* tiba-tiba ingat randu alas Siranda saat nemu foto jadul anak-anak
.
Pohon Randu alas (Bombax malabaricum/Gossampinus heptaphylla) pada jaman nenek moyang kita dulu dipakai sebagai penanda musim, karena sangat sensitif terhadap perubahan musim. Kalau pohon Randu alas mulai menggugurkan daunnya, berarti kita akan mulai memasuki musim kemarau. Saat pohon Randu alas berbunga, berarti kita sudah berada di puncak musim kemarau dan saat pohon Randu alas mulai bersemi dengan hadirnya tunas-tunas daun baru, berarti kita akan mulai memasuki musim penghujan.
Tinggi pohon ini bisa mencapai 45 meter dan diameter hingga 4 meter. Paling tidak ada dua pohon randu alas besar di Semarang yang saya ingat. Satu di tikungan Tanah Putih, yang entah tahun berapa tumbang hampir menimpa teman saya, Apriadi Ujiarso yang saat itu masih kecil. Sedangkan satu lagi di Siranda (Jl. Diponegoro) yang sempat menjadi penanda kota. Kedua-duanya saat ini sudah tidak dapat kita jumpai lagi dan tinggal kenangan.
Randu alas yang di Siranda memberikan kenangan tersendiri bagi saya. Saat itu setiap hari paling tidak kami 5-6 kali melewatinya, karena merupakan rute antar jemput anak-anak kami sekolah. Sebelum 2004 pohon Randu Alas di Siranda ini masih tinggi, banyak dahan dan rantingnya. Namun –mungkin karena– jatuhan dahan membahayakan pengguna jalan sehingga akhirnya dipangkas menjadi 13 meter.
Mei 2004, Seniman Sanggar Seni Gedong Songo memahat dan melukis batang pohon itu dengan tema ”Tunggak Semi Agawe Asri” yang menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat Kota Semarang yang merupakan akulturasi antara budaya pesisir dan agraris, dan divisualisasikan melalui ukiran petani membajak sawah dan nelayan menebar jala.
Lukisan dan pahatan pada pohon tersebut dicatat dalam rekor MURI dan didaftarkan ke Guinness Book of World Record di tengah kontroversi masyarakat yang tidak setuju pohon tersebut dipahat atau dilukisi. Luar biasa, hanya 5 hari para seniman itu menyelesaikan pahatan hingga pengecatannya.
Dhita, Rizka, Rian (anak-anak kami) sempat berfoto di bawah pohon randu alas monumental tersebut. Dhita masih kelas 6 waktu itu.
Sayang, hanya sekitar satu setengah tahun kemudian, randu alas berukir ini akhirnya ditebang habis (16/01/2006). Pertimbangan keamanan memang yang paling diutamakan, dan memang setelah ditebang ditemukan bagian dalam pohon sudah keropos, menunggu waktu saja untuk roboh.
Hilangnya Randu alas Siranda menandai berkurangnya pohon besar (diameter 3-5 meter) di kota Semarang. Tunggak-tunggak semi yang baru ditanam di pelosok kota, masih terlalu muda untuk mengganti. Entah berapa puluh tahun lagi, anak-anak kita bisa menyaksikan pohon besar tumbuh di tengah kota.