Family Gathering Forsino
09 Sep 2009 Leave a Comment
in kini Tags: asrama realino, Bolsius
Setelah reuni 2008 di Semarang, tahun ini family gathering Forsino diadakan di Lembang-Bandung, 8-9 Agustus 2009. Sekitar 160 orang alumni dan keluarga hadir, dari angkatan 1954 hingga angkatan bungsu 1989. Kali ini angkatan 1980-an nampak mendominasi.

Nemu foto jadul
09 Dec 2008 6 Comments
in Album Tempo Doeloe, kini Tags: Ardina Purbo, asrama realino, Puri Sri Hadiati, Rinjani, Segara Anakan, Sunyoto
Di halaman facebooknya, Ardina Purbo (sepupu Onno W. Purbo) menandai foto jadulku. Ini foto kami bertiga (Dina, Nyoto, Yudi) yang waktu itu (1983) lulus tercepat jenjang sarjana muda (masih ada waktu itu) di Geografi UGM.* Kejutannya adalah, aku belum pernah lihat foto ini sebelumnya dan pasti tidak ada dalam koleksi fotoku. Maka aku minta ijin Dina untuk mengunduhnya. Tahu sebabnya? Ini kenangan waktu rambutku masih banyak
dan –aku lupa– ini difoto pas ngapain kok aku bisa ketawa ngakak begitu sambil pegang bola basket.
Jauh dikenang, dekat disayang
16 Oct 2008 2 Comments
in kini Tags: a. ramlie, asrama realino, jauh dikenang dekat disayang
Sudah beberapa kali menjadi panitia reuni dari beberapa paguyuban yang berbeda-beda, kalimat “Jauh dikenang, dekat disayang” tetap menjadi favorit saya untuk dipasang di banner, spanduk, maupun media lain. Tentu bukan ide original saya, karena slogan tersebut –kalau tidak salah– pernah dipakai di dies natalis dan reuni Asrama Realino tahun 80-an waktu saya masih tinggal di sana.
Kalimatnya sederhana tapi bisa menggambarkan suasana hati yang merindu. Bisa antara dua insan yang sedang “yang-yangan” (pacaran), bisa juga menggambarkan kerinduan sahabat lama yang lama tidak saling jumpa, atau bahkan lebih luas lagi kerinduan alumni terhadap almamaternya. Kalau jauh dikenang-kenang, saat dekat disayang-sayang. Wah, kalau saya jago bercerita, mungkin bisa mengembangkan cerpen atau bahkan novel dari sepenggal kalimat tersebut.
Aslinya, (ternyata) slogan yang sering saya kutip itu adalah judul lagu jadul tahun 60-70′an yang dinyanyikan A. Ramlie (siapa beliau? Saya belum sempet cari biografinya. Tapi kalau lihat judul-judul lagu A. Ramlie yang lain mungkin beliau dari Sumatera atau Malaysia). Ceritanya menggambarkan kerinduan sepasang kekasih yang berpisah karena sang pria mengembara mencari nafkah, istilah tempo doeloenya: “mencari pegangan hari muka”…
. Dari kapanlagi.com, melihat liriknya lagu ini dinyanyikan duet (bersama Maria Bachok… siapa lagi, tuh?).
[ P ] : Bila kesunyian | Kurasa terharu | Terkenang padamu | Yang jauh dari ku
[ L ] : Bersabar manisku | Tenangkan hatimu | Bila sampai waktu | Kita kan bertemu
[ L ] : Kini ku dah jauh mengembara | Mencari pegangan hari muka
[ P ] : Kuharap selalu terunaku | Kirimkanlah berita kepadaku
[ L ] : Janganlah bimbang | Gadisku sarang (seorang?) | Hanyalah padamu | Kau tetap kukenang
[ P ] : Damailah rasanya | Seluruh jiwaku | Mendengar katamu | Berjauh dikenang | Oh dekat disayang
[ P ] : Kau mencari pegangan hari muka | Ku doa semoga kau berjaya |
[ L ] : Tabahkan hatimu hai gadisku | Setia menanti aku pulang |
[ P ] : Kurela menunggu | Dengan penuh rindu | Hidup ku pun riang | Tiada lagi bimbang
[ L ] : Abadi hendaknya | Cinta dan impian | Harapan bersama |
[ L & P ] : Berjauh dikenang | Oh dekat disayang |
Pencarian di youtube maupun link permusikan yang lain, belum menemukan seperti apa lagunya, meski banyak lagu lain A. Ramlie di Youtube atau situs musik lain. Penasaran saja, sih. Eniwei, rasanya tidak berlebihan kalau saya harus berterimakasih pada penggagas istilah “Jauh dikenang, dekat disayang” yang sering saya pakai dan kutip tersebut.
.
Recent Comments