Archive for September, 2008|Monthly archive page

Dhita balita (about 1991-1995)

Belajar menyanyi bersama bu dhe. Wah, ekspresinya…

Ajar sekolah, bersama anak-anak TK Bhayangkari Akpol. Bus sekolah “jadul” peninggalan jaman baheula, masih dipakai saat Dhita beberapa tahun kemudian jadi murid TK tersebut.

Ajar sinau, ditemani “Dino” boneka setia (masih disimpan sampai 2008)

Nomor Induk Sastrorejan

Ditulis oleh : Dwi Pramono (3.8.2.0), Media Sastrorejan, edisi I/2000

.

Lima tahun yang lalu -Juli 1995- pada terbitan perdana Media Sastrorejan, telah dipublikasikan istilah-istilah yang banyak dipakai di lingkungan Trah Sasrorejan. Lima tahun telah berlalu, tentunya banyak tambahan anggota yang perlu memperoleh informasi mengenai istilah-istilah ini.

Nomor Induk Sastrorejan (NIS) *

Sistem penomoran ini pertama kali diperkenalkan oleh Bapak Suparto (3.3.0.0) dan dipublikasikan melalui Buletin Trah Kartoamijayan Edisi Maret 1989. Secara ringkas sistematika penomoran tersebut adalah, tiap anggota (keturunan) eyang buyut R. Sastrorejo mendapat nomor yang terdiri atas deretan angka dan simbol. Keturunan tidak langsung (menantu, cucu menantu, dan seterusnya) diberi tambahan simbol “+” di belakang nomor (suami)-nya.

,

Generasi kesatu

Yang disebut generasi ke-1 adalah putra-putri almarhum eyang buyut R. Sastrorejo yang berjumlah 9 (sembilan) orang dan masing-masing mendapat pencatatan nomor registrasi sebagai berikut

  • 1.0.0.0 : R.H. Moh. Saleh Tjokrodimejo
  • 2.0.0.0 : R. Abdullah Rasad Kartomihardjo
  • 3.0.0.0 : R. Sukarto Kartoamijoyo
  • 4.0.0.0 : R. Arismunandar
  • 5.0.0.0 : R. Abdurrachman Wirjosukarto
  • 6.0.0.0 : R. Achmad Wirjosukarto
  • 7.0.0.0 : R. Moh. Irsad Wiryosukarto
  • 8.0.0.0 : R. Yachya Wirjosukarto
  • 9.0.0.0 : Rr. Asiyah

.

Generasi kedua adalah cucu-cucu dan cucu menantu eyang buyut R. Sastrorejo atau anak-anak dan anak menantu dari generasi kesatu. Contoh : Oom Abdulhadi (5.2.0.0) adalah putra dari Eyang R. Abdurrachman Wirjosukarto (5.0.0.0). Ibu Sekaringsih (istri Oom Abdulhadi/menantu dari Eyang Abdurrahman diberi nomor registrasi 5.2.0.0.+). Generasi ketiga adalah para buyut dan buyut menantu eyang buyut R. Sastrorejo. Contoh So Grace King (3.4.1.4.+) adalah menantu dari mas Wahjudi Prajitno (3.4.1.0.+)

Rumpun

Adalah istilah yang digunakan untuk menyebut keluarga besar atau putra wayah (anak cucu) dari generasi pertama. Misalnya Rumpun Yachya, berarti seluruh putra wayah dari Eyang Yachya. Ketua Rumpun adalah sesepuh dari rumpun tersebut, misalnya pak puh Suparto (3.3.0.0) adalah Ketua Rumpun Kartoamijayan.

.

Sentra

Adalah suatu wilayah pengelompokan domisili para anggota Trah Sastrorejan, Misalnya yang dimaksud dengan Sentra Bandung adalah semua anggota yang bertempat tinggal di wilayah Bandung dan sekitarnya. Sentra yang lain misalnya Sentra Jakarta, Sentra Solo, dan seterusnya. Ketua Sentra adalah koordinator wilayah/sentra tersebut. Misalnya mas Dr. Hadi Wibowo adalah Ketua Sentra Semarang.

.

* Sistem registrasi yang disusun oleh Bapak Suparto ini ternyata mirip dengan d’Aboville System, yang diperkenalkan oleh Jacques d’Aboville (1940) dalam genealogical numbering system. Modifikasinya adalah penambahan karakter “+” (plus) untuk kelompok menantu, “+.+” untuk pernikahan kedua (mis. istri pertama wafat).

Dhita di TK, 1996

Dhita paling lama menikmati masa pra sekolah. Dari umur 2 tahun sudah diikutkan play group, di TK 3 tahun. Karena tinggal dekat Akpol, kami sekolahkan Dhita di TK Bhayangkari Akpol. Berangkat bersama anak2 kampung sekitar dengan bus “jadul” Akpol (sekarang sudah dimusiumkan).

Teman-temannya suka main luncuran dan ayunan, Dhita malah senang panjat bola besi. Kata ibunya, “aku dhek cilik senengane yo penekan wit pelem.” Bakat menurun?

Piknik sekolah ke Prambanan. Kesukaan mejeng di depan kamera sudah kelihatan.

Ekpresinya beda, kan? “Kamera bapakku kok dipake orang?”
(minta tolong tukang foto keliling untuk ambilkan gambar ini)

Di depan kandang jerapah, di Gembiraloka

Next Page »