sekolahku, saudara sepupu calon ibumu, kangmas Kartowidagdo. Dari Jepara, Bapak Ibu memerlukan mampir Genuk, rumalh calon besannya, membawa oleh-oleh berupa cincin, bakal baju dan kain. Pembicaraan terpenting ialah hari perkawinan ditetapkan 8 Mei 1915 untuk bakal Bapak dan Ibumu.

.

Cerita Ibu

Aku melihat meneer Soekarto pertama kali ketika bersama kangmas Kartowidagdo hendak nonton Koloniale Tentoonstelling di Semarang. Kami menginap di rumah Bapak Ibu di Genuk, timur Semarang. Aku tidak diperkenalkan juga tidak berkenalan sendiri. Jumpa kedua kalinya sudah duduk bersanding, karena jadi pengantin. Aku menjadi istri meneer Soekarto.

Setelah kembul bujana (makan bersama), para putri bermain kartu di belakang rumah. Duduk lesehan di depan kamar pengantin. Aku tertidur pulas di lantai,di depan tempat tidur karena lelah. Aku tidak melihat kapan suamiku masuk kamar, karena aku tertidur pulas sekali, lagipula berselimutkan kain (jarik). Pagi harinya ketika aku terbangun, aku melihat ada seseorang di tempat tidur, kuamat-amati ternyata pengantin pria. Aku lalu keluar dari kamar, pelan-pelan, kemudian mandi. Orang-orang yang bermain kartu sudah bubar, di pendapa masih ada beberapa orang keluarga. Tak lama kemudian, pria yang di tempat tidur tadi bangun. Aku masih malu untuk menemui. Setelah mandi, pak Nganten ikut duduk di pendapa, lalu bersama-sama dhahar sarapan.

Kira-kira jam 9, guruku juffrouw Schippers- datang bersama teman-temanku. Aku bersama pengantin pria menemui mereka. Sejak itulah, aku diajak bicara oleh suamiku. Paginya. aku diajak suamiku ke Sawangan, diantar mbakyu Priyo, naik kereta. Di Sawangan dua malam, kemudian kembali ke Genuk, bersiap-siap boyongan (pindah) ke Jepara. Di Jepara, suamiku sudah menyediakan rumah sewaan, sudah berisi meja kursi, lemari dan perkakas dapur. Sejak itulah aku gendhon rukon dengan mas Soekarto – sampai sekarang. Selamat tanpa halangan suatu apa.

Pesan Bapak untuk para suami istri

Pesan yang menjadi harapan sewajarnya bagi setiap suami isteri :

  1. Berkat petunjuk dari orangtuaku, aku dapat memilih bakal istriku dengan tepat.
  2. Bapak dan Ibu sejak dahulu hidup rukun.
  3. Bapak dan Ibu menjadi teladan anak cucu
  4. Tidak pernah menyusahkan kaum keluarga
  5. Dapat membimbing anak cucu ke jalan yang benar

.

back to Daftar Isi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: