Orek-orekan Dwi Pramono

Home » opini » Rumah Pusaka

Rumah Pusaka

Blog Stats

  • 56,544 hits

Archives


Ariani tentang Rumah Pusaka

Diskusi tentang rumah pusaka Gondowijayan lagi marak diantara generasi pertama, setelah meninggalnya Eyang Peni. Dari informasi yang sampai ke saya, beberapa alternatif yang dipikirkan adalah menawarkannya untuk ditinggali oleh keluarga dalam Trah, menawarkannya untuk dijual kepada keluarga dalam Trah, menjadikannya museum, dan menjualnya ke orang di luar Trah. Mungkin juga ada kesalahan dari info yang saya dengar ini, bila iya, mohon koreksinya.

Sehubungan dengan alternatif-alternatif tersebut, saya ingin berpendapat, boleh dong ya..sebagai salah satu anggota Trah. Menurut saya, rumah pusaka sebaiknya tidak dimiliki oleh orang-per-orang dalam Trah, apalagi dijual ke orang di luar Trah.

Bagaimanapun itu adalah cikal bakal adanya keluarga besar ini, akar dari Trah. Dikatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah, dan sebagai manusia supaya tidak lupa kacang akan kulitnya, juga untuk bisa maju kedepan seseorang harus tahu darimana tempat dia bertolak. Bagi saya disitulah letak pentingnya keberadaan rumah pusaka. Alangkah baiknya apabila rumah itu tetap menjadi milik yayasan Trah. Ditinggali, dirawat, dan dipelihara oleh seorang penunggu, yang dibayar untuk membersihkan, merawat, menjaga rumah pusaka, serta melayani keperluan anggota Trah yang datang ke rumah itu dari waktu ke waktu. Penunggu ini dalam bayangan saya hak dan kewajibannya seperti umumnya penunggu villa.Untuk menggajinya mungkin dari sumber dana yayasan atau bisa dipikirkan bersama kemudian, karena kita semua tentu merasa ikut memiliki rumah pusaka ini.

Saya pribadi, sekarang telah berkeluarga, ingin mengajak anak saya kesana, menunjukkan rumah, loteng, barang-barang, foto-foto, sambil menceritakan hal-hal kecil yang dulu diceritakan Yangti pada saya tentang Yangyut. Demikian pula saya harapkan seterusnya keturunan saya.

Dalam bayangan saya, rumah pusaka sehari-harinya mungkin akan menjadi tempat mampir, mungkin minum sejenak, beristirahat, bagi masing-masing anggota keluarga besar Trah bila kebetulan mengunjungi atau melewati Solo dalam perjalanan. Namun bila waktu sadranan tiba, rumah itu akan ‘hidup’ dengan segala aktivitas sadranan. Tidak tertutup kemungkinan akan ada kegiatan-kegiatan lain yang akan menghidupkan dan bisa diadakan rumah pusaka di waktu-waktu tertentu.

Bagaimana menurut para anggota mailing-list Trah ini yang lain? Mari ramai-ramai berpendapat dan kita pikirkan bersama, mari merasa ikut memiliki. Selain itu, mungkin diantara anggota mailing list ini ada yang bisa menyampaikan pendapat dari anggota-anggota mailing list ini kepada pengambil keputusan, atau forum pengambilan keputusan..karena saya tidak tahu kapan nasib rumah pusaka ini akan ditentukan, atau bagaimanakah nanti mekanisme pengambilan keputusannya.

Akhir kata, menurut saya sebenarnya mungkin yang penting, rumah pusaka akan selalu ada saat para anggota Trah membutuhkannya, selalu bisa menjadi tempat kembali bagi kita semua, saat kita ingin merenung akan kemana lagi dalam hidup ini..

Ariani Ratri Dewi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: