Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Kolom » Tulisan Eyang Durahman tentang Kyai Sastrorejo

Tulisan Eyang Durahman tentang Kyai Sastrorejo

Blog Stats

  • 57,007 hits

Archives


[dari Buletin Trah Kartoamijayan]
.

Ayah dan Ibu adalah saudara sepupu. Sebelum dengan Ibu kami, Ayah telah menikah dengan wanita dari Yogyakarta, hanya berlangsung kira-kira satu tahun, karena istri Ayah yang pertama meninggal dunia. Dimana Ayah sekolah aku tidak tahu. Yang diceritakan Ibu hanya beliau pernah dicalonkan meneruskan sekolah ke negeri Belanda tetapi Embah tidak setuju. Kemudian Ayah bekerja pada seorang Belanda yang punya perusahaan di Sawangan (entah perusahaan apa) dengan gaji yang cukup baik, sampai ayah dapat membeli savrah dan pekarangan, dll., sehingga Embah merasa tidak perlu memberi bagian tanah warisan kepada Ayah, seperti kepada saudara-saudaranya yang lain. Sayangnya, orang Belanda itu di Sawangan tidak begitu lama, lalu menutup usahanya dan pergi entah kemana, aku tidak tahu.

Pada suatu waktu Desa Bakalan (sebelum digabungkan dengan Sawangan), lurahnya lowong. Ayah mencalonkan diri dan terpilih jadi Lurah Desa Bakalan. Di Bakalan, Ayah dapat menambah tanah dan sawahnya, dan juga dapat membeli pekarangan serta mendirikan rumah di Bakalan. Entah berapa lamanya Ayah menjabat lurah, maka desa Bakalan digabungkan dengan desa Sawangan, dan yang terpilih jadi lurah gabungan itu Pak De Lurah.

Ayah pernah ngendika, yang aku ikut mendengar, “Anak-anakku dak kudang pada dadi priyayi, nanging dudu priyayi BB”. Maka putra-putranya disekolahkan. Putra pertama, sekeluarnya dari sekolah lalu bekerja di Pakis dan Tegalreja Magelang, kemudian terpilih menjadi Lurah Sawangan menggantikan Pak Dhe Lurah. Putra Kedua, sesudah keluar sekolah, ndherek Bupati Purworejo, kemudian bekerja sebagai Jurutulis kontrolir pegadaian. Putra Ketiga, sesudah lulus Sekolah Angka Siji Magelang, Kweekschool Muntilan 1 tahun lalu pindah Kweekschool Ungaran. Setamat Kweekschool menjadi guru HIS Jepara. Putra keempat, aku sendiri. Aku tidak dapat masuk HIS karena pada mulai ada HIS sudah lewat umur untuk masuk sekolah tersebut. Kemudian aku masuk pendidikan juru rawat, sampai lulus terus bekerja. Putra kelima, masuk HIS Magelang lulus dengan baik (angka 9) lalu lulus Kweek School, kemudian bekerja pada Maskapai Kereta Api, lalu pindah ke Dinas Kereta Api (S.S.). Putra keenam, sesudah HIS masuk Kweekschool Ungaran. Sesudah lulus jadi guru. Putra ketujuh, Yahya, sesudah lulus HIS masuk MULO. Kemudian bekerja di Gubernuran Surabaya lalu pindah Semarang.

Almarhum ayah tidak kaya, meskipun sawahnya tidak hanya satu seperempat hektar, yang dianggap oleh orang sekarang terlalu sedikit, karena pada waktu Ayah menjabat Lurah Bakalan dapat menambah tanah/sawah, antara lain yang kuketahui: kidul Bakalan, Nepen, lor Ngentak dan Semaren. Itu semua kira-kira cukuplah untukmembiayai putra-putranya….. ” (Buletin TKH).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: