Bench Marking terhadap Manajemen Sak Kobere
18 Aug 2008 Leave a Comment
in Kolom Tags: manajemen sak kobere, slamet budiono
[Oleh Slamet Budiono (6.2.8.0) Media Sastrorejan No. 2 Th. 1, Triwulan IV/1995]
.
Boleh percaya boleh tidak, sebagian anggota Dewan Redaksi “MS” merasa penasaran tentang sosok mas Dwi, redaktur Buletin Trah Kartoamijayan. Mereka yang penasaran, di antaranya mas Sukanto, mas Indartono, dan saya sendiri. Sedangkan pak dhe Edi dan mas Anton, karena pernah ketemu jadi ya nggak penasaran.
Sebenarnya yang membuat kami penasaran adalah kiat untuk mengelola Buletin TKH yang terbit tiap bulan, mulai mengetik, mengedit, memperbanyak, dan mendistribusikan hanya dikerjakan berdua oleh mas Dwi dan mbak Iin.
Selama saya menerima Buletin TKH yang saya lakukan cuma membaca, membandingkan gaya penulisan dan tentunya pesan dari tulisan itu sendiri. Lama-lama, setelah baca artikel “Manajemen Sak Kobere”.. waah, tak terbayangkan. Apanya?
Giliran saya diminta untuk membantu pak dhe Edi, rasanya saya tidak optimis. Saya tidak punya keahlian menulis, mengedit, apalagi mengelola. Hal ini sudah saya utarakan pada pak dhe, tetapi beliau tetap nekad memaksa saya, sehingga hak asasi saya berkurang sebagian (gimana ya, apa saya boleh demo ke Komnas HAM perihal ini).
Terus, diam-diam saya berusaha belajar mencontek gaya tulisan pak dhe Edi dan mas Dwi. Saya baca berulang-ulang, tetapi tetap saja hasilnya jauh panggang dari api. Frustasi, saya gagal menggabungkan gaya kedua tulisan.
Terus ceritanya saya ingin merguru langsung menemui mas Dwi di Semarang, mumpung ada perintah jalan-jalan ke Madura dari perusahaan Sayang, sampai di Semarang sudah capek. So, lain kali sajalah Akhimva, bablas saja ke Bandung
Teringat sekitar tahun 1980 Arswendo Atmowiloto pernah menerbitkan bukunya, kalau tidak salah judulnya “Menulis Itu Mudah”. teman saya pernah mempunyai buku itu, tetapi waktu itu saya tidak tertarik untuk membaca atau meminjamnya, karena toh nggak bakalan menulis di suatu buletin. Ternyata, jare sopo mudah? Mengarangnya saja susah, mengeditnya juga susah. Jadi, jangan-jangan yang membaca malah bertanya-tanya, “Apa Iki karepe?”
Mungkin Anda kenal istilah “Bench Marking”, yaitu mengukur kemajuan (posisi) kita berdasarkan kemajuan (posisi) orang lain. Singkat kata, nyontek, lah! Contek menyontek ini ternyata menjadi mode, terutama bagi perusahaan yang ingin memenangkan kompetisi. Perusahaan tempat saya bekerja dalam hal tertentu juga nyontek dari perusahaan sebelahnya. Perusahaannya Fadel Mohammad (PT. Bukaka) konon sewaktu memproduksi alat pemadam kebakaran juga menyontek produk buatan Jepang.
Salahkah? Nanti dulu! Saya nyontek karena terpaksa, demi perintah atasan. Perusahaan tempat saya bekerja menyontek karena supaya tidak ketinggalan. Perusahaannya pak Fadel menyontek konon karena barang yang dicontek sudah dibeli, sehingga kalau mau dibedhel, dipotret dalamnya, terus diperbaiki lagi, wong itu sudah ‘hak miliknya’.
Soal Hak Cipta? Wah, jangan tanya soal itu. Kalau saya harus bayar royalti ke pak dhe Edi dan mas Dwi , susah jadinya. Menjadi penemu (inventor) memang sangatlah sulit. Kalau tidak sulit ya kemungkinan memerlukan biaya dan waktu yang relatif besar/lama, baik itu untuk percobaan maupun litbang.
Yang jelas, niatku belajar!
Artikel terkait : Manajemen Sak Kobere
Recent Comments