Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Kolom » Menggabungkan Reuni dan Rekreasi

Menggabungkan Reuni dan Rekreasi

Blog Stats

  • 56,544 hits

Archives


oleh Dinar Setiasih (5.6.7.0.)

.

Jauh hari sebelum acara reuni, para anggota keluarja Trah Sastrorejan mendapat surat pemberitahuan (alias panduan) dari panitia yang menyatakan bayangan acara sekaligus tempat menginap peserta. Walaupun acara keluarga, profesionalisme penyambutan harus rapi, kan?

Kami yakin, setelah mendapat surat tersebut, bermacam-macam reaksi muncul di benak pembaca. Bagi para pegawai Bank yang menanjani operasional perusahaan misalnya, mengambil cuti menjelang, tutup tahun pasti membutuhkan perjuangan gigih. Apa daya, akhir tahun memang saat tutup buku.

Akhirnya, terjadilah perang antara keinginan untuk hadir dan tugas yang membayang di depan mata. Belum lagi mereka yang berprofesi sebagai guru. Kita tahu, bahwa akhir tahun bukanlah saat liburan sekolah. Demikian pula bagi dokter dengan segudang kesibukannya, dan pelbagai profesi lain yang pasti membutuhkan perhitungan cermat untuk mengambil cuti. Bagi mereka yang memutuskan ikut, tentu juga menghadapi bermacam-macam kendala, seperti mencari penunggu rumah yang akan menjaga, sewaktu ditinggalkan, atau cukup dikunci saja seraya wanti-wanti kepada tetangga untuk sesekali melongok.

Namun dari semua kendala yang dihadapi, panitia cukup sukses mendatangkan peserta. Dan kami yakin perjalanan panjang bagi mereka yang tinggal ratusan kilometer dari Magelang ini sekalijus saat tepat untuk berekreasi.

Seperti apa rekreasi tersebut? Bagi sebagian orang yang rutin menjalani aktivitas sehari, bertemu keluarga di arena reuni ini pasti menjadi sarana rekreasi pula. Sentra Jakarta misalnya, berangkat berombongan dengan menggunakan bus wisata. Selain bisa terbebas dari “kewajiban” menyetir sendiri atau menyendiri di bus malam, keberangkatan ini dapat menciptakan kebersamaan. Selain hadir di acara reuni, mereka juga menyempatkan diri mampir ke kota Yogya yang relatif dekat dengan Magelang. Bahkan, di hari berikutnya, setelah berkunjung ke “tanah leluhur” di Sawangan, mereka pergi ke Candi Borobudur untuk cuci mata.

Keluarga Edi Suardi pun, yang termasuk ke dalam rumpun Abdurrahman berkesempatan untuk menggunakan acara ini sebagai ajang rekreasi untuk membawa cucu-cucu ke tempat-tempat wisata. Bila kita cermati, hal ini memang penting. Selain memberikan “udara segar” dari kerutinan, juga semakin mempererat persaudaraan.

Partisipasi peserta Reuni Trah Sastrorejan memang telah kita lewati bersama. Namun ada sesuatu yang terasa kurang dalam kegiatan tersebut, yaitu kurangnya partisipasi dari peserta reuni. Saya jadi ingat waktu menyelenggarakan acara rekreasi di kantor, yang diselenggarakan bersama keluarga masing-masing. Saya nyaris frustasi mencari acara yang cocok, karena belum tentu setiap keluarga mau mengikuti (seluruh) rangkaian acara. Akhrnya, saya bersama teman-teman menciptakan acara yang terbagi menjadi acara kelompok anak-anak (kebetulan di antara kami belum ada yang memiliki anak remaja), kelompok suami-isteri, ibu-ibu dan bapak-bapak, serta free for all, yang difokuskan di tempat yang lapang.

Acara anak-anak dibuat seperti acara tujuh belasan, misalnya balap kerupuk, balap kelereng. Bagi bapak-bapak ada balap karung, balap kerupuk sambil jongkok, dan yang paling ramai adalah tarik tambang. Ada lagi yang paling ramai dan mengundang tawa, yaitu lomba menggambar dengan mata tertutup.

Acara rame-rame berlangsung di malam hari dengan nyanyi bersama dan pembagian door prize yang kami selipkan di pining, beberapa peserta yang makan malam. Kebersamaan inilah yang paling sulit diciptakan. Namun pada saat pulang ke tempat masing-masing, terlihat kesan yang mendalam di antara peserta.

Mungkin, dengan menggabungkan acara permainan dan reuni ini dapat mengobati kerinduan anggota Trah Sastrorejan untuk dapat bergaul sesama anggota. Terkesan main-main namun mencakup semua batas usia, tanpa harus menghilangkan rasa hormat kepada mereka yang lebih tua, baik dalam usia maupun generasinya.

Saya yakin, bila waktunya lebih panjang -baik persiapan maupun pelaksanaannya- kebersamaan ini akan dapat menghasilkan kesan yang (lebih) mendalam. Dan saat pulang kembali ke rutinitas yang membelenggu, ada sedikit kesadaran bahwa kita adalah anggota Trah Sastrorejan. Namun, di balik itu semua, saya angkat topi bagi mereka yang telah rela bercapek-capek jadi panitia.

Memang tak gampang untuk mengurusi anggota keluarga dengan bermacam keinginan yang tak semuanya bisa dituruti.

Advertisements

2 Comments

  1. arylangga says:

    salam kenal…blognya keren …he…hee

  2. yudi says:

    Salam kenal juga, mas Arylangga. Ternyata, ada juga yang keblasuk ke sini. Makasih comment-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: