Orek-orekan Dwi Pramono

Home » Kolom » Manajemen “Sak Kobere”

Manajemen “Sak Kobere”

Blog Stats

  • 56,544 hits

Archives


[dari Buletin TKH, Januari 1995, written by Dwi Pramono]

.

Mengelola suatu penerbitan, baik yang komersial maupun yang amatiran macam buletin kita ini memang susah-susah gampang. Untuk bisa mempertahankan kelangsungan terbitnya, memerlukan “seni” tersendiri yang agaknya spesifik untuk setiap pengelolanya. Bagi keluarga kami, selama kurun waktu dua tahun mengelola Buletin TKH, cukup banyak pengalaman yang kami dapatkan. Berikut ini kami sampaikan cerita tentang sedikit pengalaman kami tersebut, yang siapa tahu bisa memberikan inspirasi bagi pembaca. Mungkin saja salah satu dari Anda bakal ketiban sampur untuk mengelola buletin, atau Anda berminat mengembangkan di lingkungan kantor atau sekolah, tulisan ini mudah-mudahan ada manfaatnya.

Komputer sebagai penunjang

Tidak bisa dipungkiri, tanpa komputer buletin kita tidak bisa tampil seperti ini. Alhamdulillah, antara lain berkat ‘tuntutan’ mengelola buletin, kami berhasil memiliki seperangkat komputer, meskipun dapatnya pun kreditan. Komputer kami “Cap Jangkrik”, tapi jeroannya terpilih. Processornya Inte180386DX2, hard disk 420 MB, RAM 4 MB, 2 FDD, monitorSVGA, tentunya lengkap pula dengan ‘tikus’ komputer (mouse) karena kami banyak menggunakan aplikasi Windows. Meskipun jangkrik, kinerjanya tak kalah dengan yang built-up (saya bandingkan dengan yang digunakan di kantor). [note: tahun 1990-an punya spesifikasi komputer seperti itu saja sudah bangga].

Untuk printer, saya tak berani memilih ‘jangkrik’, karena bagaimana pun “ruwetnya” proses produksi, orang biasanya lebih melihat hasil akhir. Karenanya kami menggunakan Hewlett Packard LaserJet (HP4L). Dampak positif adanya HP, yakni datangnya order setting dari beberapa percetakan. Ya.. lumayanlah sebagai side income.

Pilihan Software

Sebagaimana saya kemukakan dalam Buletin TKH Des. 1993, software yang saya gunakan adalah A!dus PageMaker dan CorelDraw!(memang nulisnya dengan tanda pentung begitu). Biasanya Iin yang mengetik ulang naskah-naskah yang masuk, karena dia lebih cepet ngetiknya. Untuk keperluan mengetik, yang paling mudah digunakanmenurutkamiadalah WordStar (WS Release 4). Kalau ada tabel (jarang) kami gunakan Lotus 1-2-3 atau QPro.

Setelah naskah selesai, baru dipindahkan ke PageMaker untuk diatur layout-nya. Pengaturan 2 kolom atau 3 kolom, penomoran halaman, pemilihan jenis huruf, dll. dilakukan dengan PM. Jenis huruf yang disediakan oleh Windows yang kami miliki ada sekitar 170-an jenis. Gambar ♦ atau © pada akhir naskah, itu pun termasuk jenis huruf.

Suatu hal yang mungkin memudahkan penyusunan buletin adalah karena kami hanya berdua saja yang menyusun, dan kebetulan seleranya lebih kurang sama. Idealnya memang ada suatu tim redaksi yang meeting dulu untuk menentukan oke atau tidaknya suatu desain. Sementara ini, paduan Dwi-lin saja dulu yang dianggap tim. Nanti soal manajemen kami konsultasikan kepada Oom Safaat (Oke, Oom?).

Rubrikasi

Pilihan nama rubrik sebenarnya sejak dulu pun sudah ada. Yang paling populer adalah SERI(AL) 921, dengan redaktur tunggal Eyang Suparto. Gagasan untuk memberikan nama rubrik sebenarnya untuk lebih memudahkan Redaksi untuk pengisian materi. KALAM, misalnya, ditujukan untuk da’wah/syiar Islamiah. INFO SEHAT untuk menyebarluaskan informasi kesehatan populer. RAGAM, sesuai dengan nama rubriknya, memang untukaneka macam tulisan, cerpen, info. Paling ideal kalau masing-masing rubrik ada redakturnya, karena kesinambungan atau tersedianya materi bisa diharapkan.

Setelah Eyang Suparto tidak terlalu lagi aktif, memang yang sementara ini saya `jagakke” adalah Oom Edi Suardi dan Oom Safaat. Banyak anggota lain yang sesekali mengirim naskah, kartun, atau kliping. Alangkah baiknya kalau frekuensi kirim yang masih “sesekali” tadi ditingkatkan menjadi “seringkali”. Kalau perlu nanti kami pilihkan nama rubrik khusus untuk artikel Anda.

Cover

Untuk membuat cover buletin, foto yang akan dijadikan cover saya bawa ke copy center yang memiliki mesin fotocopy laser. Perbesaran dibuat sesuai dengan permintaan kita. Khusus untuk keperluan buletin copy laser cukup dengan HVS biasa karena toh akan digunting & ditempel di lembar yang sudah disiapkan untuk cover.

Ada cara yang lebih canggih yang bisa dilakukan, yakni dengan menggunakan scanner. Foto atau gambar yang dikehendaki di-scan terlebih dahulu. Hasil scanning-nya bisa tampil di monitor dan selanjutnya bisa diutak-atik sekehendak kita (tapi mahal).

Untuk judul buletin di halaman cover, sementara ini saya suka model yang terakhir ini. Jenis hurufnya STEAMER yang diberi efek extrude pada CorelDraw!. Penginnya sih, seperti majalah komersial yang sudah punya standar untuk logo, buletin kita mestinya bisa juga memilih satu pola yang baku. Sayang juga, sejauh ini para anggota yang suka nggambar atau mendisain belum ikut andil.

Cetak dan distribusi

Setelah selesai semua proses penyusunan sampai dengan pencetakan buletin di rumah, mau tidak mau kita harus berhubungan dengan pihak ketiga yakni kedai totocopy. Anggaran yang disediakan oleh kas TKH untuk setiap edisi adalah Rp 50.000,- per edisi. Terserah pengelolanya untuk ngubetke, dengan syarat minimal semua KK di TKH mendapat 1-exp. Karenanya, tentu kami mencari fotocopy yang agak miring tarifnya, meskipun sering kuciwa karena tak seindah aslinya yang cetakan HP. Pertimbangan biaya pula yang menyebabkan berubahnya pilihan kertas. Semula A3 (double kuarto), sekarang cukup A4 (kuarto) 80 gram dengan hanya sampul saja yang double kuarto. Oom Nardi yang sekarang juga pengelola buletin UNS tentu mempertimbangkan pula pilihan jenis kertas ini, karena harga kertas sekarang mendahului UMR (Iho, apa kaitannya, ya?).

Setelah selesai dicopy, tugas sortir (mengurutkan halaman per halaman) kadang-kadang dibantu pegawai kedai copy. Kalau kerjaan mereka banyak, ya musti disortir sendiri, lalu distaples pada lima posisi (biar kuenceng). Langkah selanjutnya adalah mengelem sampul. Semula saya pikir langkah-langkah ini masih konvensional, tapi ternyata di percetakan pun caranya juga begitu. Waktu yang diperlukan sejak menyortir, menjilid, kemudian memberi alamat pada sampul-sampul sekitar 2-3 jam kalau Adit atau Rizka nggak rewel.

Pihak lain yang juga sangat diperlukan dalam distribusi adalah Pos. Dengan label”BARANG CETAKAN” pada sampul yang dibuat dari continuous form seperti pada edisi Okt-Des 94, plus prangko cuma Rp 200,- kami merasa belum sreg, apakah buletin sampai di tangan Anda dengan selamat. Sidoarjo complain, tidak terima edisi Nov-Des 94. Padahal masing-masing 3 set. Demikian pula Bu Puh Noek untuk edisi November. Untuk menghindari kasus kehilangan semacam itu terulang, keluarga mas Dr. Suprapto telah mengirim amplop khusus seperti penerbitan media asing (wah, maturnuwun Iho!)

Kapan mengerjakannya?

Semua orang mengeluhkan kesibukan masing¬masing, apalagi yang sedang giat cari duit. Mengelola buletin pasti membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.. eh, pikiran juga (masak ngarang nggak pakai mikir?). Saya sendiri -seperti saya tulis dalam beberapa editorial- mengerjakan buletin sak kobere. Pagi sekitar 7.30 sampai 18.00 praktis untuk kantoran. Sampai di rumah bercanda dengan anak-anak sampai kira-kira pukul 21.00, kadang bisa disambi nonton TV atau baca koran. Setelah anak-anaktidur baru bisa pijit-pijit (tombol keyboard, maksudnya…). Kalau lagi mood atau kalau ada order setting ya bisa sampai larut melotot di depan monitor. Setelah subuh kami jarang berolahraga. Saya tugas pembersihan, lin bagian bayi-bayi. Biasanya begitu, meskipun ada pembantu. Baca koran paling kalau jam istirahat kantor, atau kalau libur minggu, sekalian menyalurkan hobi saya yang lain: klipping. Nonton bioskop ya.. kadang-kadang. Masih ada sisa waktu untuk jadi anggota perpustakaan wilayah juga (meskipun didenda melulu karena sering telat mengembalikan).

Karenanya, sebisa mungkin kami tidak menunda. Misalnya ada kiriman naskah, paling tidakmalam harinya sudah diketik ulang, sehingga tidak menumpuk. Begitu pun saya masih sempat me-redaktur-i buletin perusahaan yang dinamai “What’s On in Semarang” (terbit triwulanan dan sudah memasuki tahun edar ketiga).

Ya, begitulah kira-kira gambaran sederhana proses terbitnya buletin TKH yang selalu terlambat terbit selama kami kelola. Tentu saja tanpa peranserta Anda, baik sebagai pembaca pasif, pembaca aktif, penulis aktif, maupun sebagai ‘penggembira’, buletin ini talk akan panjang umurnya. Oleh karenanya, agar buletin yang sudah lebih dari se-dasawarsa usianya ini dapat terus beredar, sumbangan Anda sangat dinantikan, baik berupa kritik, naskah, data maupun… dana (Iho…. kokbuntutnya begitu, ya?!). Sekian dulu, mudah-mudahan ada yang berkenan membagi wawasan dan pengalaman agar Buletin ini semakin bermanfaat bagi paguyuban kita.

Wassalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: