Archive for November, 2008|Monthly archive page
Grafologi
Dari cara orang berjalan, ada yang bisa menebak bagaimanakah sifat dan watak orang tadi. Dari raut muka seseorang, ada pula yang bisa menebak karakternya secara umum. Tiap orang mempunyai “gaya jalan” dan “raut muka” yang spesifik, dan itulah yang bisa menghasilkan kesimpulan tertentu. Kebudayaan Jawa juga kenal ilmu yang bisa menyimpulkan bagaimanakah watak orang dari bentuk tubuhnya, bentuk hidungnya, bahkan dari hari kelahiran (weton)-nya.
Demikian pula tentang Grafologi atau Ilmu Tulisan. Para psikolog (ahli jiwa, berbeda ahli penyakit jiwa atau psikiater), dengan keahliannya dapat membuat kesimpulan watak dan kemampuan orang berdasarkan tulisan. Tentu saja grafologi tidak dapat digunakan sebagai sarana memberikan gambaran masa depan seseorang (meramal). Namun, grafologi dapat memberikan gambaran mengenai cara seseorang memandang diri dan masa depan serta kecenderungan perilaku yang belum diketahuinya saat ini, namun ternyata ada dalam dirinya.
Eyang Duwiek
Semalam [24.11.2008] mbak Nuning Soegono (5.1.1.0.) mengabarkan, dalam waktu dekat akan mantu cucu. Informasi ini selain membahagiakan juga “menyadarkan” betapa saya (yang segenerasi mbak Nuning meski beda usia jauh) sudah masuk kategori menjelang usia senja. Sebenarnya bukan hal yang aneh di lingkungan keluarga besar Sastrorejan. 15 tahun yang lalu pun saya sudah (boleh) disebut eyang, karena mbak Susilowati (6.1.1.0) sudah bercucu. Saya temukan tulisan jadul saya di Buletin TKH Oktober 1994, dan saya post ke blog untuk arsip digital.
.
Evin Fetih Razanti (6.1.1.1.1.), 12 November 1994 ini merayakan ulangtahunnya yang pertama. Siapa Evin? la adalah cucu pertama dari keluarga ‘dik’ Soeroso (mantan direktur PDAM) di Magelang, dan karena ‘awu’-nya, maka saya kepernah eyangnya Evin juga. Dalam pengertian ini, kalau suatu saat nanti Evin jurnpa dengan saya, maka ia (seharusnya) memanggil saya Eyang. Begitu juga kepada Dhinar, ragilnya Oom Nardi yang masih sekolah di SD. Kepada Adit-anak saya yang masih sama-sama balita- ia akan memanggil bu dhe. Lalu, eyang buyutnya? Byuh, betapa banyaknya eyang buyut Evin….
Kambing Hitam
Kita hidup dalam suatu masyarakat yang suka mencari “kambing hitam”, dan salah satu kalimat favorit kita adalah: “Itu bukan salahku.” Selalu ada alasan untuk pembenaran diri dan menyalahkan orang atau keadaan bahkan masa lampau atas kegagalan yang kita alami.
Mengapa disebut kambing hitam? Kambing hitam dalam cerita ini memang bukan kambing betulan, tapi sekedar kata kiasan. “Mencari kambing hitam” atas kegagalan kita mungkin terpola akibat didikan orangtua atau lingkungan pada masa kecil kita. Banyak contoh dalam masyarakat kita yang mempersalahkan sesuatu yang (sebenarnya) tidak salah dalam suatu kejadian. Contoh kecil saja, misalnya seorang anak jatuh, ibu atau bapaknya tergopoh-gopoh membantu si anak bangun seraya berkata, “Eh,…kodoke mencolot!” dan sebagainya.
Comments (5)
Comments (1)
Comments (4)