Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Album Trah » Bekal Hidup Berumahtangga

Bekal Hidup Berumahtangga

Blog Stats

  • 56,859 hits

Archives


Gegarane wong akrami
Dudu bandha dudu rupa
Amung ati pawitane
Luput pisan kena pisan
Yen gampang luwih gampang
Yen angel, angel kalangkung
Tan kena tinambak arta

.

Di atas tertulis syair tembang Macapat Asmaradhana. Kalau tidak salah yang mengarang pujangga Raden Ngabei Yosodipuro, kakek dari Raden Ngabei Ronggowarsito, pujangga di Kraton Surakarta. Kiranya tidak perlu aku jelaskan, semua sudah bisa memahami artinya.

Kami berdua, bila Gusti Allah memperkenankan, besok tanggal 8 Mei 1975 mendatang hendak kalian sowani, kalian mintai berkah, supaya selamat perjodohan kalian semua hingga kaken-kaken ninen-ninen, seperti Bapak Ibu. Piwulang tembang Asmaradhana di atas memang benar, dan bagus sekali. Kami berdua bukan orang kaya. Aku bukan wanita ayu, hingga Bapak kesengsem kepadaku. Keluargaku juga bukan orang kaya. Pendidikanku tidak tinggi. Meski begitu, Bapak menghendaki aku, karena aku memiliki bibit (silsilah) yang baik. Pergaulanku dengan putri-putri para priyayi dan orangtuaku bukan orang sembarangan meskipun bukan priyayi luhur (pejabat besar), jadi setimbang dengan keadaan Bapak sakeluarga.

Setelah aku menjadi istri Bapak, semakin nampak kekuranganku. Belum bisa memasak, dicarikan pinjaman buku masak supaya aku bisa mengutip yang perlu-perlu. Lha, waktu itu membuat telur mata sapi saja belum bisa, apalagi yang macem-macem. Bapak hanya mesem (tersenyum) saja, bila yang kusajikan gosong atau mentah, tidak pernah mengatakan tidak enak. Lama-lama, aku jadi malu sendiri, karenanya semakin tekun aku belajar olah-olah (memasak).

Belum bisa mengelola uang, Bapak mengajariku boekhouding. Belum bisa membuat baju dan kotang (baju dalam), lalu belajar kepada seorang priyayi putri tetanggaku. Kadang mendapat kiriman racikan jamu dari Ibuku, kemudian dipesankan botokan. Semua gaji Bapak diserahkan kepadaku. Pengeluaranku setiap hari kucatat. Setiap bulan gaji Bapak harus ada sisa, supaya bila suatu ketika ada keperluan tidak sampai utang-utang. Karena itu, setelah anakku Siti Suparti lahir, lantas aku belikan gelang emas.

Setelah Bapak pindah ke Sala, meskipun tidak sering kami sempat nonton wayang orang di Sriwedari, aku bisa membeli gelang, memperbesar subang. Tidak lupa, setiap bulan juga mengirim untuk Bapak Ibu Sawangan dan Madiun. Akhirnya, meskipun dengan mengangsur, bisa membeli gubug di Gondowijayan. Harganya waktu itu Fl 11.- (elf gulden atau sebelas rupiah jaman itu).

Bapak, selain bekerja sebagai Mantriguru di Sekolahan Panularan, juga merangkap mengajar kursus Calon Guru Desa Mangkunegaran serta menjadi Leider Kursus Guru Desa Muhammadiyah Sala. Karena itu, utang untuk membeli rumah dapat segera lunas, dan dapat terus memperbaiki rumah. Semula bertembok gedhek (bambu), kemudian menjadi kotangan (separo bambu separo tembok). Lantainya semula mester (semen), diganti tegel. Pagar yang semula bambu, diganti kayu.

Baru saja rampung, tiba-tiba Bapak dipindah ke Purworejo, menjadi Mantriguru Sekolah Angka 2, juga merangkap menjadi Leider Kursus Guru Desa. Aku terns menangis, tapi bagaimana lagi. Aku mengikuti Bapak ke Purworejo. Selama tinggal di Sala, lahirlah anak-anakku: Liek (Soeparto), Tjoek (Soeharso), Noek (Srimiranti), dan Woel (Sri Woelan). Di Purworejo belum sampai setahun, PENI lahir; waktu itu tanggal 10 Nopember 1928.

Pada awal tahun 1929 Bapak menerima telegram dari Departement O & E, ditawarkan apakah bersedia diangkat menjadi Guru Normaalschool di Serang (Banten) dengan gaji waktu itu 142 gulden ditambah 100 gulden. Telegram itu harus dijawab segera: Ja of neen. Bapak memberikan jawaban, “Ja!”.

Baru di Serang beberapa bulan, Bapak menerima telegram bahwa Bapakku (R SASTROATMODJO) di Madiun kondur marang jaman kalanggengan (meninggal). Kami berdua segera sowan ke Madiun. SITI dan LIEK kami tinggal di Serang, momong adik-adik mereka berempat. Anakku Pomo (Soepomo) lahir setahun setelah kami tinggal di Serang. Dua tahun kemudian lahir pula adiknya, Tatiek (Sri Soekanti). Pada tahun 1934 Normaalschool Serang ditutup. Bapak dipindah ke Poerwokerto bersama murid Jawa dua kelas. Baru dua malam di Purwokerto, aku melahirkan Siti Soekapti.

Ternyata di Purwokerto kami pun tidak lama, karena Bapak dipindah dengan promosi pada tahun 1935 sebagai Schoolonziener (Penilik Sekolah) di Bojonegoro. Di kota ini pengalaman kami dilengkapi lagi, yaitu kecuali lahir Naniek (Sri Suwarni) dan Gemol (Sri Kadari, alm), Soenaryo dan Onengan (Sri Murtini), kami pun mantu anak pertama.

Waktu Perang Dunia meletus, kami semua mengungsi ke desa Dander. Dan semasa pendudukan Jepang, Tjoek sudah jadi polisi, Bapak dipindah ke Tuban. Jaman Republik, di Tuban kami dikunjungi Hoofd Schoolopziener BRODJONEGORO, Kepala Jawatan Pendidikan Masyarakat. Bapak menyampaikan keinginannya untuk bekerja di Kementrian. Beberapa bulan kemudian kami bisa kembali ke Sala, tinggal di Gondowijayan II/10 hingga sekarang, rumah kami sendiri.

.

Diceritakan secara lisan oleh Eyang Putri, ditulis oleh Bapak Suparto, Editing : Dwi Pramono

.

back to Daftar Isi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: