Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Kolom » Serba-serbi Reuni 1995

Serba-serbi Reuni 1995

Blog Stats

  • 57,007 hits

Archives


Dirangkum oleh Dwi Pramono
Reporter :
Hari Satriyo Basuki (3.6.2.0.), Sukanto (1.1.4.0.+.), Slamet Budiono (6.2.8.0.+.) Dinar Setiasih (5.6.7.0.) Dilengkapi sumber dari : Bapak Suparto (3.3.0.0.), Bapak Soepomo (3.8.0.0.) dan Mas Suprapto A.diputro (3.4.3.0.+.)

Pengantar

Redaksi menenma beberapa tulisan berkaitan dengan Reuni Akbar Paguyuban Trah Sastrorejan 1995. Mengingat adanya kesamaan materi yang disampaikan, maka Redaksi merangkumnya menjadi satu tulisan panjang: reportase sekaligus komentar dan juga opini.

Rencana 1996, Realisasi 1995

Dalam agenda pertemuan TKH yang telah disusun sampai dengan tahun 2000, telah dijadwalkan, bahwa tahu 1996 sadranan akan diadakan dua kali: 5 Januari 1996 dan 20 Desember 1996. Gagasan untuk menyatukan dua kesempatan Sadranan tersebut menjadi satu kali saja –pada masa libur sekolah Juni-Juli 1996–dilontarkan oleh Bapak Suparto –Ketua dan sesepuh Rumpun Kartoamijayan– pada malam pertama Sadranan 1995 (12/01/95).

Karena tradisi sadranan biasanya dilakukan bulan Ruwah, maka Bapak Soepomo mengusulkan agar pertemuan Juni-Juli 1996 disebut Reuni Tedhak Sastrorejan, sedangkan sadranan dilaksanakan sesuai jadual, sehingga bila benar terlaksana, pada tahun 1996 akan terdapat kesempatan tiga kali pertemuan keluarga.

Pada sadranan 1995 tidak dilaksanakan shalat Jumat, karena rombongan Solo mengalami kecelakaan lalu Iintas di daerah Salam, dekat jembatan Kali Krasak. Sekalipun demikian, diputuskan untuk melanjutkan perjalanan, menuju rumah sdr. Abdullah di Mergawangsan. Di tempat itu, rombongan Solo berjumpa dengan para anggota Kadang Achmad Manunggal di bawah pimpinan adinda Ngabdullah Ichsan. Gagasan Reuni TKH pada bulan Juni/Juli 1996 dibicarakan dengan rombongan KAM serta keluarga Sawangan, dan diperluas menjadi Reuni Sastrorejan.

Bersamaan dengan persiapan penerbitan MEDIA SASTROREJAN yang dimotori Bapak Edi Suardi, pada kunjungan Lebaran 141SH diperkenalkan juga rencana reuni, yang oleh Bapak Edi di-expose-kan pada pertemuan PKBS (Paguyuban Keluarga Besar Sastrorejan) Jabotabek di Jakarta.

Tanggal 11 Juni 1995 PKBS Sentra Bandung membentuk Panitia Kecil untuk menghadapi Reuni (baca MS Edisi Perdana) yang 20 Juni 1995 berhasil menyusun usulan jadual kegiatan sampai bulan Juli 1996. Agustus 1995 Tedhak Sastrorejan Semarang menyampaikan hasil pertemuan mereka tanggal 25 Juni 1995, yang intinya tidak setutu Reuni diselenggarakan pada tahun 1996, karena… “kegiatan pra-Pemilu … sudah mulai menunjukkan grengsengnya pada sekitar medio 1996 itu. Bila diselenggarakan di Jawa Tengah, mereka mengusulkan justru setelah tahun 1997. Kalau Sentra lain menghendaki diadakan pada medio 1996, mereka mengusulkan diselenggarakan di luar Jawa Tengah (misalnya Jakarta atau Bandung).

27 Agustus 1995 diselenggarakan pertemuan PKBS Sentra Jabotabek di Bandung, yang memutuskan Sadranan TKH mendatang tidak jatuh pada hari Jumat Kedua bulan Ruwah, melainkan dijatuhkan pada hari Jumat pertama atau 29 Desember 1995. Tanggal 1 Oktober 1995 Bapak Supomo mengedarkan pemberitahuan kepada para Tetua Rumpun. Dalam surat beliau disebutkan, bahwa “..Trah Kartoamijayan akan ziarah ke makam Mudal Sawangan, didahului dengan shalat Jumat berjamaah dl Musholla Al Ja’far Sawangan. Alangkah berbahagianya apabila segenap turunnya Kiai Sastrorejo bisa menyempatkan diri bergabung dengan kami pada peristiwa tersebut….”

17 Oktober 1995 Bapak Suparto mengirim surat penunjukan Bapak Sunaryo dan Mas Soeroso untuk menjadi Panitia Lokal “Pra-Reuni Akbar 28-29 Desember 1995” dengan embel-embel “…acara garis besarnya silakan dikembangkan dan diatur…”

Bulan Nopember 1995, dalam Buletin TKH disajikan “kaleidoskop” sejak terbentuknya Persatuan Darah Sastrorejan (Perdasa) hingga rencana Reuni Akbar 1995. Kesiapan Panitia Lokal Hanya dalam waktu kurang lebih 3 bulan, panitia lokal yang mewakili unsur-unsur rumpun dalam Trah Sastrorejan yang tinggal dl Magelang dan sekitarnya, teiah berhasil mempersiapkan acara dan segala uba mempersiapan acara dengan sangat baik. Sejak pembentukan kepanitiaan, pemilihan gedung, pengaturan acara, dan lain-lain, nampak profesional meskipun untuk keperluan sebuah pertemuan keluarga.

Tempat pertemuan Panitia lokal yang diketuai oleh Mas Soeroso temyata telah memilih suatu lokasi yang strategis untuk peiaksanaan pertemuan. Wisma BPLK Departemen Keuangan yang terletak di Jalan Alun-alun Utara 2 Magelang itu, tidak sulit dicari dan berada di pusat kota Magelang. Apalagi di atas gapura wisma telah terpasang dengan megahnya, sebuah spanduk bertuliskan “TEMU KANGEN TEDHAK SASTROREJAN SAWANGAN”.

W1sma tersebut memiliki penginapan dengan 40 kamar yang masinj masing terdiri 3 tempat tidur dengan kamar mandi di dalam, dan terletak pada satu gedung berlantai tiga. Di halaman depan tersedia pendopo (auditorium) yang cukup luas untuk tempat pertemuan, juga ada mushola, ruang makan dan sarana berolahraga, dan lain-lain yang sangat memenuhi syarat untuk (bila suatu ketika diadakan) “kongres keluarga besar Trah Sastrorejan”.

Letaknya yang di tengah kota memberikan kemudahan untuk pelbagai kebutuhan (fotocopy, telpon, belanja, dll.). Air mandi dan minum pun berlimpah. Petugas Wisma juga penuh pengertian bagi para keluarga muda yang membutuhkan air panas untuk mandi para balita.

Kedatangan Peserta Reuni Kamis pagi, 28 Desember 1995, rombongan Oom Edi Suardi dari Bandung beserta putra wayah, tiba di Wisma. Menyusul kemudian rombongan dari Jakarta dengan menggunakan bis wisata Big Bird yang tiba sekitar pukul 11.00. Rombongan Pak puh Suparto (termasuk keluarga Bima dari Aceh Timur) telah slap di wisma sejak pagi. Sekitar pukul 16.00 Oom Safaat dan Bu Tatiek, dikawal oleh Dedy sekeluarga tiba. Rombongan Solo tiba menjelang maghrib dengan menggunakan bis Rosalia Indah. Temyata yang menginap di luar Wisma juga banyak.

Panitia dengan sigap mengatur penempatan rombongan di kamar-kamar yang telah dipersiapkan. Sedikit masalah terjadi, karena gedung penginapan berlantai tiga, sementara ada beberapa sesepuh yang (akan menemui) kesulitan bila ditempatkan di lantai II atau lantai III.

Sementara itu, susunan acara telah disebar (mungkin tidak merata). Papan nama di dada juga telah dipersiapkan dan sebagian telah dipakai oleh para peserta (sayang, sebagian besar tidak memakainya). Jumlah anggota yang hadir pada pertemuan Magelang adalah rekor jumlah terbanyak sejak diselenggarakannya beberapa pertemuan sejak tahun 1989. Tercatat dari Rumpun Haji Saleh 63 orang, Rumpun Kartoamijayan 70 orang, Rumpun Abdurrahman 25 orang, Rumpun Achmad 26 orang, dan Rumpun Yachya 6 orang. Total hadir pada pertemuan di Wisma BLKP 190 orang. Seorang wakil dari Rumpun Irsyad (Bapak Achmad Suryono) baru dapat hadir pada acara di Sawangan dan menurut hitungan mas Sukanto, jumlah anggota yang hadir di Sawangan sebanyak 109 orang, sebagian di antaranya tidak tampak hadir pada acara malam hari sebelumnya (mungkin mempersiapkan acara di Sawangan atau baru hadir). Diperkirakan (sayang tidak ada daftar hadir yang akurat), jumlah seluruh anggota yang mengikuti reuni – balk pada sebagian maupun keseluruhan- berkisar pada angka 250 orang dari balita hingga manula. Lebih dari 30% seluruh anggota yang jumlahnya -menurut data Bapak Koordinator- sebanyak 713 orang. Memang suatu pemecahan rekor! Salut untuk Panitia Lokal.

Selain kadar hadir, persebaran tempat tinggal peserta yang hadir pada acara reuni tersebut juga istimewa. Keluarga Chandra Bima dari Aceh, yang semula ragu-ragu ternyata bisa hadir. Dari Lubuk Linggau hadir Bapak Syueb Tammat. Mungkin masih ada lagi yang dari luar Jawa. Anggota yang mukim di pulau Jawa pun persebarannya beragam, dari Jakarta (dan sekitarnya), Bandung, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Solo, Yogya, Magelang, dan sekitamya (tentu saja), Madiun, Malang, Sidoarjo. Luar biasa! Berpuluh atau beratus kilometer jaraknya, datang nglurug ke Magelang untuk bertemu dengan saudara sedarah seketurunan.

Pengaturan Acara Nampaknya sulit bagi Panitia Lokal, untuk menggabungkan dan meramu aneka kepentingan menjadi suatu kemasan acara yang “produktif” dan mampu melibatkan semua pihak. Para tetua rumpun tentunya mengha apkan pertemuan itu menghasilkan sesuatu yang strategis bagi kelangsungan hidup Paguyuban di masa mendatang. Para muda-mudi, tentunya selain ingin berkenalan dengan saudara-saudaranya, juga berharap ada acara yang sesuai dengan jiwa mudanya.

Dalam perjalanan waktu mempersiapkan acara reuni, ada beberapa usulan acara dan agenda pertemuan. Ada “Panduan Acara Reuni”, ada “Tentative Acara Inti” yang dikirimkan oleh Panitia Lokal, ada pula rancangan acara versi Redaksi Buletin TKH (Nop. 1995), dan usulan agenda pertemuan pada Buletin TKH Des. 1995. Mungkin cukup membingungkan, baik bagi panitia lokal maupm para peserta.

Memang, seperti ditulis oleh Dinar tidak mudah untuk mempertemukan semua kepentingan anggota dalam pertemuan dua hari itu. Cukup banyak yang mencoba berperan secara aktif, namun lebih banyak lagi mereka yang bersikap “menunggu” dan kurang berani mengambil inisiatif untuk mengatasi kevakuman acara. Mwngkin juga, karena banyaknya program yang diharapkan dapat dituntaskan dalam dua hari itu. Cukup banyak peserta yang menjadi bingung dan akhirnya duduk manis saja sebagai penonton. Apalagi memang banyak di antara peserta yang rupanya belum saling kenal.

Betul-betul diperlukan tenggang rasa yang dalam untuk bisa menyelenggarakan reuni akbar Sastrorejan Desember 1995 dengan baik (Bapak Suparto).

Malam Silaturahim

Rangkaian acara diharapkan dimulai dengan salat Maghrib berjamaah. Sudah terasa, bahwa segala sesuaturya akan motor waktunya. Jamaah maghrib hanya diikuti oleh sekitar 7 orang dan akhirnya tanpa kultum (kuliah tujuh menit). Acara makan malam juga mundur waktunya. Panitia sudah slap “on time” demikian pula sebagian peserta. Sebagian yang lain mungkin masih bebenah di kamar atau baru hadir. Meskipun dalam satu kompleks temyata tidak mudah juga untuk berkomunikasi. Nampak panitia sampai sweeping ke kamar-kamar, agar peseita segera dahar. Begitu juga ketika acara di aula sudah siap, lagi-lagi panitia mesti sweeping ke ruang makan agar peserta bisa segera bergabung ke aula.

Dapatlah ditebak, karena masing-masing acara saling berkait, maka bila suatu acara mundur acara berikut juga mundur waktunya. Sebagai pemandu acara di aula adalah Ibu Lurah dari Klaten (Ina Soegono) dan pembacaan kalam ilahi oleh Pamungkas Adi Sasongko, sedangkan terjemahannya dibacakan oleh ibundanya (mbak Susi Soeroso).

Ketua Panitia, Mas Soeroso, ketika memulai sambutan sudah sekitar pukul 20.00. Beberapa informasi yang disampaikan oleh Ketua Panitia antara lain, bahwa pada musim haji mendatang Mas Daryono (6.1.2.0.+.) dan istri akan menunaikan ibadah haji. Disampaikan pula beberapa berita duka menjelang acara reuni, yakni tanggal 20 Nop. 1995 Bapak Suprayitno Adi (7.4.0.0.+.+.) meninggal dunia dalam usia 56 tahun (lahir 07-06-1939), tanggal 20 Desember 1995 mas Pudji Sukarno (1.2.4.0.), Sekretaris Kecamatan di Kabupaten Pemalang meninggal dalam usia 42 tahun (lahir 18-09-53). Dan hanya dua hari menjelanj acara reuni — tanggal 26 Desember 1995– mbak Parwati Sumitro (3.1.3.0.) seorang guru yang telah mengajar sejak tahun 1964 (!) juga dipanggil menghadap Ilahi dalam usia 41 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Selanjutnya Bapak Suparto, selaku Koordinator Tedhak (sekarang Trah) Sastrorejan menyampaikan sambutannya. Diselingi istirahat untuk menikmati hidangan tradisional, acara kemudian dibagi: sebagian tetap di pendopo, sebagian lagi mengikuti rapat di Ruang B.  Karena terbatasnya alokasi waktu, ada satu acara yang disebut dalam “Tentative Acara Inti” tidak tergarap: perkenalan bagi anggota yang belum kenal.

Rapat Kilat

Sementara yang lain bergembira di pendopo BPLK, beberapa anggota menuju Ruang B untuk mengadakan rapat. Dalam pertemuan khusus itu, hadir mewakili Rumpun Haji Saleh: Bapak Muchsin, Bapak Abdullah, Mas Sudarno, Bapak Suradji, Mas Heru Dwiyanto, Mas Buchori dan Nyonya (mbak Tuti), Bapak Syueb Tammat, Bapak Sutrisno, dan Mas Zuhal. Dari Rumpun KH: Bapak Suparto, Bapak Supomo, Bapak Safaat, mas Poerwanto, dan Dwi. Dari Rumpun AW: Oom Edi Suardi dan mbak Nuning Soegono. Rumpun Achmad: Oom Soedjono, Oom Ichsan, mas Soeroso, mas Slamet Budiono. Rumpun Yachya: Bu Naniek.

Apakah yang bisa diharapkan dari pertemuan dengan sejumlah agenda dalam waktu lebih kurang 1 Jam? Secara umum memang diperoleh beberapa kesepakatan mendasar. Namun bila diharapkan dalam pertemuan singkat itu dihasilkan program kerja yang kongkrit, memang sulit sekali. Beberapa tetua rumpun (juga para tokoh mudanya) setuju, bahwa sebaiknya sebelum rapat tersebut, ada suatu badan pekerja yang telah merancang materi-materi yang akan dibahas. Dengan demikian, pada rapat tersebut diharapkan pembahasan final dan pengesahannya (dan tinggal teriak: setujuuuu!).

Secara ringkas, hasil pertemuan tersebut disajikan oleh Bapak Soepomo, yang pada pertemuan tersebut bertindak selaku pengarah/moderator. Beberapa hal lain yang telontar dalam rapat dan bisa menjadi “PR” bagl penyusun AD/ART atau segenap anggota dapat dilihat berikut ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: